​”Musyawarah Darurat Ummat Islam Indonesia” dan “Majelis Darurat Permusyawaratan Rakyat Indonesia”

in Komunitas by

Terhadap banyaknya pertanyaan dari masyarakat luas tentang situasi mutakhir tanah air, berikut jawaban dan pendapat kami:
Sampai 71 tahun merdeka, rakyat Indonesia semakin didera masalah. Dihimpit, dibelit, dan dikurung kompleks persoalan-persoalan. Dan berhubung mayoritas warganegara Indonesia adalah Ummat Islam, maka merekalah yang paling menderita. Pada tahun 2016 ini mereka bukan hanya semakin menderita secara ekonomi, tapi diposisikan terhina secara politik, kemanusiaan, dan keagamaan. 

Dari tahun ke tahun rakyat Indonesia dan Ummat Islam berjuang untuk tetap optimis dan bersabar. Dari Pemerintahan ke Pemerintahan rakyat dan ummat berupaya untuk tetap tidak berputus asa dan bangkit. Akan tetapi, harapan-harapan itu selalu saja berujung pada kekecewaan. Persoalan tidak kunjung terurai bahkan semakin bertambah kusut dan saling silang sengkarut. Skalanya pun tidak hanya harta benda Negeri mereka yang semakin dikikis, tapi juga martabat kebangsaan dan harga diri kerakyatan mereka semakin diinjak-injak dan diperhinakan.

Di bidang ekonomi, kekuatan produksi rakyat harus bertarung bebas dengan raksasa kapital yang menindas. Sehingga tingginya angka kemiskinan, meningkatnya jumlah pengangguran, dan semakin lebarnya kesenjangan penguasaan aset rakyat kecil dibanding segelintir taipan besar merupakan potret nyata kondisi masyarakat Indonesia hari ini. Belum lagi di bidang sosial budaya. Hancurnya norma susila, kandasnya moral etika, dan lunturnya karakter adiluhung bangsa diperparah dengan rusaknya sistem pendidikan nasional yang semakin memperlemah kualitas manusia Indonesia. Konflik di segala lapisan masyarakat dengan berbagai luasan dan eskalasinya, semakin menyempurnakan keruwetan problem rakyat Indonesia. Tak terkecuali di bidang agama, politik, kesehatan, dan lain-lain seolah tidak cukup berlembar-lembar kita daftar satu per satu persolan yang membelit kehidupan Rakyat Indonesia.

Ummat Islam adalah mayoritas secara jumlah, tapi minoritas secara modal dan kekuasaaan. Ummat Islam mayoritas sebagai penduduk, tapi minoritas yang marjinal secara politik dan perekonomian. Kemudian semakin banyak di antara mereka yang menyadari bahwa mereka bukan hanya marjinal, tapi memang ada suatu desain besar yang sengaja secara strategis memarginalkan mereka. Mereka bukan hanya miskin, tapi memang dimiskinkan. Mereka bukan sekadar terperdaya, tapi memang diperdayakan. Semakin hari semakin merebak dan melebar kesadaran bahwa Ummat Islam memang sedang dilindas oleh semacam mesin kekuasaan besar yang menimpakan ketidakadilan kepada mereka, dikebiri kekuatannya, dimandulkan kepribadiannya, dikikis konsentrasi keIslamannya serta ditidakberdayakan seluruh perjalanan sejarahnya.

Maiyah melihat bahwa salah satu cipratan dari ketertekanan itu adalah Gerakan 4 November 2016. Aksi Bela Islam dalam bentuk pengerahan massa yang diikuti oleh ratusan ribu ummat Islam berdemonstrasi di depan Istana Presiden pada tanggal itu tidak lain merupakan letupan kecil atas endapan rasa itu. Meskipun momentum-ledaknya adalah “Al-Maidah 51”, sesungguhnya posisi keternistaan, keterhinaan, keterlecehan, ketertindasan, dan ketersingkiran posisi sejarah Kaum Muslimin jauh lebih besar, lebih menyeluruh, mendalam, dan multikonteks. 

Memperhatikan peta permasalahan di atas, juga setelah mempelajari panduan Mbah Nun di Bukan Demokrasi Benar Menusuk Kalbu serta Ummat Islam Indonesia Dijadikan Gelandangan di Negerinya Sendirikita ambil saja misalnya tiga keterhinaan Kaum Muslimin Indonesia:

Ketaatan ummat kepada Imam atau pemimpinnya sebagai implementasi keberagamaan justru dimanfaatkan, ditunggangi, dan dimanipulasi untuk meraih kepentingan-kepentingan elit tertentu yang bukan kepentingan ummat.

Keberanian ummat agama lain menyentuh, mempersoalkan, dan menafsirkan kitab suci ummat Islam. Sementara Kaum Muslimin memegang tradisi keilmuan bahwa tafsir terhadap Al-Qur`an dipersyarati oleh prinsip-prinsip yang hanya bisa dipenuhi oleh Ulama-Ulama tertentu.

Sangat berbahaya bagi masa depan Bangsa dan Negara Indonesia kalau Kaum Muslimin sebagai mayoritas rakyat Indonesia justru menjadi kelompok minoritas dalam penguasaan aset dan kekayaan bumi Indonesia, apalagi dengan martabat Kaum Muslimin dan Agama Islam yang semakin dijadikan bahan pelecehan dan penghinaan.

Melihat, mengalami, dan mendalami seluruh keadaan itu, kami berpendapat bahwa ada dua langkah yang harus segera dilakukan oleh Kaum Muslimin Indonesia: 

Pertama,  Musyawarah Darurat Ummat Islam Indonesia. 

Gerakan 4 November melihat medan tantangan yang lebih lengkap, makro, dan menyeluruh, sebagaimana tertera di awal urun pendapat ini. Sudah saatnya para pemuka Kaum Muslimin dan segenap elemen ummatnya, yang tergabung di dalam berbagai organisasi massa, himpunan-himpunan sosial masyarakat, kelompok-kelompok ummat, jamaah-jamaah, perkumpulan, majelis, serta individu-individu yang tidak berafiliasi ke dalam kelompok tersebut untuk duduk bersama. Melingkar dalam kebersamaan, berunding, bermusyawarah untuk memformulasikan langkah-langkah strategis ke depan, dan merumuskan harapan serta solusi atas berbagai persoalan keummatan, kebangsaan, dan kenegaraan.

Kedua, Majelis Darurat Permusyawaratan Rakyat Indonesia.

Para pemimpin rakyat Indonesia, para sesepuh, para tokoh, para nasionalis, para patriot Ibu Pertiwi perlu bergandengan tangan, duduk rembug bersama, untuk merundingkan berbagai hal yang berkaitan dengan semakin runtuhnya kedaulatan Bangsa dan Negara Indonesia. Kedaulatan atas harta kekayaan Tanah Air Indonesia, kedaulatan atas hak-hak kemanusiaan dan harga diri Bangsa Indonesia, yang semakin dikikis oleh keserakahan sejumlah orang dan kelompok. Kita yang menjalani Indonesia hari ini berhutang amanah kepada para Perintis Kemerdekaan dan para Pendiri NKRI, serta bertanggung jawab kepada semua anak-cucu rakyat Indonesia untuk memastikan bahwa Tanah Air Indonesia adalah tetap milik mereka, bukan milik siapapun yang kelak mempekerjakan mereka sebagai kuli-kuli dan jongos-jongos.

Yogyakarta, 10 November 2016

JAMAAH MAIYAH NUSANTARA

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*