Mocopat Syafaat

Author

admin - page 10

admin has 30 articles published.

Kedaulatan Manusia Maiyah

in Komunitas by
  1. Maiyah adalah cara belajar kehidupan yang unik.
  2. Keunikan belajar di Maiyah juga karena tidak ada janji apapun yang disepakati sebagai alasan untuk belajar. Di Maiyah, setiap individu berhak memetik ilm yang manapun yang ia perlukan. Sesuatu yang dianggap baik bagi dirinya belum tentu baik bagi orang lain, begitu juga sesuatu yang dianggap buruk bagi dirinya, belum tentu buruk bagi orang lain. Bertebarannya ilmu di Maiyah dipetik sendiri oleh setiap yang hadir, bukan dicekoki atau didoktrinkan. Keunikan tersebut terlihat pada beberapa ciri diantaranya: tidak bersifat otoritatif, motif berkumpulnya yang menegasikan motif-motif yang ada selama ini dan dibangunnya semangat mencari apa yang benar, bukan siapa yang benar.
  3. Yang dimaksud ‘tidak bersifat otoritatif’ adalah di dalam Maiyah siapa saja bisa dan boleh berbicara. Berbeda pada komunitas atau organisasi lainnya, yang lazimnya orang disodori ‘ini lho yang benar’, di Maiyah semua teori dilontarkan. Masing-masing orang yang akan mengujinya di dalam pengalaman hidup. Teori-teori, pengetahuan dan pandangan yang dilontarkan sebagai diskursus untuk mencari kebenaran masing-masing.
  4. Dalam proses pembelajaran yang unik itu, Maiyah cenderung menempatkan kasus per kasus hanya sebagai contoh, sehingga tidak terseret dalam wilayah pro-kontra, mendukung-menolak, memihak-memusuhi, setuju-tidak setuju.
  5. Yang dimaksud ‘motif berkumpulnya menegaskan motif-motif yang ada’ adalah jamaah tidak berkumpul di dalam Maiyah dengan motif yang ada pada lazimnya orang berkumpul, misalnya untuk mencari surga, mencari kekuasaan, mencari keuntungan ekonomi, atau kesamaan nasib, sebab Maiyah tidak menjanjikan semua itu. Pada faktanya, setiap jamaah memiliki motifnya masing-masing (bisa termasuk motif-motif tersebut di atas), tetapi yang mengikat mereka adalah ‘kebersamaan’. Di dalam kebersaman itu yang berlangsung adalah pengayaan wacana dan ilmu. Pengalaman masing-masing menentukan apa yang diperoleh. Dan karena itu, mereka tidak memperdebatkan ilmu, karena mereka menikmati kekayaan ilmu, sehingga yang tumbuh di dalam diri mereka adalah kelapangan jiwa dan toleransi dan mampu menampung semuanya.
  6. Di dalam Maiyah, jamaah dinalurikan untuk ‘tidak mencari siapa yang benar tapi apa yang benar’. Lazimnya, ketika menerima informasi, orang akan memiliki reaksi ‘benar’ atau ‘salah’ dan kemudian ‘percaya’ atau ‘tidak percaya’. Dalam hal ini, Maiyah mendorong agar setiap individu mengolahnya (dengan metodologi yang mengandung prinsip ‘tidak mencari siapa yang benar tapi apa yang benar’) sedemikian rupa secara berdaulat, sehingga ketika ia sampai pada suatu kesimpulan, itu tetap berdasarkan kedaulatan dan kemandiriannya. Di sini, siapapun bisa menjadi guru dan teori apapun diterima sebagai wacana untuk masing-masing individu menemukan kebenaran. Pemahaman dan pengalaman hidup yang akan menguji kebenaran itu. demikianlah, Maiyah memberi jarak antara wacana dan kepercayaan akan kebenaran, sehingga masing-masing individu memiliki ruang untuk mengolah semua informasi yang diperoleh untuk menjadi kebenaran yang diyakininya.
  7. Output dari semua proses di atas adalah kedaulatan manusia Maiyah. Yaitu manusia yang berkebersaman. Di dalam kebersamaan itu, mereka membangun naluri-naluri dasar. Mereka mengidentifikasi, lalu memiliki kesimpulan, yang boleh jadi sama. Mereka mengidentifikasi, lalu memilik kesimpulan, yang boleh jadi sama. Kebersamaan di dalam Maiyah tersebut membantu memperkaya view yang akan menumbuhkan dan meneguhkan kedaulatan individu tersebut.
  8. Di dalam Maiyah tidak ada kewajiban untuk patuh terhadap figur. Jika pun masing-masing jamaah Maiyah merasakan dan menemukan keharusan untuk patuh terhadap figur semata didasarkan dan merupakan hasil dari proses kedaulatan individu.
  9. Aktivitas bermaiyah berangkat dari keseharian masing-masing. Sehingga sikap bermasyarakat orang-orang Maiyah tidak berbasis isu tapi berakar pada permasalahan hidup yang dihadapi sehari-hari di lingkungannya.

Tradisi “Ihram” Untuk Menggali Hawa Murni

in Reportase Mocopat Syafaat by
halaman-despan-

Pengajian Padhang mBulan sedang berlangsung keempat kalinya malam ini, dan semakin kukuh dan jernih nuansanya bahwa ia tidak memiliki pamrih apapun kecuali penyembahan yang lugu sekumpulan makhluk hidup kepada Penciptanya.

