Mocopat Syafaat

Placeholder
Komunitas

Dinamika Komunitas

Komunitas adalah wadah bagi beberapa atau banyak orang yang saling berkumpul dan berguyup atas dasar kesamaan. Kesamaan itu bisa oleh nilai yang … Keep Reading

  • JAMAN EDAN

                                                                                                                            –dari Serat Kalatidha karya R. Ranggawarsita   Hamenangi jaman edan Ewuh aya ing pambudi Melu ngedan nora tahan  … Keep Reading

  • Jelang Ihtifal Maiyah

              Bulan Mei 2016 merupakan bulan spesial bagi Jamaah Maiyah Nusantara. Bukan hanya karena sebulan lagi memasuki bulan Ramadhan, akan… Keep Reading

Dinamika Komunitas

in Komunitas by

Komunitas adalah wadah bagi beberapa atau banyak orang yang saling berkumpul dan berguyup atas dasar kesamaan. Kesamaan itu bisa oleh nilai yang dianut, kesamaan hobi, kesamaan minat, kesamaan pergerakan, kesamaan nasib, kesamaan daerah, kesamaan perjuangan dan kesamaan-kesamaan yang lain.

Sebagai komunitas yang memiliki kesamaan-kesamaan tidak dipungkiri bahwa di dalamnya pun ada keberagaman skill dan karakter. Bermacam-macam model sifat manusianya, beda kepentingan, beda maksud dan tujuannya dalam berkomunitas dan sekian perbedaan-perbedaan lain, misalnya.

Ada yang berkomunitas untuk berkontribusi tapi juga ada yang berkomunitas dalam rangka mencari ketercapaian kepentingan. Perbedaan kepentingan itupun juga wajar-wajar saja terjadi di dalam sebuah komunitas. Beda kareb, beda keinginan, beda pemikiran, semuanya adalah potensi dan kekayaan dari komunitas.

Namun begitu jika tidak dikelola dengan baik maka perbedaan kepentingan tersebut pada deviasi langkah kesekian bisa saja menjelma menjadi konflik. Maka dalam komunitas apapun, manajemen komunitas memiliki peran yang cukup signifikan untuk menjaga keberlangsungan dan berjalannya sebuah komunitas.

Manajemen Komunitas

Manajemen itu bisa jadi tertulis dan terstruktur namun juga bisa tidak tercatat tetapi menjadi sebuah kesadaran bersama. Manajemen ini terkait siapa saja yang bisa dan boleh ikut gabung, strategi yang dipakai komunitas ke depan, manajemen konflik, prosedur apa saja yang berlangsung di dalamnya, pola hubungan antar subyek dalam komunitas, pengelolaan motif individu maupun motif bersama, penentuan tujuan bersama dlsb.

Dalam sebuah komunitas pada awalnya bersifat bebas. Artinya bebas mau ikut join atau tidak. Tetapi kalau sudah join maka ada kesepakatan-kesepakatan dan komitmen yang mesti dijaga. Ada tata kelola “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Maka diperlukan kesepakatan bersama untuk membuat aturan mainnya. Salah satu implementasi dari aturan itu bisa berwujud sebuah komitmen. Masing-masing secara sadar mengikatkan diri pada komunitas yang sudah dipilihnya. Komitmen itu pada akhirnya yang menjadi energi untuk menjalankan kegiatan dalam komunitas. Seberapa kuat atau longgarnya sebuah komitmen tersebut ditentukan oleh orang-orang di dalam komunitas.

Dalam sebuah komunitas peran pemimpin dalam menjalankan peran manajemen sangat menentukan. Sebab pemimpinlah yang sedikit banyak akan menciptakan jenis “iklim” seperti apa yang berlangsung dalam komunitas. Pemimpin itu merupakan hasil kesadaran bersama warga komunitas untuk memilih seseorang beberapa orang sebagai penggerak jalannya mesin komunitas.

Pemimpin di sini bisa satu atau beberapa orang yang menjalankan peran kepemimpinan. Selanjutnya antara yang dipimpin dengan yang memimpin, seperti apa pola komunikasinya, alur komandonya, prosedur pelaksanaan suatu mandatnya. Komunikasi yang baik sangat diperlukan dalam urusan pelaksanaan suatu misi komunitas. Tanpa terjalinnya komunikasi yang baik akan banyak menimbulkan prasangka buruk, suudzon, yang dalam langkah ke depannya sangat dimungkinkan akan melahirkan konflik-konflik yang lebih meluas dan merata. Pun sebenarnya konflik-konflik model seperti itu dapat dihindari ketika komunikasi dapat berjalan dengan baik.

