Mocopat Syafaat

Category archive

Komunitas - page 3

Iman dan Pengetahuan Saling Berkaitan

in Komunitas by

Pada Sabtu, 20 Pebruari 2016, Redaksi Macapat Syafaat. berkesempatan menghadiri Majelis Masyarakat Maiyah Waro’ Kaprawiran (MMMWK) di Madiun, Jawa Timur. Pada kesempatan itu digelar juga Forum Silaturahmi Pegiat Maiyah Nusantara. Beberapa simpul Maiyah Nusantara diantaranya Rembug Macapat Syafaat (Yogya), Nahdlatul Muhammadiyyin (Yogya), Likuran Paseduluran (Kebumen), Juguran Syafaat (Purwokerto) Bangbang Wetan (Surabaya), dan Jamparing Asih (Bandung) turut hadir dan saling berbagi pengalaman.

Bertempat di SMK Nusantara, Forum Silaturahmi Pegiat Maiyah Nusantara diiringi rintik hujan. Dipandu Mas Harianto, Pak Toto Rahardjo, Mas Helmi Mustofa dan Cak Zaki, Forum Silaturahmi Pegiat Maiyah Nusantara membahas perkembangan simpul Waro’ Kaprawiran. Waro’ Kaprawiran merupakan simpul Maiyah yang terdiri dari empat kabupaten yakni Madiun, Ngawi, Ponorogo dan Magetan.

Usai acara tersebut, para Pegiat Maiyah Nusantara turut memasuki pintu-pintu ilmu MMWK. Tepat pukul 20.30 WIB hujan reda, lalu MMWK dibuka dengan tadarrus Al Quran. Lalu dilanjutkan dengan sholawatan diiringi hadroh Waro’ Kaprawiran.

Malam itu, MMWK mengangkat tema Trabbasan. Mas Zainul dan Mas Waluyo dari MMWK menyapa jamaah sekaligus memberikan lambaran (pengantar) dengan melontarkan pertanyaan seputar agama dan ketuhanan. “Kenapa sih kita harus menyembah Tuhan? Sebenarnya Tuhan itu sendiri ada tidak?,” tanya Mas Waluyo kepada Mas Sabrang sekaligus mengajak jamaah untuk bersama-sama menggali ilmu.

“Jika kamu belum mengetahui tentang Tuhan, maka yang pertama percaya (iman) saja, seiring berjalannya proses nantinya kita akan menemukan pengalaman spiritual sehingga percaya (iman) akan terkikis berubah menjadi keyakinan,” Mas Sabrang mengawali diskusi malam itu.

Menurut Mas Sabrang iman itu penting. Ibaratnnya seperti perjalanan dari Yogya ke Madiun. Untuk sampai ke Madiun, meski melewati jalur manapun tetap membutuhkan petunjuk, karena kita tidak tahu persis jalan mana yang harus kita pilih untuk sampai di tujuan. Oleh karena itu, kita sering menggunakan GPS untuk membantu menemukan tempat yang dituju. Kita pasti percaya pada GPS, mengimani GPS, maka GPS itu adalah ‘jembatan’ untuk bisa sampai pada tujuan. Begitu pula dalam Islam, kita akan susah untuk bertemu Tuhan, maka kita perlu jembatan yang bernama iman, percaya dahulu bahwa Tuhan itu ada, baru mencari dengan pengetahuan. Dengan pengetahuan, iman akan terkikis dan berubah menjadi keyakinan.

Mas Hariyanto menambahkan dalam rukun Islam selalu ada yang membatalkan. Misalkan kentut, akan membatalkan wudhu. Lalu, apa yang membatalkan syahadat? Jika kita baca hadits Nabi, selalu ada kaitan antara iman dengan perilaku sehari-hari. Misalkan “barangsiapa beriman kepada Allah, maka berkatalah baik atau diam”. “Tindakan keseharian menjadi tolak ukur kadar keimanan, maka  tindakan yang tidak berperilaku baik kepada sekitar, tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan akan membuat pengingkaran terhadap keimanan, dan bisa dibilang itulah yang membatalkan syahadat,” ujar Mas Hariyanto.

Lalu, Mas Helmi turut merespon paparan Mas Sabrang. “Antara iman dan pengetahuan, lebih dulu mana, Mas Sabrang?,” tanya Mas Helmi pada Mas Sabrang.

