Mocopat Syafaat

Category archive

Komunitas - page 2

Istri Sholehah

in Komunitas by

Apa itu sholeh?Apa pula istri sholehah? Penting?

Apa itu sholeh? Tepuk anak sholeh: “Aku anak sholeh, rajin sholat, rajin ngaji, orang tua dihormati……”itu dulu pas saya masih ikut TPA. Kalau sekarang, sedekat (bukan sejauh) penemu saya, sholeh sendiri setahu saya adalah kebaikan yang presisi. Hitung-hitungannya tepat. Dipikirkan secara holistik dan komprehensif. Penuh pertimbangan. Sehingga sholeh sendiri nantinya akan memberi output yang win-win solution, output yang rahmatan lil alamin. Lalu kalau istri yang sholehah itu yang bagaimana?Mari pelan-pelan kita urai dan cari.

Ada proses dan posisi persuami-istrian di jagad raya ni. Antara Tuhan dengan hambaNya, antara manusia dengan alam, antara laki-laki dan perempuan, antara pemimpin dengan rakyatnya, antara petani dengan sawahnya, antara sopir dengan kendaraannya dan masih banyak lainnya. Sehingga istri tidak lain adalah simbiosis dari suami, partner. Ada suami dan ada istri di banyak sisi dan wilayah.

Lalu apakah itu istri sholehah.Setahu saya semua istri ya sholehah.Kalau tidak sholehah maka kurang layak disebut istri.Tapi ya tidak apa-apa pula kalau lebih nyaman menyebutnya istri sholehah.Kalau sederhananya, bayangan saya, istri sholehah itu ya istri yang darinya kita, sebagai suami, sebagai manusia, dari dirinya kita jadi mampu lebih mendekatkan diri kita kepada Allah.Keberadaan dan perilakunya membuat diri kita makin mendekat, makin akrab dengan Allah.Mau istri itu pendiam atau cerewet, tidak jadi soal, asalkan efek yang ditimbulkannya mampu kita respon menjadi sarana mendekat ke Allah.Mau istri itu nerimo ing pandum atau kakeansambat, tidak jadi masalah, selama karenanya berimbas bagi makin intimnya diri kita dengan Allah. Oiya, itu bukan definisi baku. Hanya upaya tadabbur, upaya menyelami sesuatu, berdasarkan kumpulan pemahaman dan pengalaman. Sehingga sangat mungkin tidak sama, berbeda bahkan berseberangan dengan yang Panjenengan semua anggap benar terkait apa itu istri, apa itu sholeh, apa itu sholehah dan apa itu istri sholehah.

Saat Mengenal Istrimu Maka Seketika Mengenal Tuhanmu

Kalau parameternya masih cantik atau tidak cantik, itu berarti masih syariat.Urusannya masih bagaimana warna kulitnya, bentuk bibir dan hidungnya, rambutnya lurus atau ikal, rambutnya panjang atau pendek, tinggi badannya sedang atau tinggi semampai.Itu semua wajar. Termasuk didalamnya juga lulusan sekolah apa, kerjanya dimana, gajinya berapa, anaknya siapa, tinggal dimana. Itu semua tahap paling awal dimana seseorang mengenal perempuan.Kalau di Jawa ada terminologi bobot, bibit dan bebet, bagaimana kualitas seseorang dilihat baik dari sisi lahir maupun batinnya.Bobot mengacu pada kualitas diri seseorang, pendidikan, kecerdasan, perilaku dan kemampuan seseorang.Bibit mengacu pada anak turun siapakah, nasab.Sementara bebet menempati urusan paling akhir, bersifat sekunder yang mengacu pada status sosial, kepangkatan, jabatan seseorang.Tapi itu semua masih dalam tahap sekedar tahu. Baru mengenal.

Setelah mengenal dalam tahap ini, maka seseorang butuh tarekat, atau jalan.Jalan menuju kondisi yang lebih mengenal.Sebutlah itu yang namanya pernikahan.Pintu masuk bagi kondisi untuk lebih saling mengenal.Sebuah wadah yang menjadi jalan efektif dan efisien bagi dua entitas manusia lelaki dan perempuan untuk lebih saling mengenal.Satu sama yang lain benar-benar menuju kondisi tahu luar dan dalam pasangannya. Sebuah kondisi yang sangat subur untuk tumbuh bersama.

