Mocopat Syafaat

Author

admin - page 3

admin has 30 articles published.

Monolog Ramadan

in Redaksi by

Sejak pernah pasa mbedug dan kini ikut pasa nutuk, tentu engkau aku masih melihat monolog selalu diperagakan selama bulan Ramadan. Yakni seorang ustadz atau kiai berceramah, lalu jamaah hanya wajib setor muka dan telinga. Nyaris tak ada dialog, percakapan dua arah. Kalaupun ada, sekadar “Betul tidak bu? Betul tidak pak?” Jamaah pun sontak menimpali: “betul!!!”

Dan itu bisa ditemui hampir di seluruh masjid. Terutama pada acara kuliah shubuh, kuliah tujuh menit (kultum) jelang shalat tarawih atau buka bersama.

Hal demikian sebenarnya patut disayangkan. Sebab sebenarnya momentum itu bisa dijadikan forum dialog, percakapan dua arah, ajang saling berbagi informasi antar jamaah. Kalaupun harus menghadirkan seorang ustadz atau kiai, ia hanya berperan sebagai teman diskusi, kedudukan dan hak bicaranya sama dengan jamaah lain. Tentu itu akan sangat menarik. Bahkan dengan mekanisme itu, obrolan jauh lebih luas dan konkret.

Misalnya jelang adzan Maghrib tiba, salah seorang jamaah curhat soal kambingnya yang sakit-sakitan. Lalu direspon jamaah lainnya dengan sebuah tawaran jamu ternak bikinannya sendiri. Bukankah itu amat mengesankan?

Atau jelang shalat Tarawih, kuliah tujuh menit tidak diisi seorang ustadz atau kiai. Tapi diisi salah satu jamaah, misal seorang petani. Lalu ia menjelaskan bahwa cangkul itu sangat religious. Sebab ada tiga bagian, pertama pacul, bermakna ngipatake kang muncul, selalu menghalau rintangan yang muncul. Kedua bawak, bermakna obahing awak, geraknya tubuh. Ketiga doran, bermakna donga maring pangeran, selalu berdoa kepada Tuhan. Jadi cangkul itu mengajarkan agar kita selalu berproses, bergerak menghalau setiap rintangan dan selalu berdoa kepada Tuhan. Bukankah itu amat syahdu?

Jika demikian adanya, maka slogan bulan penuh berkah bukan pepesan kosong. Dan bila permulaan bulan adalah rahmat, pertengahan adalah ampunan serta paripurna adalah pembebasan dari neraka, itu juga benar kita rasakan. Bahkan kita tak harus sibuk saat tanggal ganjil demi meraih lailatul qadar. Sebaliknya kita merasa setiap malam adalah lailatul qadar. Ah, andai saja bulan Ramadhan demikian.

Istri Sholehah

in Komunitas by

Apa itu sholeh?Apa pula istri sholehah? Penting?

Apa itu sholeh? Tepuk anak sholeh: “Aku anak sholeh, rajin sholat, rajin ngaji, orang tua dihormati……”itu dulu pas saya masih ikut TPA. Kalau sekarang, sedekat (bukan sejauh) penemu saya, sholeh sendiri setahu saya adalah kebaikan yang presisi. Hitung-hitungannya tepat. Dipikirkan secara holistik dan komprehensif. Penuh pertimbangan. Sehingga sholeh sendiri nantinya akan memberi output yang win-win solution, output yang rahmatan lil alamin. Lalu kalau istri yang sholehah itu yang bagaimana?Mari pelan-pelan kita urai dan cari.

Ada proses dan posisi persuami-istrian di jagad raya ni. Antara Tuhan dengan hambaNya, antara manusia dengan alam, antara laki-laki dan perempuan, antara pemimpin dengan rakyatnya, antara petani dengan sawahnya, antara sopir dengan kendaraannya dan masih banyak lainnya. Sehingga istri tidak lain adalah simbiosis dari suami, partner. Ada suami dan ada istri di banyak sisi dan wilayah.

Lalu apakah itu istri sholehah.Setahu saya semua istri ya sholehah.Kalau tidak sholehah maka kurang layak disebut istri.Tapi ya tidak apa-apa pula kalau lebih nyaman menyebutnya istri sholehah.Kalau sederhananya, bayangan saya, istri sholehah itu ya istri yang darinya kita, sebagai suami, sebagai manusia, dari dirinya kita jadi mampu lebih mendekatkan diri kita kepada Allah.Keberadaan dan perilakunya membuat diri kita makin mendekat, makin akrab dengan Allah.Mau istri itu pendiam atau cerewet, tidak jadi soal, asalkan efek yang ditimbulkannya mampu kita respon menjadi sarana mendekat ke Allah.Mau istri itu nerimo ing pandum atau kakeansambat, tidak jadi masalah, selama karenanya berimbas bagi makin intimnya diri kita dengan Allah. Oiya, itu bukan definisi baku. Hanya upaya tadabbur, upaya menyelami sesuatu, berdasarkan kumpulan pemahaman dan pengalaman. Sehingga sangat mungkin tidak sama, berbeda bahkan berseberangan dengan yang Panjenengan semua anggap benar terkait apa itu istri, apa itu sholeh, apa itu sholehah dan apa itu istri sholehah.

