halaman depan

Cerpen – Tuhan Pun Nyempil di Pojok Kota

in Sastra by

Kawasan Malioboro bersinar sangat terik. Hal ini tampaknya dijadikan alasan bagi Kang Marto untuk rehat sejenak dari kegiatan mencari nafkah. Sambil menambatkan becaknya, Kang Marto merogoh kantong celananya, menghitung pendapatannya setengah hari ini. “Narik becak sekarang ini semakin seret”, gumamnya. Setengah ngos-ngosan, gobyos keringet, meskipun baru setengah hari narik becak, Kang Marto memutuskan ngloyor ke angkringan Kang Dar.

Kang Dar heran melihat sahabat karibnya yang baru setengah hari sudah loyo, nggak ada greget, nglokro seperti kumbahan teles.

“Lho Kang Marto, belum ada setengah hari kok udah mampir aja di angkringan saya. Pelanggan banyak ya Kang, pasti kantong udah penuh jam segini..”

“Oh enggak Kang Dar, ini malah lagi seret-seretnya”, keluh Kang Marto. “Pelanggan akhir-akhir ini berkurang. Kebanyakan malah justru bule-bule itu yang minta diantar ke keraton. Kalau orang-orang lokal lebih suka bawa motor sama mobil sendiri. Lagian becak kan sekarang udah dianggap kuno, mahasiswi-mahasiswi pasti gengsi sekarang kalau naik becak”.

Kang Marto yang biasanya cuek saja dengan keadaan, yang selalu nrima ing pandum, sekarang mengadu. Maklumlah di jaman pembangunan seperti sekarang ini, orang-orang kecil makin lama makin tersingkir, makin tergencet oleh iklim persaingan pasar yang tidak menghendaki keikutsertaan golongan menengah kebawah. Usaha kecil terlihat cuma “nyempil” di ruang pembangunan, ada tapi hampir nggak kelihatan, tertutup sama yang modalnya gede-gede.

“Ya sudah Kang, yang sabar aja”, sambil menyodorkan segelas es teh, Kang Dar mencoba menenangkan sahabatnya. “Orang-orang kecil dari dulu kan memang posisinya nyempil. Tapi dari dulu, meskipun kita nyempil, tidak pernah diperhatikan pemerintah, tapi tetap bisa bertahan toh? Wong cilik itu memang yang memperhatikan ya cuma Tuhan, Gusti mboten sare Kang. Ya memang sudah kodratnya kali ya Kang, kalau orang kecil itu harus nrima ing pandum, sing sumarah, tidak boleh kebanyakan ngeluh.”

Tidak setuju dengan pandangan kawan lamanya itu, Kang Marto mencoba memprotes. “Kalau yang di atas kok boleh-boleh saja ngeluh ya Kang. Kalau DPR gajinya kurang ya boleh minta tambah, kalau ruang kerjanya kurang besar ya boleh minta dibangun yang baru, bahkan kalau istrinya kurang cantik pun bisa pesen lho Kang. Terus kalau belum diturutin juga, DPR itu boleh lho tidur-tiduran pas sidang rakyat.”

Mendengar protes Kang Marto, Kang Dar menghela nafas kemudian berkata, “Ya mereka kan beda dari kita, Kang Marto. DPR itu kan wakil rakyat, kalau mereka ngeluh, kalau mereka demo, ya caranya yang terhormat, yang elegan, ya cukup dengan tidur saja. Tidur di ruang rapat itu cara paling ampuh untuk menuntut haknya sebagai wakil rakyat. Jadi DPR demonya ya bukan teriak-teriak di jalan model kita-kita ini. Nanti yang pegang anggaran kan ya sudah peka, sudah paham, demi kemaslahatan bersama, demi kerja pembangunan, ya wakil rakyat harus sejahtera. Kalau sudah naik gaji kan DPR kerjanya jadi sumringah lagi Kang.”

Mendengar penjelasan sahabat karibnya, Kang Marto cuma bisa manggut-manggut. Dia mencoba memahami, bahwa untuk kerja pembangunan, orang-orang kecil memang tidak boleh kecut hati kalau harus nyempil. “Orang-orang yang diatas itu memang aktor pembangunan, yang kaya-raya juga penyokong pembangunan. Jadi orang-orang kecil memang sudah seharusnya maklum. Mereka memang harus berkorban. Jer basuki mawa beya, biar negara jadi maju, malu dong kalau dibilang negara dunia ketiga mulu”, gumamnya. Meskipun sebenarnya sih, dalam hati kecilnya Kang Marto merasa berat menerima keadaan ini, lha wong dia mesti ngidupin keluarga. Kalau terus-terusan nyempil, kasihan anak istrinya. Tapi ya mau bagaimana lagi, dadi wong cilik kan ya kudu sumarah.

“Tapi Kang Dar”, tiba-tiba Kang Marto menyela. “Yang bikin saya kurang sreg, Tuhan kok ikut-ikutan disuruh nyempil juga ya Kang?”

