Dinamika Komunitas

in Komunitas by

Komunitas adalah wadah bagi beberapa atau banyak orang yang saling berkumpul dan berguyup atas dasar kesamaan. Kesamaan itu bisa oleh nilai yang dianut, kesamaan hobi, kesamaan minat, kesamaan pergerakan, kesamaan nasib, kesamaan daerah, kesamaan perjuangan dan kesamaan-kesamaan yang lain.

Sebagai komunitas yang memiliki kesamaan-kesamaan tidak dipungkiri bahwa di dalamnya pun ada keberagaman skill dan karakter. Bermacam-macam model sifat manusianya, beda kepentingan, beda maksud dan tujuannya dalam berkomunitas dan sekian perbedaan-perbedaan lain, misalnya.

Ada yang berkomunitas untuk berkontribusi tapi juga ada yang berkomunitas dalam rangka mencari ketercapaian kepentingan. Perbedaan kepentingan itupun juga wajar-wajar saja terjadi di dalam sebuah komunitas. Beda kareb, beda keinginan, beda pemikiran, semuanya adalah potensi dan kekayaan dari komunitas.

Namun begitu jika tidak dikelola dengan baik maka perbedaan kepentingan tersebut pada deviasi langkah kesekian bisa saja menjelma menjadi konflik. Maka dalam komunitas apapun, manajemen komunitas memiliki peran yang cukup signifikan untuk menjaga keberlangsungan dan berjalannya sebuah komunitas.

Manajemen Komunitas

Manajemen itu bisa jadi tertulis dan terstruktur namun juga bisa tidak tercatat tetapi menjadi sebuah kesadaran bersama. Manajemen ini terkait siapa saja yang bisa dan boleh ikut gabung, strategi yang dipakai komunitas ke depan, manajemen konflik, prosedur apa saja yang berlangsung di dalamnya, pola hubungan antar subyek dalam komunitas, pengelolaan motif individu maupun motif bersama, penentuan tujuan bersama dlsb.

Dalam sebuah komunitas pada awalnya bersifat bebas. Artinya bebas mau ikut join atau tidak. Tetapi kalau sudah join maka ada kesepakatan-kesepakatan dan komitmen yang mesti dijaga. Ada tata kelola “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Maka diperlukan kesepakatan bersama untuk membuat aturan mainnya. Salah satu implementasi dari aturan itu bisa berwujud sebuah komitmen. Masing-masing secara sadar mengikatkan diri pada komunitas yang sudah dipilihnya. Komitmen itu pada akhirnya yang menjadi energi untuk menjalankan kegiatan dalam komunitas. Seberapa kuat atau longgarnya sebuah komitmen tersebut ditentukan oleh orang-orang di dalam komunitas.

Dalam sebuah komunitas peran pemimpin dalam menjalankan peran manajemen sangat menentukan. Sebab pemimpinlah yang sedikit banyak akan menciptakan jenis “iklim” seperti apa yang berlangsung dalam komunitas. Pemimpin itu merupakan hasil kesadaran bersama warga komunitas untuk memilih seseorang beberapa orang sebagai penggerak jalannya mesin komunitas.

Pemimpin di sini bisa satu atau beberapa orang yang menjalankan peran kepemimpinan. Selanjutnya antara yang dipimpin dengan yang memimpin, seperti apa pola komunikasinya, alur komandonya, prosedur pelaksanaan suatu mandatnya. Komunikasi yang baik sangat diperlukan dalam urusan pelaksanaan suatu misi komunitas. Tanpa terjalinnya komunikasi yang baik akan banyak menimbulkan prasangka buruk, suudzon, yang dalam langkah ke depannya sangat dimungkinkan akan melahirkan konflik-konflik yang lebih meluas dan merata. Pun sebenarnya konflik-konflik model seperti itu dapat dihindari ketika komunikasi dapat berjalan dengan baik.