Setelah menapaki jalan pernikahan, lambat laun seseorang akan paham betul hakekat dari pasangannya. Tahu betul aslinya, luar dan dalamnya, lahir dan batinnya.Terbukalah semua kebaikan maupun ketidakbaikannya pasangan.Mulai jelas juga mengapa diri dipasangkan dengan pasangan.Ada informasi-informasi baru mengapa diperjodohkan, mengapa dipertemukan.Hakekat suami dan hakekat istri mulai tampak nyata.Suami adalah pakaian bagi istrinya dan sebaliknya istri adalah pakaian bagi suaminya.Pakaian, dimana fungsinya adalah menutupi aurat, saling menyembunyikan aib atau kekurangan pasangannya.Pakaian sebagai pelindung dari terik panas maupun dinginnya cuaca, saling melindungi dari segala macam godaan, bersatu dalam menghadapi lika-liku perikehidupan. Pakaian juga berfungsi memperindah, saling merawat satu sama lain, saling sayang satu sama lain.

Setelahnya baru makrifat.Terbukalah selubung jasad.Terbukalah hijab-hijab jasad sehingga tampaklah yang sebenarnya.Mampu kita temukan Tuhan didalam diri pasangan kita.Mampu kita rasakan kehadiran Tuhan didalam diri pasangan.

Tetapi semuanya itu barulah tahap paling awal.Dimana kita mulai mengenal pasangan. Baru mengenal. Lalu? Setelahnya?

Segalanya Baru Dimulai

Kalau memakai teori kabar bapak angin, “syariat itu kamu naik kapal, tarekat itu kamu dayung kapal, hakekat itu kamu menyelam ke dasar lautan dan makrifat itu kamu menemukan mutiara di dasar lautan. Setelah ketemu mutiara, ya terserah kamu, mau kamu apakan mutiara tersebut.”

Dan sesungguhnya itu semua adalah upaya pengenalan saja.Lebih mengenal, mengenal lebih dalam dan sampai benar-benar mengenal. Kalau sudah kenal, lalu apa. Ya mangga, mau ngapain.Mau gatheng bareng atau sombyong atau benthik ya mangga-mangga mawon.

Kalau dalam berumah tangga setelah mengenal pasangan, selanjutnya adalah mengarungi samudera berumah tangga.Mulai mengimplementasikan visi dan misi bersama.Membangun rumah tangga sakinah.Agar berkahnya merambah ke berbagai wilayah.Saling menyusun agenda perahu rumah tangga.Akan kemana dan bagaimana. Saling dikomunikasikan. Saling melayani satu sama lain. Idealnya sih begitu.Tetapi rumah tangga ya rumah tangga.Banyak tangga yang mesti ditapaki. Tangga kemana? Kemana lagi kalau bukan tangga kedekatan, tangga liqoiRobb, tangga rindu menuju Tuhan.

Pohon Besar Berbuah Manis

in Komunitas by

Etalase Tuhan di dalam asmaulhusnaNya yaitu rahman dan rahim. Bismillahirohmanirrohim. Kasih dan sayang, begitu kita menyebutnya. Kalau bukan karena kasihNya, dunia dan semesta ini tidak akan pernah ada. Apalagi kita, manungsa, yang kalau dilihat dari sudut pandang jagad raya, tampak sangat kecil-mungil ini.

Kalau mau mempelajari secara lebih dalam cintaNya, lebih jeli memandang kasihNya, memang tidak masuk akal kalau Tuhan sampai menghukum hambaNya. Untuk apa, coba? Apa perlunya bagi Tuhan? Apa pentingnya bagi Tuhan? Tuhan bukan tipe yang senang melihat yang lain menderita.

Semua, dari bumi dan langit; dan di antara keduanya, dikasihiNya. Ditampungnya, diperhatikanNya. Bahkan tak sehelai daun pun yang jatuh, yang terlepas dari perhatianNya. Begitulah semestinya manusia. Berguru kepada Tuhan di dalam berkasih sayang. Kasihnya tidak parsial, tidak Cuma lokal, tidak hanya regional tapi universal.

