JAMAN EDAN

in Sastra by

                                                                                                                        –dari Serat Kalatidha karya R. Ranggawarsita

 

Hamenangi jaman edan

Ewuh aya ing pambudi

Melu ngedan nora tahan

 

Menghadapi jaman gila

Serba salah untuk bersikap

Ikut gila tak sampai hati

 

Saya juga tidak tahu sampai berapa lama Ranggawarsita mendiamkan tiga baris pertama bait ini hingga mencapai baris berikutnya. Pada bagian berikutnya ia menggambarkan kegalauan hati dan kesulitan pilihan antara mengikuti jaman atau menghindarinya. Dengan sangat baik Raden Ranggawarsita menggambarkan sisi manusiawinya. Ada kekhawatiran, atau mungkin juga ketakutan dari konsekuensi pilihan yang akan diambilnya.

 

Yen tan milu hanglakoni

Boya keduman melik

Kaliren wekasanipun

 

Namun bila tidak begitu

Tak kebagian rejeki

Kelaparanlah akhirnya

 

Sampai akhirnya Ranggawarsita menentukan sikap hidupnya di akhir bait. Pilihan yang bijak dan berani telah diambilnya. Pujangga keraton ini memilih untuk menghindar dan tidak ikut ngedan meskipun ia sendiri tahu konsekuensi dari permenungan yang dilakukannya.

 

Ndilalah karsa Allah

Begja-begjane kang lali

Luwih beja kang eling lan waspada

 

(tetapi) atas kehendak Tuhan

Betapapun beruntungnya yang lupa

Lebih beruntung yang ingat dan waspada

Berbeda dengan kedua bait sebelumnya, tiga baris terakhir bait tembang ini menggunakan kalimat kiasan. Seperti halnya ciri bahasa tulisan para pujangga keraton kala itu, Ranggawarsita memilih bahasa sanepa, bahasa yang tidak lugas dan memerlukan tafsir. Namun, justru bahasa kiasan itulah yang menunjukan keunggulan sastranya. Dengan bahasa yang tidak lugas, pujangga ini mewariskan karya sastra yang luar biasa, baik dari keindahan bahasanya maupun dari kedalaman maknanya.

Kata lali atau “lupa” yang dipakai oleh Ranggawarsita jelas merujuk pada keadaan jaman yang edan (gila) dan pada pilihan sebagian besar masyarakat yang ikut ngedan. Sedangkan bagi Ranggawarsita sendiri, seberuntung-beruntungnya orang yang lupa atau ngedan itu, masih lebih beruntung orang yang eling lan waspada (ingat dan waspada). Baris terakhir inilah yang merupakan kunci pilihan sikap hidupnya. Ia tidak hanya menolak untuk mengikuti arus mainstream sebagian besar orang yang lali (lupa), yang mengikuti ke-edan-an jaman, tetapi juga memberikan rujukan laku spiritual untuk selalu ingat (tidak terlena) dan waspada (berhati-hati).

Padahal, di bagian bait sebelumnya pujangga ini menyadari sepenuhnya konsekuensi dari sikap hidup yang melenceng dari arus mainstream itu, bahwa tentu ia akan terjebak pada kesulitan hidup. Jadi apakah sebenarnya yang kemudian meneguhkan keyakinannya akan sikap hidup yang demikian itu? Ternyata Ranggawarsita lebih peduli pada karsa Allah (kehendaknya Tuhan), sebuah konsep nrima orang Jawa yang telah mengakar dan mendarah daging dalam filosofi Jawa, atau dalam konsep Islam kita mengenalnya sebagai tawakkal. Pujangga ini lebih yakin pada kebesaran hati dan kemuliaan daripada menuruti kekhawatirannya akan konsekuensi jaman yang edan tersebut.

Ketika Raden Ranggawarsita mengarang Serat Kalatidha, entah kala itu keadaan jaman memang dinilainya sudah edan atau baru prediksi (proyeksi sikap) dari dirinya sendiri akan datangnya jaman edan, kelak dikemudian hari, tidak ada yang tahu. Yang jelas, kala itu pujangga keraton Surakarta ini telah mengkhawatirkan, memikirkan, merenungkan, hingga mengambil sikap yang bijak dan berani, tentu merupakan suatu kejelian yang mengagumkan dari mata batin seorang satria pandita yang waskita.

Tembang Sinom Ranggawarsita tersebut akan selalu relevan di setiap jaman. Serat Kalatidha lahir dari sebuah permenungan tentang suatu masa. Memang ada kekhawatiran dalam menghadapi jaman yang semakin tidak manusiawi, semakin meniadakan keadilan, semakin mengaburkan kesejatian, tetapi serat ini hadir untuk setidaknya melawan sikap hidup yang demikian. Karya Ranggawarsita tersebut merupakan sebuah sikap liyan, sebuah pemikiran yang berbeda, dan sekaligus berani untuk menentang jaman.

Saya tidak tahu untuk jaman yang sekarang ini termasuk jaman edan atau bukan. Saya juga tidak tahu apakah masih ada orang yang ingin atau mau mengkhayati Serat Kalatidha karangan Raden Ranggawarsita ini. Jikapun ada, saya juga tidak tahu apakah ada yang akan mengikuti pilihan sikap Ranggawarsita seperti yang ditunjukan pada tiga baris terakhir tembangnya? Serat Kalatidha lahir bukan sekedar untuk mengutuk jaman. Ia lahir dengan kehalusan budi, untuk tidak menghilangkan sisi kemanusiaan dari setiap manusia, untuk tidak menyerah kepada jaman yang edan. Karya ini adalah sebuah kearifan di dalam menghadapi kekacauan jaman, sebuah ikhtiar untuk tidak tenggelam dalam keputusasaan. Serat Kalatidha merupakan ijtihad dari seorang pujangga besar bernama Raden Ranggawarsita. [AR]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*