Kang Dar yang lagi ngudek wedang jahe terkejut dengan celetukan Kang Marto. “Hush, jangan ngawur Kang. Jangan bawa-bawa Gusti Allah kalau urusan nyempil. Gusti Allah itu Maha Tinggi, Maha Perkasa, nggak mungkin nyempil seperti kita-kita ini orang cilik.”, hardik Kang Dar.

“Maksud saya gini Kang..”, potong Kang Marto. “Saya kemarin siang kan mau sembahyang Dzuhur di masjid. Karena sudah agak lama tidak sembahyang di masjid itu, saya agak lupa dimana pintu gang masjidnya. Satu-satunya penanda saya ya papan penunjuk dan papan nama masjid. Tapi setengah jam muter-muter sana kok ya nggak ketemu-ketemu, eh ternyata tertutup papan iklan Rexona. Gusti Allah di situ kok disuruh nyempil, diketekin segala, ya meskipun artisnya cantik sih Kang.”

Kang Dar mencoba memahami penjelasan sahabatnya itu. Dalam hati ia mengamini apa yang dirasakan melalui cara pandang manusia modern, segala hal dianggap sebagai komoditas dalam kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan materi. Segala sesuatu yang tidak mendatangkan keuntungan material dianggap layak untuk disingkirkan, setidaknya diumpetin dulu.

“Ya itu sih sekarang di mana-mana, Kang Marto”, Kang Dar menimpali. “Tuhan disuruh nyempil oleh iklan-iklan, oleh hotel-hotel. Di zaman industri dan globalisasi ini memang semua harus mengalah kepada pembangunan Kang, termasuk Tuhan. Gusti Allah sekarang memang jadi ikut nyempil, besok nyembul lagi pas puasa sama lebaran, yang ngangkat juga iklan-iklan sama bangunan-bangunan itu juga.

Allah itu Maha Besar, jadi ya meskipun dikecil-kecilkan, disempil-sempilkan, Allah itu tetap besar. Jadi nggak usah khawatir Kang, yang penting hati kita tidak ikut-ikutan menyempilkan Gusti Allah. Tidak lantas menganggap kecil dan sepele meskipun sekarang ini nama-Nya semakin disepelekan, kita jangan ikut-ikutan”.

“Tapi memang susah Kang”, Sambung Kang Marto. “Gusti Allah memang sudah disempilkan ke pojok-pojok kota, dijadikan dagangan, dijadikan industri, saya juga sekarang susah juga kalau nggak ikut menyempil-nyempilkan Gusti Allah. Kalau rezeki saya lagi seret seperti sekarang ini, Gusti Allah memang tidak nyempil dalam hati saya, nyembul seterang-terangnya seolah-olah dekat sekali. Tapi kalau saya tidak sedang kepepet, Gusti Allah ya saya sempil-sempilkan”.

“Hemm”, Kang Dar kembali menghela nafas. “Ya sebenarnya Tuhan disempil-sempilkan toh tidak ada yang protes. Itu tandanya Tuhan memang sudah nyempil dalam hati masyarakat kita. Toh, kita tenang-tenang saja jika Tuhan disempil-sempilkan oleh iklan, karena kita sebenarnya juga menyempil-nyempilkannya. Jadi ya kita tidak terganggu, karena sudah terbiasa menyempilkan Gusti Allah”

Di era pembangunan ekonomi dan pemenuhan kepuasan materi, apa saja memang seperti layak dikorbankan, dikecilkan perannya, tak terkecuali Tuhan. Di tengah gempuran industrialisasi, Tuhan menempati posisi yang terpojok, dipojokkan, bahkan memojokkan diri-Nya. Meskipun cahaya Ilahi memancar seterang-terangnya, segamblang-gamblangnya, manusia era modern semakin susah untuk merasakannya. Hal ini terjadi lantaran cahaya dan pesona-Nya dibuat “nyempil” dari hati dan pikiran manusia.

“Gusti Allah itu cahayanya lebih terang dari matahari”, ungkap Kang Dar. “Meskipun matahari tertutup oleh gunung, toh kita tahu bahwa matahari tetap ada, karena sinarnya tidak pernah mampu tertutupi oleh seribu gunung sekalipun, apalagi Gusti Allah Yang Maha Bercahaya.”

“Ya tapi…”, Kang Marto bersikeras protes. “Saya tetap tidak setuju kalau Tuhan diperlakukan seperti itu, kan itu keterlaluan Kang”.

Obrolan kang Dar dan Kang  Marto semakin seru. Saking serunya, mereka sampai lupa untuk sembahyang Dzuhur. Tak terasa, di tengah obrolan untuk tidak menyempilkan Tuhan, ternyata Tuhan masih saja tersempilkan..

Tuhan Pun Nyempil di Pojok Kota

Oleh: Arif Rahman

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*