Jejak Perjuangan Umat Islam di Bulan Ramadan

in Komunitas by

Bulan suci Ramadan ialah bulan paling mulia bagi umat Islam. Tentu bukan semata karena pada bulan suci ini Allah SWT telah berjanji melipatgandakan pahala ibadah bagi umatNya, membuka pintu-pintu keberkahan, rahmat serta ampunanNya. Bahkan sekalipun pintu-pintu surga telah dibuka, pintu neraka ditutup sementara dan setan-setan pun dibelenggu di neraka. Kemuliaan Ramadan, terutama memang karena pada bulan suci ini, Allah SWT telah menurunkan dua anugerah terbesarNya sekaligus, yakni berupa peristiwa turunnya Al Quran (Nuzulul Quran) pada 17 Ramadan serta datangnya malam lailatul Qadar.

Namun, lebih dari apa yang selama ini kita pahami tentang kemuliaan Ramadan tersebut, yang kebanyakan memang sudah terberi (given) dari langit, terkadang kita lupa bahwa umat Islam juga telah mencatatkan tonggak sejarah penting di bulan suci ini. Seringkali kita hanya memuji kemuliaan Ramadan sebagai bulan yang paling ideal bagi kita untuk turut serta berlomba-lomba menumpuk pahala dan pencapaian kesalehan individu semata. Sehingga terkadang kita lupa akan perjuangan sosial membangun peradaban yang akan menandai makna kehadiran umat manusia di muka bumi sebagai khalifah Allah. Perjuangan sosial itu tentu tidak akan pernah cukup hanya dengan bermodal ketekunan ibadah mahdlah semata.

Keistimewaan Ramadan juga mencakup dimensi keberkahan sosial. Buktinya, pada bulan Ramadan tahun Ke-2 Hijriyah, zakat fitrah mulai disyariatkan. Pensyariatan zakat fitrah merupakan isyarat dari Allah SWT bahwa ibadah mahdlah berupa penyucian diri sesungguhnya tidak bisa dipisahkan dengan ibadah sosial. Zakat fitrah ialah contoh paling gamblang mengenai kesatuan amal baik itu. Artinya, keistimewaan bulan suci Ramadan dari segi dimensi sosial tentu koheren dengan janji Allah mengenai telah dibukanya pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi. Janji Allah ini telah terbukti di dalam sejarah perjalanan panjang umat Islam sejak masa awal penyebaran agama ini hingga berabad-abad lamanya kemudian. Bulan suci Ramadan ialah bulan dimana umat Islam telah mencatatkan sejarah kemenangan gemilangnya pada perang Badar, tepatnya pada tahun ke 2 hijriyah. Perang Badar merupakan teladan sejarah yang baik mengenai bersatunya kehendak Allah untuk membuka pintu keberkahan dari langit dengan tekad dan kesucian hati umatNya di bumi medan perang.

Selain perang Badar yang legendaris itu, umat Islam di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW juga telah menorehkan kemenangan gemilang pada perang Tabuk, tepatnya pada tahun ke 9 hijriyah. Empat tahun sebelumnya, solidaritas dan persatuan umat Islam di dalam perjuangan membangun parit persiapan perang Khandak juga terjadi di bulan Ramadan meskipun perangnya baru terjadi pada bulan Syawal tahun ke 5 hijriyah. Puncaknya, di bulan suci Ramadan ini pula lebih dari 30 ribu umat Islam di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW pada akhirnya berhasil memasuki kota Mekah tanpa pertumpahan darah. Peristiwa ini kita kenal dengan nama Fathu Makkah (penaklukan Mekah) yang terjadi pada tanggal 10 Ramadan tahun ke 8 hijriyah.

Selain itu, pada bulan Ramadan, umat Islam di bawah kepemimpinan Rasulullah tidak hanya mencatatkan kemenangan gemilang di medan perang belaka, pada bulan suci ini, Agama Islam atas hidayah dan perkenan Allah SWT juga telah berhasil tersebar luas di jazirah Arab tanpa melalui jalan pedang. Tercatat di dalam lembaran sejarah, pada tahun ke-9 Hijriyah, rombongan dari kota Taif tiba di Madinah untuk berbondog bondong secara sukarela memeluk agama Islam di hadapan Rasulullah. Pada hari itu juga mereka pun turut serta berpuasa bersama umat Islam di kota Madinah. Masih pada bulan Ramadhan tahun ke-9 Hijriyah, rombongan Raja Himyar tiba di kota Madinah untuk masuk Islam di hadapan Rasulullah. Kemudian Rasulullah menuliskan beberapa panduan tentang hak dan kewajiban mereka. Catatan ini merupakan salah satu dokumen penting di dalam sejarah perundangan Islam. Sedangkan pada Ramadhan tahun Ke-10 Hijriyah, Rasulullah mengutus rombongan yang diketuai Ali bin Abi Thalib ke negeri Yaman dengan membawa bersamanya surat Rasulullah untuk penduduk Yaman, yaitu suku Hamdan yang kesemuanya kemudian memeluk Islam di hari itu juga.

Bahkan, kemudian berabad-abad lamanya, jauh setelah Rasulullah SAW wafat di Madinah, umat Islam yang sudah tersebar luas di penjuru dunia masih tetap mencatatkan sejarah gemilangnya di bulan Ramadan. Pada tanggal 28 Ramadan tahun Ke-92 Hijriyah, panglima pejuang Islam, Tariq bin Ziyad berhasil mengusai selat Giblatar (Jabal Thoriq) dan membebaskan negeri Andalusia dari Raja Rodrik yang zalim. Kemenangan Tariq bin Ziyad atas Raja Rodrik merupakan tonggak awal dimulainya peradaban Islam di daratan Spanyol hingga lebih dari 500 tahun kemudian.

Selain itu, Pada Ramadan tahun Ke-584 Hijriyah, Salahuddin Al-Ayyubi dapat mengalahkan kaum Salib dan membebaskan sebagian besar negeri yang pernah dikuasai oleh pihak tentara Salib. Sedangkan pada 15 Ramadan tahun Ke-658 Hijriyah, kerajaan Mamalik berhasil membendung serangan pasukan Mongol (tentara Tartar) di ‘Ain Jalud. Tentara Tartar bermaksud memasuki Mesir dan menguasai seluruh negeri Islam di jazirah maghribi (Afrika utara) melalui Mesir. Selain perang pembebasan dan penaklukan, umat Islam juga telah menorehkan sejarah pembangunan pendidikan dengan membangun Al-Jami’ah Al-Azhar pada bulan Ramadhan tahun Ke-361 Hijriyah. Al Jami’ah Al Azhar yang didirikan lebih dari seribu tahun yang lalu itu, kini masih berdiri kokoh sebagai univeristas Islam terkemuka yang sangat besar perannya dalam menyebarkan dakwah agama Islam ke segenap penjuru dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*