Berkah Maiyah

in Redaksi by

    Jika engkau dan aku mendengar kata “Simbah”, lantas terbayang seorang tua renta, kulitnya keriput dan rambutnya memutih. Maka ada informasi yang selip saat kita asyik-masyuk merapat dan melingkar di pelataran taman kanak-kanak. Atau barangkali ada pemahaman yang tak jangkep saat kita mengambil jeda untuk sekadar menyeruput kopi atau menyalakan sebatang rokok.

     Bukankah “Simbah” juga “mengandung” buyut, canggah, wareng, udeg-udeg, gantung siwur, gropak senthe, debog bosok, dan galih asem? Bahkan sampai “mengandung” trah-tumerah atau jika ditarik ke belakang ada delapan belas. Itu jika kita meminjam terminologi silsilah keluarga dalam kebudayaan Jawa. Artinya jika kita menyoal kata “Simbah” ternyata tak berhenti pada kata itu sendiri. Tak mentok pada satu sosok belaka. Dan ternyata tak hanya ada persambungan jasad atau nama saja. Melainkan ada sebuah nilai-nilai yang turun-temurun sambung.

Menengok ke Belakang

     “Kita semua perlu ambil nafas panjang dan dalam, berpikir ulang sampai mendasar tentang semua ini, terutama yang sudah, sedang dan akan kita lakukan,” begitu Simbah berpesan. Dan barangkali kita juga perlu berpikir mendasar perihal usia atau umur. Dengan ukuran apa kita menilai bahwa angka 63 adalah tua? Tua yang bagaimana? Dalam rentang apa, perjalanan hidup atau nyawakah?

     Ya, memang jika memakai adat kebiasaan, pada tanggal 27 Mei 2016 nanti, Simbah Muhammad Ainun Nadjib akan menempuh usia 63 tahun. Perihal angka dan pernak-perniknya, silakan engkau dan aku merenungi di bilik kamar masing-masing. Dan jika hal itu identik dengan ulang tahun, apalagi sering ditandai dengan meniup lilin. Lalu, pertanyaannya adalah apakah “Simbah” masuk dalam kategori meniup lilin atau justru sebaliknya; menyalakan lilin?

     Lagi-lagi persoalannya adalah positioning. Jika engkau dan aku mengartikan lilin sebagai lilin dan bukan lainnya. Maka, barangkali memang benar kita terlampau asyik-masyuk menyeruput kopi dan menghisap rokok sehingga tak jangkep pemahamannya. Benar-benar cupet cakrawala pe ngetahuannya-bahasa kasarnya.

   Jika lilin adalah sumber cahaya, apakah selama ini “Simbah” meniupnya dan mati? Sehingga situasi dan kondisinya menjadi gelap gulita. Sehingga kita tak bisa melihat apa-apa. Ataukah justru sebaliknya?

    Dan jika cahaya adalah simbol dari ilmu dan pengetahuan, maka pertanyaannya; apakah selama ini “Simbah” meniupnya dan mati? Sehingga kita menjadi manusia yang tak berilmu dan berpengetahuan? Ataukah justru sebaliknya?

    Bahkan jika lilin itu ibarat sebuah rahmat, apakah selama ini “Simbah” membiarkan begitu saja? Sehingga tak berfungsi menjadi apa-apa. Apakah selama ini “Simbah” abai dengan lilin itu tanpa mengubahnya menjadi berkah?

   Dan bukankah “setiap rahmat Allah mesti diolah, ditemukan nilai tambahnya, sehingga menimbulkan bertambahnya kebaikan (berkah)” adalah “biji” ilmu yang diberikan oleh “Simbah”? Lalu, apa iya itu saja “biji” ilmu yang diberikan oleh “Simbah”? Hmm…bahkan “Simbah” tak sungkan-sungkan memberi kita “buah” ilmu sehingga kita tinggal menikmatinya, iya kan?

      Maka dari itu, nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dan aku bisa dustakan? Dan, berkah Maiyah mana lagi yang engkau dan aku bisa sanggah?(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*