Namun demikian seandainya konflik sudah terjadi dan tidak lagi bisa dihindarkan maka diperlukan upaya-upaya penyadaran. Idealnya, suatu komunitas lahir memiliki inti di dalamnya sebutlah itu “inti pengabdian”. Inti pengabdian ini adalah akar dari sebuah pergerakan komunitas. Nilai yang diyakini bersama, bahwa apapun benturan, gesekan, ketidakcocokan yang terjadi harus dikembalikan pada ranah inti pengabdian itu tadi. Bahwa kita semua sama-sama mengabdi.

Adapun inti pengabdiannya itu bisa apa saja, kepada siapa saja, terserah orang-orang didalam komunitas yang menentukan. Seperti, ingat kita sama-sama pencinta kodok bencok, ingat kita sama-sama bismania, ingat kita sama-sama aremania, ingat bendera kita masih sama-sama merah putih, ingat kita sama-sama makhluk Tuhan paling WOW, ingat kita sama-sama Bhineka Tunggal Simbah, dlsb

Memang sih, bukan hal yang mudah untuk mempertahankan sebuah komunitas tetap ada. Wajar apabila pasang surut terjadi di dalam sebuah komunitas. Ada yang datang dan ada yang pergi. Ada yang cuma singgah, sekedar icip-icip dan ada pula yang berusaha menetap berjuang mati-matian mempertahankan tetap adanya komunitas. Ada yang menganggapnya sebagai “second home” tapi juga ada yang menganggapnya sekedar tempat “nggon selonjor” saja.

Adanya sebuah komunitas, mumpung masih ada, manfaatkan sebesar-besarnya, untuk kepentingan bersama. Bagus itu, kalau sampai pada kondisi yang bermanfaat. Sebuah komunitas sudah berhasil sebagai komunitas ketika komunitas tersebut mampu menjadi tempat belajar, tempat berproses, tempat bernaung bagi orang-orang yang terlibat didalamnya. Sebuah komunitas yang mampu menjadi ruang untuk tumbuh, yang menyediakan wahana bermain, ajang aktualisasi diri, tempat berkreasi dan tempat berbagi. Minimal untuk penghuni di dalam komunitas itu sendiri, sokor-sokor melebar ke kanan kirinya. Bisa bermanfaat bagi orang atau komunitas lain disekitarnya.

Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan sebuah komunitas mending dibubarkan, ketika lebih banyak mudhorot daripada manfaatnya. Siapa penentu manfaat atau mudhorotnya? Tidak lain adalah orang-orang di dalam komunitas itu sendiri.

Sekedar menjalankan Peran dan Fungsi

Dalam suatu komunitas sudah pasti akan terbagi menjadi beberapa bagian penting. Bagian yang didasarkan oleh perbedaan peran dan fungsi.

Ibarat sebuah tubuh maka di dalam komunitas ada yang berperan sebagai kepala, ada yang berperan sebagai tangan, ada yang berperan sebagai kaki dlsb. Kesadaran masing-masing terhadap perannya akan mempermudah berjalannya kegiatan dalam komunitas.

Sebaliknya tidak sadar peran hanya akan menimbulkan benturan-benturan dan tersendatnya gelinding roda kegiatan komunitas. Bayangkan saja jika tangan dan kaki bergerak sekehendak sendiri, tangan mau ke Yogya, kaki maunya ke Solo, kepala maunya diam saja. Wah bisa pating-penthalit nantinya, serba tidak karuan. Kepala, tangan, kaki dan semua bagian yang lainnya berposisi sejajar yang membedakan hanya soal peran dan fungsi saja.

Jadi yang jadi kepala ya ndak usah mbagusi karena berada diatas, eling kepala itu tanggung jawabnya paling besar, sebaliknya yang jadi kaki juga tidak perlu merasa minder karena di bawah, sebab tanpa kaki tubuh tidak bisa berjalan. Maka positioning masing-masing anggota komunitas harus disadari terutama terkait peran dan fungsi dari posisi itu tadi.

Sebaik-baik komunitas adalah yang paling bermanfaat untuk orang atau komunitas yang lain. Dan seindah-indah komunitas adalah yang warganya mampu bersyukur kepada Sing Nggawe Urip karena sudah diperkenankan untuk berkumpul, berguyup,bergembira bersama dan berkomunitas ria.

​​Pengantar Silaturahmi Jamaah Maiyah Yogya: Sinau ‘Alif Ba Ta Kahanan’

in Redaksi by
wpid-wp-1479859726851.png

Berdasarkan uraian Simbah Muhammad Ainun Nadjib dalam tulisan berjudul Ummat Islam Dijadikan Gelandangan di Negerinya Sendiri, ada beberapa poin penting yang bisa kita ambil. Antara lain kondisi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) saat ini dan esok hari. Yakni adanya pihak-pihak yang serakah yang kini berusaha menguasai, bahkan esok hari akan menjajah total NKRI.