Saat Mengenal Istrimu Maka Seketika Mengenal Tuhanmu

Kalau parameternya masih cantik atau tidak cantik, itu berarti masih syariat.Urusannya masih bagaimana warna kulitnya, bentuk bibir dan hidungnya, rambutnya lurus atau ikal, rambutnya panjang atau pendek, tinggi badannya sedang atau tinggi semampai.Itu semua wajar. Termasuk didalamnya juga lulusan sekolah apa, kerjanya dimana, gajinya berapa, anaknya siapa, tinggal dimana. Itu semua tahap paling awal dimana seseorang mengenal perempuan.Kalau di Jawa ada terminologi bobot, bibit dan bebet, bagaimana kualitas seseorang dilihat baik dari sisi lahir maupun batinnya.Bobot mengacu pada kualitas diri seseorang, pendidikan, kecerdasan, perilaku dan kemampuan seseorang.Bibit mengacu pada anak turun siapakah, nasab.Sementara bebet menempati urusan paling akhir, bersifat sekunder yang mengacu pada status sosial, kepangkatan, jabatan seseorang.Tapi itu semua masih dalam tahap sekedar tahu. Baru mengenal.

Setelah mengenal dalam tahap ini, maka seseorang butuh tarekat, atau jalan.Jalan menuju kondisi yang lebih mengenal.Sebutlah itu yang namanya pernikahan.Pintu masuk bagi kondisi untuk lebih saling mengenal.Sebuah wadah yang menjadi jalan efektif dan efisien bagi dua entitas manusia lelaki dan perempuan untuk lebih saling mengenal.Satu sama yang lain benar-benar menuju kondisi tahu luar dan dalam pasangannya. Sebuah kondisi yang sangat subur untuk tumbuh bersama.

Setelah menapaki jalan pernikahan, lambat laun seseorang akan paham betul hakekat dari pasangannya. Tahu betul aslinya, luar dan dalamnya, lahir dan batinnya.Terbukalah semua kebaikan maupun ketidakbaikannya pasangan.Mulai jelas juga mengapa diri dipasangkan dengan pasangan.Ada informasi-informasi baru mengapa diperjodohkan, mengapa dipertemukan.Hakekat suami dan hakekat istri mulai tampak nyata.Suami adalah pakaian bagi istrinya dan sebaliknya istri adalah pakaian bagi suaminya.Pakaian, dimana fungsinya adalah menutupi aurat, saling menyembunyikan aib atau kekurangan pasangannya.Pakaian sebagai pelindung dari terik panas maupun dinginnya cuaca, saling melindungi dari segala macam godaan, bersatu dalam menghadapi lika-liku perikehidupan. Pakaian juga berfungsi memperindah, saling merawat satu sama lain, saling sayang satu sama lain.

Setelahnya baru makrifat.Terbukalah selubung jasad.Terbukalah hijab-hijab jasad sehingga tampaklah yang sebenarnya.Mampu kita temukan Tuhan didalam diri pasangan kita.Mampu kita rasakan kehadiran Tuhan didalam diri pasangan.

Tetapi semuanya itu barulah tahap paling awal.Dimana kita mulai mengenal pasangan. Baru mengenal. Lalu? Setelahnya?

Segalanya Baru Dimulai

Kalau memakai teori kabar bapak angin, “syariat itu kamu naik kapal, tarekat itu kamu dayung kapal, hakekat itu kamu menyelam ke dasar lautan dan makrifat itu kamu menemukan mutiara di dasar lautan. Setelah ketemu mutiara, ya terserah kamu, mau kamu apakan mutiara tersebut.”

Dan sesungguhnya itu semua adalah upaya pengenalan saja.Lebih mengenal, mengenal lebih dalam dan sampai benar-benar mengenal. Kalau sudah kenal, lalu apa. Ya mangga, mau ngapain.Mau gatheng bareng atau sombyong atau benthik ya mangga-mangga mawon.