Kalau Tuhan memperkenankan sesuatu atas ketulusan hati orang-orang yang berkumpul ini, bisa saja forum pengajian ini kelak memiliki makna sejarah. Tapi ia bukanlah gerakan kebudayaan, apalagi gerakan politik. Ia mungkin suatu gerak, tapi bukan gerakan — sebab ‘gerakan’ berarti suatu pretensi pengaitan diri dengan perubahan-perubahan dalam sejarah, yang dengan gampang bisa diassosiasikan dengan pola-pola baku sistem sosial yang berlaku. ‘Gerakan’ cenderung identik dengan suatu enerji sejarah yang memerlukan organisasi, ideologi dan target-target. Keep Reading

Masih Menggelandang

in Resensi by
Gelandangan di Kampung Sendiri_20150409172402

Siapa sangka dengan mengakunya Indonesia sebagai negara demokrasi, lantas rakyatnya mendapatkan hak-haknya secara semestinya  dengan rasa aman dan tanpa ancaman. Rakyat yang harus berperan dalam pemerintahan. Demokrasi yang dipuja-puja sebagai kekuasaan tertinggi itu hanya topeng untuk mendapatkan kekuasaan. Dan setelah beshasil duduk di singgasana jabatan dengan mengatas namakan rakyat, justru rakyat ditinggal begitu saja. Mereka amnesia. Mereka lupa apa itu demokrasi, atau bahakn sesungguhnya tidak mengerti. Mereka merasa bahwa mereka yang memegang kekuasaan. Mereka yang berhak menentukan nasib rakyat, membuat segala peraturan dan rakyat harus mentaatinya.

Rakyat terus menerus menjadi sasaran kekuasaan mereka. Segala kehendak mereka harus diterima dan ditaati oleh rakyat. Kehendak yang pada akhirnya menguntungkan diri sendiri dan merugikan rakyat itu sendiri. Begitulah demokrasi sekarang. Yang memegang demokrasi bukan lagi rakyat. Melainkan hanya milik orang-orang yang ingin menjadikan diri atau kelompoknya berkuasa. Demokrasi hanya milik rakyat-rakat yang haus dan lapar kekuasaan.

“…kepentingan pribadi, kelompok atau golongan, bisa memakai payung ‘atas nama pemerintah’ atau ‘demi pembangunan’ untuk  melakukan ketdakjujuran  yang bertentangan dengan kepentingan pemerintah itu sendiri”

Begitulah salah satu ungkapan Cak Nun dalam buku ini. Kepentingan-kepentingan mereka terletak disetiap sudut. Penuh persaingan, saling berebut, dan saling menjatuhkan demi kursi jabatan. Membuat tipu daya atas nama kebijakan. Hak rakyat diabaikan. Rumah-rumah mereka direbut yang berkuasa, makanan–makanan mereka dirampok. Yang berhasil menjadi pejabat merasa dirinya tinggi, sedangkan rakyat dianggap orang kecil dan rendah. Mereka tak memberi ruang lagi bagi rakyat untuk membuat peraturan, keputusan dan rancangan masa depan. Akhirnya Rakyat tak punya tempat lagi. Menggelandang. Orang-orang yang berkuasa acap kali juga membuat modus-modus tertentu untuk mempercepat tujuan yang mengatasnamakan pembangunan dan lain-lain. Kasus “Pasar legi” yang mengungkapkan bahwa hak untuk berpendapat dan berurun rembuk sudah tidak diakui lagi (hal.33-36).

Cerita tentang dunia  perfilman Indonesia yang dilarang mengangkat realitas masyarakat, negara, dan sejarah Indonesia diungkapkan di judul esainya juga menjadi judul buku ini. Realiatis sosial, penyelewengan hukum, ketidakadilan, penyelewengan kekuasaan dan lain-lain harus disembunyikan dari skenario film (hal. 84).

Rakyat yang sadar maka akan  memilih  mempertahankan dirinya  sebagai manusia biasa, orang biasa, orang kecil.

“Orang kecil letaknya di bawah sehingga tidak bisa dijatuhkan. Orang kecil tak punya apa-apa sehingga aman dari pencurian. Orang kecil tak mempunyai cita-cita apa-apa pun kecuali citra baik di mata Allah sehingga tidak bisa dipojokkan oleh manusia” (hal. 91).

Buku ini akan membawa kita pada realitas nilai-nilai kemanusiaan yang semakin diabaikan di negeri ini. Membaca kehidupan orang-orang yang dirampas dan ditindas kemerdekaannya. Buku berisi kumpulan esai Cak Nun dibeberapa surat kabar ini akan semakin menyadarkan kita bahwa orang-orang kecil harus dibela dan diperjuangkan. Esai-esai yang ditulis pada tahun 90-an dan pernah dibukukan juga dengan judul yang sama pada tahun 1995, masih sangat relevan dengan keadaan negeri kita di era 20-an sekarang ini. Membaca buku ini, akan membuka pikiran dan hati kita untuk hidup sebagai manusia layaknya manusia.

 

q

Cover Buku Gelandangan di Kampung Sendiri
Gelandangan di Kampung Sendiri
Judul Buku : Gelandangan di Kampung Sendiri
Penulis: Emha Ainun Nadjib
Penerbit: Penerbit Bentang
Cetakan : Pertama, Maret 2015
Tebal : viii + 292hlm.; 20,5 cm
Pernah diterbitkan dengan judul yang sama pada tahun 1995

1 8 9 10
Go to Top