Namun demikian seandainya konflik sudah terjadi dan tidak lagi bisa dihindarkan maka diperlukan upaya-upaya penyadaran. Idealnya, suatu komunitas lahir memiliki inti di dalamnya sebutlah itu “inti pengabdian”. Inti pengabdian ini adalah akar dari sebuah pergerakan komunitas. Nilai yang diyakini bersama, bahwa apapun benturan, gesekan, ketidakcocokan yang terjadi harus dikembalikan pada ranah inti pengabdian itu tadi. Bahwa kita semua sama-sama mengabdi.

Adapun inti pengabdiannya itu bisa apa saja, kepada siapa saja, terserah orang-orang didalam komunitas yang menentukan. Seperti, ingat kita sama-sama pencinta kodok bencok, ingat kita sama-sama bismania, ingat kita sama-sama aremania, ingat bendera kita masih sama-sama merah putih, ingat kita sama-sama makhluk Tuhan paling WOW, ingat kita sama-sama Bhineka Tunggal Simbah, dlsb

Memang sih, bukan hal yang mudah untuk mempertahankan sebuah komunitas tetap ada. Wajar apabila pasang surut terjadi di dalam sebuah komunitas. Ada yang datang dan ada yang pergi. Ada yang cuma singgah, sekedar icip-icip dan ada pula yang berusaha menetap berjuang mati-matian mempertahankan tetap adanya komunitas. Ada yang menganggapnya sebagai “second home” tapi juga ada yang menganggapnya sekedar tempat “nggon selonjor” saja.

Adanya sebuah komunitas, mumpung masih ada, manfaatkan sebesar-besarnya, untuk kepentingan bersama. Bagus itu, kalau sampai pada kondisi yang bermanfaat. Sebuah komunitas sudah berhasil sebagai komunitas ketika komunitas tersebut mampu menjadi tempat belajar, tempat berproses, tempat bernaung bagi orang-orang yang terlibat didalamnya. Sebuah komunitas yang mampu menjadi ruang untuk tumbuh, yang menyediakan wahana bermain, ajang aktualisasi diri, tempat berkreasi dan tempat berbagi. Minimal untuk penghuni di dalam komunitas itu sendiri, sokor-sokor melebar ke kanan kirinya. Bisa bermanfaat bagi orang atau komunitas lain disekitarnya.

Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan sebuah komunitas mending dibubarkan, ketika lebih banyak mudhorot daripada manfaatnya. Siapa penentu manfaat atau mudhorotnya? Tidak lain adalah orang-orang di dalam komunitas itu sendiri.

Sekedar menjalankan Peran dan Fungsi

Dalam suatu komunitas sudah pasti akan terbagi menjadi beberapa bagian penting. Bagian yang didasarkan oleh perbedaan peran dan fungsi.

Ibarat sebuah tubuh maka di dalam komunitas ada yang berperan sebagai kepala, ada yang berperan sebagai tangan, ada yang berperan sebagai kaki dlsb. Kesadaran masing-masing terhadap perannya akan mempermudah berjalannya kegiatan dalam komunitas.

Sebaliknya tidak sadar peran hanya akan menimbulkan benturan-benturan dan tersendatnya gelinding roda kegiatan komunitas. Bayangkan saja jika tangan dan kaki bergerak sekehendak sendiri, tangan mau ke Yogya, kaki maunya ke Solo, kepala maunya diam saja. Wah bisa pating-penthalit nantinya, serba tidak karuan. Kepala, tangan, kaki dan semua bagian yang lainnya berposisi sejajar yang membedakan hanya soal peran dan fungsi saja.

Jadi yang jadi kepala ya ndak usah mbagusi karena berada diatas, eling kepala itu tanggung jawabnya paling besar, sebaliknya yang jadi kaki juga tidak perlu merasa minder karena di bawah, sebab tanpa kaki tubuh tidak bisa berjalan. Maka positioning masing-masing anggota komunitas harus disadari terutama terkait peran dan fungsi dari posisi itu tadi.

Sebaik-baik komunitas adalah yang paling bermanfaat untuk orang atau komunitas yang lain. Dan seindah-indah komunitas adalah yang warganya mampu bersyukur kepada Sing Nggawe Urip karena sudah diperkenankan untuk berkumpul, berguyup,bergembira bersama dan berkomunitas ria.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*