Mas Sabrang tidak langsung menjawab lebih dulu mana diantara dua hal tersebut. Sebab, menurutnya iman dan pengetahuan saling berkaitan. Bahkan, iman dan pengetahuan memiliki lapis-lapis yang tidak akan habis. Jika kita diberi ilmu tanpa iman kita belum jelas menatanya seperti apa. Demikian juga, jika kita beriman tanpa mencari ilmu kita juga tidak akan berkembang semakin mendekat kepada Tuhan. Jadi ilmu dan iman adalah tahapan yang harus dilewati.

“Ilmu dan iman saling berkaitan, terus-menerus harus digali. Kita tidak diwajibkan menemukan Tuhan ,akan tetapi kita diwajibkan untuk tidak berhenti mencari, berani beriman tetapi tidak berhenti mencari,” tutur Mas Sabrang.

Bermaiyah Kapan Saja

in Komunitas by

Saat pukul 20.00 wib tiba, sontak saya menyalakan laptop. Koneksi internet pun saya aktifkan. Dan lekas membuka Facebook, lalu mencari link live streaming Maiyahan melalui akun-akun FB Jamaah Maiyah atau grup FB Maiyah yang saya ikuti.

Usai menemukan link live streaming Maiyahan, lalu saya klik dan saya pun menyimaknya sampai tuntas. Menyimak live streaming Maiyahan tanpa segelas kopi ibarat makan sayur tanpa garam. Segelas kopi pun saya siapkan sembari menikmati live streaming Maiyah dari kejauhan.

Dan segelas kopi jelas tak cukup untuk mengarungi luasnya lautan ilmu Maiyah. Terlebih di malam hari, selalu ada rasa kantuk yang menghampiri. Saya pun menyalakan beberapa batang rokok untuk mengusir rasa kantuk. Begitu nikmatnya Maiyahan meski cuma lewat live streaming.

Selain itu, kenikmatan Maiyahan masih terasa meski rasa kebelet menghampiri. Sebab, saya masih bisa ke toilet dan menyimaknya dari kejauhan. Jika meminjam ayat Allah SWT: “maka nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?” Rasa nikmat itu seakan membuat saya lupa akan rasa getir menahan kebelet saat duduk di pelataran TKIT Alhamdulillah. Bahkan, saya tak bisa membayangkan berapa panjang antrian untuk bisa melepas “panggilan alam” itu di toilet TKIT Alhamdulillah.

Hari pun berganti, hingga saya mendapat kabar bahwa setiap Jum’at minggu kedua, ada Kenduri Cinta, Majelis Masyarakat Maiyah di Jakarta. Saat itu, tepat Jum’at minggu kedua, persis pukul 20.00 wib, saya pun kembali menyalakan laptop. Lalu, membuka fanspage Kenduri Cinta dan betapa bahagianya menemukan link live streaming Kenduri Cinta. Saya pun membukanya. Saat itu, segelas kopi dan rokok, sudah siap menemani ‘perjalanan panjang’ menyantap Kenduri Cinta.

Dan, “nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?” kembali menemukan momentumnya. Saya bahagia bisa menyantap Kenduri Cinta meski hanya lewat dunia maya. Untuk menyantap Kenduri Cinta malam itu, sesekali saya sruput kopi di samping saya. Lalu, menyulut sebatang rokok. Asap pun mengepul dan menemani malam sunyi kala itu. Sesekali ikut ketawa saat Cak Nun atau siapapun di panggung Kenduri Cinta ndagel (ngelawak). Malam itu, kebahagiaan seakan muncul tak terbantahkan.

Bahkan, kebahagiaan itu seakan mengalihkan perhatian saya. Sehingga saya tak bisa membayangkan betapa lelahnya hari-hari Cak Nun. Malam hingga subuh menjelang, Cak Nun menemani Jamaah Maiyah Kenduri Cinta. Keesokan malamnya lagi, sudah harus menyapa masyarakat di pelosok desa. Kebahagiaan mengikuti live streaming Maiyahan kala itu seakan tak menggambarkan macet dan terjalnya perjalanan Cak Nun untuk menyapa masyarakat di kota-kota maupun pelosok desa.

Demikian, kurang lebih suasana saat saya merantau ke luar daerah beberapa bulan pada 2014 lalu dan hanya bisa Maiyahan melalui live streaming.