Kalau dalam berumah tangga setelah mengenal pasangan, selanjutnya adalah mengarungi samudera berumah tangga.Mulai mengimplementasikan visi dan misi bersama.Membangun rumah tangga sakinah.Agar berkahnya merambah ke berbagai wilayah.Saling menyusun agenda perahu rumah tangga.Akan kemana dan bagaimana. Saling dikomunikasikan. Saling melayani satu sama lain. Idealnya sih begitu.Tetapi rumah tangga ya rumah tangga.Banyak tangga yang mesti ditapaki. Tangga kemana? Kemana lagi kalau bukan tangga kedekatan, tangga liqoiRobb, tangga rindu menuju Tuhan.

Berkah Maiyah

in Redaksi by

    Jika engkau dan aku mendengar kata “Simbah”, lantas terbayang seorang tua renta, kulitnya keriput dan rambutnya memutih. Maka ada informasi yang selip saat kita asyik-masyuk merapat dan melingkar di pelataran taman kanak-kanak. Atau barangkali ada pemahaman yang tak jangkep saat kita mengambil jeda untuk sekadar menyeruput kopi atau menyalakan sebatang rokok.

     Bukankah “Simbah” juga “mengandung” buyut, canggah, wareng, udeg-udeg, gantung siwur, gropak senthe, debog bosok, dan galih asem? Bahkan sampai “mengandung” trah-tumerah atau jika ditarik ke belakang ada delapan belas. Itu jika kita meminjam terminologi silsilah keluarga dalam kebudayaan Jawa. Artinya jika kita menyoal kata “Simbah” ternyata tak berhenti pada kata itu sendiri. Tak mentok pada satu sosok belaka. Dan ternyata tak hanya ada persambungan jasad atau nama saja. Melainkan ada sebuah nilai-nilai yang turun-temurun sambung.

Menengok ke Belakang

     “Kita semua perlu ambil nafas panjang dan dalam, berpikir ulang sampai mendasar tentang semua ini, terutama yang sudah, sedang dan akan kita lakukan,” begitu Simbah berpesan. Dan barangkali kita juga perlu berpikir mendasar perihal usia atau umur. Dengan ukuran apa kita menilai bahwa angka 63 adalah tua? Tua yang bagaimana? Dalam rentang apa, perjalanan hidup atau nyawakah?

     Ya, memang jika memakai adat kebiasaan, pada tanggal 27 Mei 2016 nanti, Simbah Muhammad Ainun Nadjib akan menempuh usia 63 tahun. Perihal angka dan pernak-perniknya, silakan engkau dan aku merenungi di bilik kamar masing-masing. Dan jika hal itu identik dengan ulang tahun, apalagi sering ditandai dengan meniup lilin. Lalu, pertanyaannya adalah apakah “Simbah” masuk dalam kategori meniup lilin atau justru sebaliknya; menyalakan lilin?

     Lagi-lagi persoalannya adalah positioning. Jika engkau dan aku mengartikan lilin sebagai lilin dan bukan lainnya. Maka, barangkali memang benar kita terlampau asyik-masyuk menyeruput kopi dan menghisap rokok sehingga tak jangkep pemahamannya. Benar-benar cupet cakrawala pe ngetahuannya-bahasa kasarnya.

   Jika lilin adalah sumber cahaya, apakah selama ini “Simbah” meniupnya dan mati? Sehingga situasi dan kondisinya menjadi gelap gulita. Sehingga kita tak bisa melihat apa-apa. Ataukah justru sebaliknya?

    Dan jika cahaya adalah simbol dari ilmu dan pengetahuan, maka pertanyaannya; apakah selama ini “Simbah” meniupnya dan mati? Sehingga kita menjadi manusia yang tak berilmu dan berpengetahuan? Ataukah justru sebaliknya?

    Bahkan jika lilin itu ibarat sebuah rahmat, apakah selama ini “Simbah” membiarkan begitu saja? Sehingga tak berfungsi menjadi apa-apa. Apakah selama ini “Simbah” abai dengan lilin itu tanpa mengubahnya menjadi berkah?

   Dan bukankah “setiap rahmat Allah mesti diolah, ditemukan nilai tambahnya, sehingga menimbulkan bertambahnya kebaikan (berkah)” adalah “biji” ilmu yang diberikan oleh “Simbah”? Lalu, apa iya itu saja “biji” ilmu yang diberikan oleh “Simbah”? Hmm…bahkan “Simbah” tak sungkan-sungkan memberi kita “buah” ilmu sehingga kita tinggal menikmatinya, iya kan?

      Maka dari itu, nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dan aku bisa dustakan? Dan, berkah Maiyah mana lagi yang engkau dan aku bisa sanggah?(*)

1 2 3 4 5 10
Go to Top