Dan untuk menghadapinya, bukan dengan cara gegabah, tanpa perhitungan. Simbah Muhammad Ainun Nadjib menegaskan bahwa perjuangan kita untuk menghadapi hal itu harus dengan jurus jalan panjang. Yakni diantaranya dengan mulai menyusun tradisi budaya kependidikan Ta’limul Islam, Tafhimul Islam, Ta’riful Islam, Tarbiyatul Islam hingga tertradisikan Ta`dibul Islam. 

Berkaitan dengan hal itu, pada acara Silaturahmi Jamaah Maiyah Yogya (24/11) esok, kita memulai dari hal-hal kecil terlebih dahulu. Yakni mulai belajar mengidentifikasi kembali informasi-informasi apapun itu. Baik informasi yang sudah lama kita percayai maupun informasi-informasi yang lalu-lalang di hadapan kita. Jika informasi tersebut ibarat air, maka kita harus paham betul; mana yang kategori air mutlak, air musta’mal, hingga air yang mutanajis. Sehingga ibarat informasi tersebut digunakan untuk ‘bersuci’, informasi tersebut benar-benar informasi yang ‘suci juga mensucikan’.

Dengan demikian, berbekal hal itu, kita juga bisa mulai menata kembali sikap maupun positioning baik secara individu maupun kesatuan Jamaah Maiyah Nusantara. Untuk itu, kami mengajak kembali sedulur-sedulur dalam acara Silaturahmi Jamaah Maiyah Yogya.

​”Musyawarah Darurat Ummat Islam Indonesia” dan “Majelis Darurat Permusyawaratan Rakyat Indonesia”

in Komunitas by

Terhadap banyaknya pertanyaan dari masyarakat luas tentang situasi mutakhir tanah air, berikut jawaban dan pendapat kami:
Sampai 71 tahun merdeka, rakyat Indonesia semakin didera masalah. Dihimpit, dibelit, dan dikurung kompleks persoalan-persoalan. Dan berhubung mayoritas warganegara Indonesia adalah Ummat Islam, maka merekalah yang paling menderita. Pada tahun 2016 ini mereka bukan hanya semakin menderita secara ekonomi, tapi diposisikan terhina secara politik, kemanusiaan, dan keagamaan. 

Dari tahun ke tahun rakyat Indonesia dan Ummat Islam berjuang untuk tetap optimis dan bersabar. Dari Pemerintahan ke Pemerintahan rakyat dan ummat berupaya untuk tetap tidak berputus asa dan bangkit. Akan tetapi, harapan-harapan itu selalu saja berujung pada kekecewaan. Persoalan tidak kunjung terurai bahkan semakin bertambah kusut dan saling silang sengkarut. Skalanya pun tidak hanya harta benda Negeri mereka yang semakin dikikis, tapi juga martabat kebangsaan dan harga diri kerakyatan mereka semakin diinjak-injak dan diperhinakan.

Di bidang ekonomi, kekuatan produksi rakyat harus bertarung bebas dengan raksasa kapital yang menindas. Sehingga tingginya angka kemiskinan, meningkatnya jumlah pengangguran, dan semakin lebarnya kesenjangan penguasaan aset rakyat kecil dibanding segelintir taipan besar merupakan potret nyata kondisi masyarakat Indonesia hari ini. Belum lagi di bidang sosial budaya. Hancurnya norma susila, kandasnya moral etika, dan lunturnya karakter adiluhung bangsa diperparah dengan rusaknya sistem pendidikan nasional yang semakin memperlemah kualitas manusia Indonesia. Konflik di segala lapisan masyarakat dengan berbagai luasan dan eskalasinya, semakin menyempurnakan keruwetan problem rakyat Indonesia. Tak terkecuali di bidang agama, politik, kesehatan, dan lain-lain seolah tidak cukup berlembar-lembar kita daftar satu per satu persolan yang membelit kehidupan Rakyat Indonesia.

Ummat Islam adalah mayoritas secara jumlah, tapi minoritas secara modal dan kekuasaaan. Ummat Islam mayoritas sebagai penduduk, tapi minoritas yang marjinal secara politik dan perekonomian. Kemudian semakin banyak di antara mereka yang menyadari bahwa mereka bukan hanya marjinal, tapi memang ada suatu desain besar yang sengaja secara strategis memarginalkan mereka. Mereka bukan hanya miskin, tapi memang dimiskinkan. Mereka bukan sekadar terperdaya, tapi memang diperdayakan. Semakin hari semakin merebak dan melebar kesadaran bahwa Ummat Islam memang sedang dilindas oleh semacam mesin kekuasaan besar yang menimpakan ketidakadilan kepada mereka, dikebiri kekuatannya, dimandulkan kepribadiannya, dikikis konsentrasi keIslamannya serta ditidakberdayakan seluruh perjalanan sejarahnya.

