2016: Penghancuran

in Redaksi by

     Meski awal tahun 2016 bertepatan dengan bulan kelahiran manusia cahaya, Nabi Muhammad SAW. Rasa-rasanya tak begitu terang, cenderung gelap-gulita. Hingga tak ada kalimat yang layak kita dengungkan kecuali “allôhumma nawwir ‘uqûlanâ li-nastanîro binûrikal-’azhîmi wasatho hâdzihizh-zhulumâtil-latî ahâthot binâ” Ya Alloh, terangilah akal-akal kami agar kami mendapat cahaya-Mu yang agung di tengah kegelapan-kegelapan yang mengepung kami ini.

           Bahkan, kembang api yang membubung tinggi di langit tak membuat hari-hari kita bertabur cahaya. Mungkin ke depan, hari-hari kita adalah malam, meski matahari belum juga terbenam.

           Jika keadaan amat gelap gulita, tak salah bila Cak Nun berucap: “dan di dalam kegelapan segala yang buruk terjadi/ orang tidak bisa menatap wajah orang lainnya secara jelas/ orang menyangka kepala adalah kaki/ orang menyangka Utara adalah Selatan/ orang bertabrakan satu sama lain/ orang tidak sengaja menjegal satu sama lain/ atau bahkan sengaja saling menjegal satu sama lain/ di dalam kegelapan orang tidak punya pedoman yang jelas untuk melangkah/ akan ke mana melangkah?/ dan bagaimana melangkah?”

           Jika sudah demikian, maka dalam kondisi apapun, meski terbata-bata, mulut dan hati kita harus senantiasa melantunkan “allôhumma ‘allimnâ kalimâtiy-yalîqu bi-maqôminâ wa sulûkinâ an-nad’uwaka bihâ wa nunâjiyak, anta khoyru man ‘allamanâ, anta waliyyunâ wa mawlânâ, innaka antal-’alîmul-khobîr” Ya Allah, ajari kami kalimat-kalimat yang sesuai dengan maqom kami dan tingkah laku kami yang dengannya kami berdoa dan bermunajat kepada-Mu. Kaulah sebaik-baik Dzat yang telah mengajari kami, Kaulah penolong kami dan pelindung kami, sesungguhnya Kaulah Yang Maha Tahu dan Maha Mengerti.

          Bahkan, di dalam kegelapan, tak hanya pedoman yang hilang. Begitu juga dengan ukuran-ukuran, standar-standar, atau nilai-nilai. Semuanya kabur, blawur. Mata tak begitu jelas melihat. Sudut dan jarak pandang terhalang. Suasana pun gaduh oleh suara-suara: “gak pake hp android, gak ngehits”, “yen ora satria FU, ora” dan lain sebagainya. Bahkan tak sadar bergumam sendiri: “penake cah kae, kerja ora kepanasan, bayare gedhe. Lha aku, wis direwangi panas-panas, bayare mung cukup dinggo tuku bensin lan rokok”

           Hingga akhirnya, kita tak sadar menjadi pemalas yang angkuh. Selalu berkhayal bahwa semua hal itu sulit, tanpa pernah berbuat apa-apa. Maka, sebelum terjadi demikian, dengan segala kerendah-hatian, kita harus selalu memanjatkan “allôhumma fasysyil irôdâtinâ wa roghobâtinâ wa âmâlanâ mâ lam tuwâfiq irôdataka wa anta ghoyro rôdhin ‘anhâ, lakal-mulku wa lakal-hamdu tuhyî wa tumît, wa anta ‘alâ kulli syay’in qodîr” Ya Alloh, gagalkan kehendak kami, keinginan kami, dan cita-cita kami, selama tidak sesuai dengan kehendak-Mu dan Kau tidak meridhoinya. Bagi-Mulah kerajaan dan bagi-Mu-lah segala puji, Kau menghidupkan dan mematikan, dan Kau berkuasa atas segala sesuatu.

        Berbekal kalimat sakti itu, semoga kita tak terkurung di alam sawang-sinawang, giat melihat, menilai, menakar, menduga, dan mengimajinasi    keadaan orang lain. Hingga akhirnya, tak sensitif dengan keadaan luar. Tak paham jika berulangkali “papa minta saham”. Tak peduli jika korupsi di negeri kian menjadi-jadi.

        Memang, keadaan di luar sana bukan tugas utama kita. Bukan pula maqam kita untuk merampungkan segalanya. Tapi, setidaknya meskipun lirih, kita perlu urun umak-umik, melafalkan “robbanâ akhrijnâ min hâdzihil-qoryatizh-zhâlimi ahluhâ waj’al lanâ mil-ladunka waliyya, waj’al-lanâ mil-ladunka nashîro” Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri yang zalim penduduknya ini, dan jadikanlah bagi kami pelindung dari sisi-Mu, dan jadikanlah bagi kami penolong dari sisi-Mu.

        Atau minimal sesekali merapalkan “allôhumma innî a’ûdzu bika min zhulmith-thôghûtil-ladzî dhoyya’al-amânah, wa afsadal-îmân, wa aqharol-’adl, wa aqbahal jamâl, wa adhâ’al-jihâda fî tawhîdik, wa qotho’aththorîqo li-mahabbatika wa khidmatik” Ya Alloh, aku berlindung kepada-Mu dari kezaliman berhala-berhala yang telah menyia-nyiakan amanat, merusak iman, mengalahkan keadilan, memperburuk keindahan, mengabaikan jihad dalam mengesakan-Mu, dan memutus jalan untuk mencintai-Mu dan berkhidmat kepada-Mu.

          Dan jika di luar sana, tak juga bisa kita kendalikan. Minimal, di dalam diri, di wilayah tugas utama kita, mampu kita kendalikan dengan senantiasa merunduk khusyuk menyapa Allah SWT dengan sapaan “allôhumma a’in ‘abdakadh-dho’îfa bi-ihlâki mâ yalîqu ihlâkuh, wa bi-inhâdhi mâ rodhîta bi-nahdhotih” Ya Alloh, tolonglah hamba-Mu yang lemah dengan menghancurkan sesuatu yang layak dihancurkan dan membangkitkan sesuatu yang Kau ridhoi kebangkitannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*