Ikut Mencicipi

Kasih yang sebagaimana dilakukan oleh Kanjeng Nabi-lah, yang kini kurasakan dari Beliau Simbah Guru. Kasihnya yang turah-turah. Siapapun saja, sejahat apapun, Beliau carikan dan sajikan sisi baiknya. Beliau temukan alasan-alasan agar si jahat tetap layak masuk surga. Beliau doakan keselamatan semua orang. Indonesia bahkan dunia selalu tak luput dari perhatiannya. Nasib anak-cucu. Nasib bangsa Indonesia maupun bangsa-bangsa lain di dunia. Sebab, Maiyah bukan hanya untuk Indonesia, Maiyah untuk dunia. Kasih Beliau kepada siapa pun saja, begitu menyejukkan. Simak saja penggalan puisi Beliau dalam “Kudekap Kusayang-sayang”:

Kudekap mereka, kupanggul, kusayang-sayang,

Dan ketika mereka tancapkan pisau ke dadaku,

Mengucur darah dari mereka sendiri,

Sehingga bersegera aku mengusapnya,

kusumpal, kubalut dengan sobekan-sobekan bajuku

Kemudian kudekap ia, kupanggul, kusayang-sayang,

kupeluk,

kugendong-gendong, sampai kemudian mereka tancapkan

lagi pisau ke punggungku, sehingga mengucur lagi darah

batinnya, sehingga aku bersegera mengusapnya,

kusumpal,

kubalut dengan sobekan-sobekan bajuku, kudekap,

kusayang-sayang.

Cakrawala cinta-kasih yang Beliau mainkan sudah sedemikian jauh. Ketika kanak-kanak, kita hanya sanggup mencintai diri-sendiri. Semua hal, maunya diaku-aku, ini punyaku, ini milikku. Makin tumbuh kita mulai belajar mencintai orang lain, meskipun masih dalam rangka mencintai diri. Sebutlah anak ABG yang mulai mencintai lawan jenisnya. Sampai kemudian menikah. Cinta mulai tumbuh lagi dan belajar lagi. Sampai secara total mencintai orang lain, biasanya dimulai ketika dikaruniai anak. Cinta orang tua terhadap anak adalah cinta yang tulus, total, benar-benar mencintai orang lain, orang di luar dirinya. Anak ngompol di celana, anak rewel, anak bandel, tetap didekap, tetap disayang. Seterusnya cinta tumbuh lagi, melebar ke kanan kiri, menyentuh tetangga, masyarakat dan terus menjelajah ke segala penjuru. Nah, dalam hal ini, cinta Simbah Guru sudah sedemikan tumbuh, sedemikian jauh. Telah dan sanggup mencintai orang yang bahkan memusuhinya, memfitnahnya. Tetap Beliau tampung, tetap Beliau pangku, tetap Beliau dekap dan tetap Beliau sayang-sayang.

Semuanya ditampung, semuanya diterima. Semuanya dipersilakan untuk berteduh dan menikmati buah manisnya. Lalu, positioning diri kita sebagai jamaah, lalu seperti apa? Ya terserah diri masing-masing. Dengan kesadaran dan kedaulatannya masing-masing. Mau ikut berteduh saja, ya silahkan. Mau sambil berteduh, belajar meneduhkan, juga bagus. Mau langsung ikut ambil bagian jatah meneduhkan, juga TOP. Mangga-manggalah. Disesuaikan dengan kondisi, kapasitas dan kapabilitas masing-masing.

Profil Omah Aksara

in Komunitas by
omah aksara

Omah Aksara adalah rumah singgah bagi para penjelajah, rumah semadi bagi pejalan sunyi, rumah dialektika bagi para penggali makna. Berbekal kesadaran eling lan waspada, setiap penghuni bebas memilih pintu masuk untuk memasuki kedalaman ilmu, bebas pula memilih pintu keluar untuk mengembara menembus batas cakrawala.

Saban minggu kedua dan keempat, penghuni Omah Aksara berkumpul di Rumah Maiyah Kadipiro. Sedangkan pada minggu pertama dan ketiga, penghuni Omah Aksara menikmati keindahan  malam di angkringan atau warung kopi di sudut-sudut kota Yogyakarta. Di sela-sela menyesap hangatnya secangkir kopi atau teh, penghuni Omah Aksara membincangkan pelbagai fenomena sosial, mencatat gerak kehidupan, saling bertukar kacamata dan pisau analisis hingga saling menelanjangi karya tulis satu sama lain.

Omah aksara tidak berdiri begitu saja, serpihan Omah Aksara mulai terkumpul sejak peristiwa “Pelatihan Kewartawanan” di Rumah Maiyah Kadipiro Yogyakarta, pada 26 Februari 2015. Serpihan itupun mengalami perjalanan panjang, ada yang terkumpul, ada pula yang terberai. Dan seiring berjalannya waktu kumpulan serpihan itu semakin memadat, terilhami puisi Rumah karya Damanto Yatman akhirnya pada 12 April 2015 kumpulan serpihan ini mendirikan Omah Aksara.

Go to Top