Bermaiyah Kapan Saja

in Komunitas by

Saat pukul 20.00 wib tiba, sontak saya menyalakan laptop. Koneksi internet pun saya aktifkan. Dan lekas membuka Facebook, lalu mencari link live streaming Maiyahan melalui akun-akun FB Jamaah Maiyah atau grup FB Maiyah yang saya ikuti.

Usai menemukan link live streaming Maiyahan, lalu saya klik dan saya pun menyimaknya sampai tuntas. Menyimak live streaming Maiyahan tanpa segelas kopi ibarat makan sayur tanpa garam. Segelas kopi pun saya siapkan sembari menikmati live streaming Maiyah dari kejauhan.

Dan segelas kopi jelas tak cukup untuk mengarungi luasnya lautan ilmu Maiyah. Terlebih di malam hari, selalu ada rasa kantuk yang menghampiri. Saya pun menyalakan beberapa batang rokok untuk mengusir rasa kantuk. Begitu nikmatnya Maiyahan meski cuma lewat live streaming.

Selain itu, kenikmatan Maiyahan masih terasa meski rasa kebelet menghampiri. Sebab, saya masih bisa ke toilet dan menyimaknya dari kejauhan. Jika meminjam ayat Allah SWT: “maka nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?” Rasa nikmat itu seakan membuat saya lupa akan rasa getir menahan kebelet saat duduk di pelataran TKIT Alhamdulillah. Bahkan, saya tak bisa membayangkan berapa panjang antrian untuk bisa melepas “panggilan alam” itu di toilet TKIT Alhamdulillah.

Hari pun berganti, hingga saya mendapat kabar bahwa setiap Jum’at minggu kedua, ada Kenduri Cinta, Majelis Masyarakat Maiyah di Jakarta. Saat itu, tepat Jum’at minggu kedua, persis pukul 20.00 wib, saya pun kembali menyalakan laptop. Lalu, membuka fanspage Kenduri Cinta dan betapa bahagianya menemukan link live streaming Kenduri Cinta. Saya pun membukanya. Saat itu, segelas kopi dan rokok, sudah siap menemani ‘perjalanan panjang’ menyantap Kenduri Cinta.

Dan, “nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?” kembali menemukan momentumnya. Saya bahagia bisa menyantap Kenduri Cinta meski hanya lewat dunia maya. Untuk menyantap Kenduri Cinta malam itu, sesekali saya sruput kopi di samping saya. Lalu, menyulut sebatang rokok. Asap pun mengepul dan menemani malam sunyi kala itu. Sesekali ikut ketawa saat Cak Nun atau siapapun di panggung Kenduri Cinta ndagel (ngelawak). Malam itu, kebahagiaan seakan muncul tak terbantahkan.

Bahkan, kebahagiaan itu seakan mengalihkan perhatian saya. Sehingga saya tak bisa membayangkan betapa lelahnya hari-hari Cak Nun. Malam hingga subuh menjelang, Cak Nun menemani Jamaah Maiyah Kenduri Cinta. Keesokan malamnya lagi, sudah harus menyapa masyarakat di pelosok desa. Kebahagiaan mengikuti live streaming Maiyahan kala itu seakan tak menggambarkan macet dan terjalnya perjalanan Cak Nun untuk menyapa masyarakat di kota-kota maupun pelosok desa.

Demikian, kurang lebih suasana saat saya merantau ke luar daerah beberapa bulan pada 2014 lalu dan hanya bisa Maiyahan melalui live streaming.

Fleksibilitas Maiyah

Jika bermaiyah adalah mengikuti Maiyahan dengan duduk berjam-jam hingga tarhim terdengar. Maka betapa sempit dan dangkalnya Maiyah. Bukankah, Maiyah itu luas nan mendalam? Bukankah melakukan apa pun dengan kerangka cinta segitiga: Allah, Rasulullah dan kita, itu sudah bermaiyah?

Bukankah menjalani kehidupan dengan kesadaran tahlukah (penghancuran atas kehancuran) yakni menyadari bahwa hari ini harus senantiasa lebih baik daripada hari kemarin, itu juga sudah bermaiyah?

Bukankah selalu mencari batas dari suatu kebebasan itu sudah bermaiyah? Bukankah tak terburu-buru meyakini ‘ya’ sebelum mengarungi puluhan bahkan ratusan ‘tidak’ itu sudah bermaiyah? Bukankah menjalani hari dengan selalu mempertimbangkan antara wajib, sunnah, mubah atau haram itu sudah bermaiyah?

Bukankah senantiasa menikmati kebahagiaan mencintai melebihi kebahagiaan dicintai;kebahagiaan memberi melebihi kebahagiaan diberi;kebahagiaan menanam melebihi kebahagiaan memanen, itu juga sudah bermaiyah?

Sungguh, betapa lentur dan cairnya Maiyah sehingga kita bisa bermaiyah di mana dan kapan saja.

Arti Sebuah Perjumpaan

Tak bisa dipungkiri bahwa betapa longgar waktu yang disediakan Allah SWT bagi kita. Sehingga betapapun sibuknya aktivitas kita akan selalu ada sedikit waktu untuk kita bisa sesekali menyambangi perjumpaan Maiyah yang terselenggara di berbagai kota di Indonesia. Terlebih saat ini, banyak simpul Maiyah yang tumbuh di berbagai kota di Indonesia. Persisnya, ada 19 simpul Maiyah. Yakni Padhang Bulan (Jombang), Macapat Syafaat (Yogyakarta), Gambang Syafaat (Semarang), Kenduri Cinta (Jakarta), Bangbang Wetan (Surabaya), Maneges Qudrah (Magelang), Juguran Syafaat (Purwokerto & Purbalingga), Relegi (Malang), Nahdlatul Muhammadiyyin (Yogyakarta), Maiyah Ambengan (Metro, Lampung Timur), Waro’ Kaprawiran (Madiun) dll.

Barangkali tak berlebihan, jika di setiap perjumpaan Maiyah di manapun itu berada, baik itu dihadiri Cak Nun ataupun tidak, ada sesuatu yang hidup setelah lama mati. Entah apapun itu wujudnya. Dalam perjumpaan itu, tidakkah kita juga ingin menghidupkan sesuatu yang lama mati dalam diri kita? Layaknya ikan matang yang siap disantap Nabi Musa dan pengikutnya, tapi tiba-tiba hidup dan melompat saat tiba di Majmaal Bahrain (perjumpaan dua buah lautan).

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*