Maiyah melihat bahwa salah satu cipratan dari ketertekanan itu adalah Gerakan 4 November 2016. Aksi Bela Islam dalam bentuk pengerahan massa yang diikuti oleh ratusan ribu ummat Islam berdemonstrasi di depan Istana Presiden pada tanggal itu tidak lain merupakan letupan kecil atas endapan rasa itu. Meskipun momentum-ledaknya adalah “Al-Maidah 51”, sesungguhnya posisi keternistaan, keterhinaan, keterlecehan, ketertindasan, dan ketersingkiran posisi sejarah Kaum Muslimin jauh lebih besar, lebih menyeluruh, mendalam, dan multikonteks. 

Memperhatikan peta permasalahan di atas, juga setelah mempelajari panduan Mbah Nun di Bukan Demokrasi Benar Menusuk Kalbu serta Ummat Islam Indonesia Dijadikan Gelandangan di Negerinya Sendirikita ambil saja misalnya tiga keterhinaan Kaum Muslimin Indonesia:

Ketaatan ummat kepada Imam atau pemimpinnya sebagai implementasi keberagamaan justru dimanfaatkan, ditunggangi, dan dimanipulasi untuk meraih kepentingan-kepentingan elit tertentu yang bukan kepentingan ummat.

Keberanian ummat agama lain menyentuh, mempersoalkan, dan menafsirkan kitab suci ummat Islam. Sementara Kaum Muslimin memegang tradisi keilmuan bahwa tafsir terhadap Al-Qur`an dipersyarati oleh prinsip-prinsip yang hanya bisa dipenuhi oleh Ulama-Ulama tertentu.

Sangat berbahaya bagi masa depan Bangsa dan Negara Indonesia kalau Kaum Muslimin sebagai mayoritas rakyat Indonesia justru menjadi kelompok minoritas dalam penguasaan aset dan kekayaan bumi Indonesia, apalagi dengan martabat Kaum Muslimin dan Agama Islam yang semakin dijadikan bahan pelecehan dan penghinaan.

Melihat, mengalami, dan mendalami seluruh keadaan itu, kami berpendapat bahwa ada dua langkah yang harus segera dilakukan oleh Kaum Muslimin Indonesia: 

Pertama,  Musyawarah Darurat Ummat Islam Indonesia. 

Gerakan 4 November melihat medan tantangan yang lebih lengkap, makro, dan menyeluruh, sebagaimana tertera di awal urun pendapat ini. Sudah saatnya para pemuka Kaum Muslimin dan segenap elemen ummatnya, yang tergabung di dalam berbagai organisasi massa, himpunan-himpunan sosial masyarakat, kelompok-kelompok ummat, jamaah-jamaah, perkumpulan, majelis, serta individu-individu yang tidak berafiliasi ke dalam kelompok tersebut untuk duduk bersama. Melingkar dalam kebersamaan, berunding, bermusyawarah untuk memformulasikan langkah-langkah strategis ke depan, dan merumuskan harapan serta solusi atas berbagai persoalan keummatan, kebangsaan, dan kenegaraan.

Kedua, Majelis Darurat Permusyawaratan Rakyat Indonesia.

Para pemimpin rakyat Indonesia, para sesepuh, para tokoh, para nasionalis, para patriot Ibu Pertiwi perlu bergandengan tangan, duduk rembug bersama, untuk merundingkan berbagai hal yang berkaitan dengan semakin runtuhnya kedaulatan Bangsa dan Negara Indonesia. Kedaulatan atas harta kekayaan Tanah Air Indonesia, kedaulatan atas hak-hak kemanusiaan dan harga diri Bangsa Indonesia, yang semakin dikikis oleh keserakahan sejumlah orang dan kelompok. Kita yang menjalani Indonesia hari ini berhutang amanah kepada para Perintis Kemerdekaan dan para Pendiri NKRI, serta bertanggung jawab kepada semua anak-cucu rakyat Indonesia untuk memastikan bahwa Tanah Air Indonesia adalah tetap milik mereka, bukan milik siapapun yang kelak mempekerjakan mereka sebagai kuli-kuli dan jongos-jongos.

Yogyakarta, 10 November 2016

JAMAAH MAIYAH NUSANTARA

1 2 3 10
Go to Top