Fleksibilitas Maiyah

Jika bermaiyah adalah mengikuti Maiyahan dengan duduk berjam-jam hingga tarhim terdengar. Maka betapa sempit dan dangkalnya Maiyah. Bukankah, Maiyah itu luas nan mendalam? Bukankah melakukan apa pun dengan kerangka cinta segitiga: Allah, Rasulullah dan kita, itu sudah bermaiyah?

Bukankah menjalani kehidupan dengan kesadaran tahlukah (penghancuran atas kehancuran) yakni menyadari bahwa hari ini harus senantiasa lebih baik daripada hari kemarin, itu juga sudah bermaiyah?

Bukankah selalu mencari batas dari suatu kebebasan itu sudah bermaiyah? Bukankah tak terburu-buru meyakini ‘ya’ sebelum mengarungi puluhan bahkan ratusan ‘tidak’ itu sudah bermaiyah? Bukankah menjalani hari dengan selalu mempertimbangkan antara wajib, sunnah, mubah atau haram itu sudah bermaiyah?

Bukankah senantiasa menikmati kebahagiaan mencintai melebihi kebahagiaan dicintai;kebahagiaan memberi melebihi kebahagiaan diberi;kebahagiaan menanam melebihi kebahagiaan memanen, itu juga sudah bermaiyah?

Sungguh, betapa lentur dan cairnya Maiyah sehingga kita bisa bermaiyah di mana dan kapan saja.

Arti Sebuah Perjumpaan

Tak bisa dipungkiri bahwa betapa longgar waktu yang disediakan Allah SWT bagi kita. Sehingga betapapun sibuknya aktivitas kita akan selalu ada sedikit waktu untuk kita bisa sesekali menyambangi perjumpaan Maiyah yang terselenggara di berbagai kota di Indonesia. Terlebih saat ini, banyak simpul Maiyah yang tumbuh di berbagai kota di Indonesia. Persisnya, ada 19 simpul Maiyah. Yakni Padhang Bulan (Jombang), Macapat Syafaat (Yogyakarta), Gambang Syafaat (Semarang), Kenduri Cinta (Jakarta), Bangbang Wetan (Surabaya), Maneges Qudrah (Magelang), Juguran Syafaat (Purwokerto & Purbalingga), Relegi (Malang), Nahdlatul Muhammadiyyin (Yogyakarta), Maiyah Ambengan (Metro, Lampung Timur), Waro’ Kaprawiran (Madiun) dll.

Barangkali tak berlebihan, jika di setiap perjumpaan Maiyah di manapun itu berada, baik itu dihadiri Cak Nun ataupun tidak, ada sesuatu yang hidup setelah lama mati. Entah apapun itu wujudnya. Dalam perjumpaan itu, tidakkah kita juga ingin menghidupkan sesuatu yang lama mati dalam diri kita? Layaknya ikan matang yang siap disantap Nabi Musa dan pengikutnya, tapi tiba-tiba hidup dan melompat saat tiba di Majmaal Bahrain (perjumpaan dua buah lautan).

Kedaulatan Manusia Maiyah

in Komunitas by
  1. Maiyah adalah cara belajar kehidupan yang unik.
  2. Keunikan belajar di Maiyah juga karena tidak ada janji apapun yang disepakati sebagai alasan untuk belajar. Di Maiyah, setiap individu berhak memetik ilm yang manapun yang ia perlukan. Sesuatu yang dianggap baik bagi dirinya belum tentu baik bagi orang lain, begitu juga sesuatu yang dianggap buruk bagi dirinya, belum tentu buruk bagi orang lain. Bertebarannya ilmu di Maiyah dipetik sendiri oleh setiap yang hadir, bukan dicekoki atau didoktrinkan. Keunikan tersebut terlihat pada beberapa ciri diantaranya: tidak bersifat otoritatif, motif berkumpulnya yang menegasikan motif-motif yang ada selama ini dan dibangunnya semangat mencari apa yang benar, bukan siapa yang benar.
  3. Yang dimaksud ‘tidak bersifat otoritatif’ adalah di dalam Maiyah siapa saja bisa dan boleh berbicara. Berbeda pada komunitas atau organisasi lainnya, yang lazimnya orang disodori ‘ini lho yang benar’, di Maiyah semua teori dilontarkan. Masing-masing orang yang akan mengujinya di dalam pengalaman hidup. Teori-teori, pengetahuan dan pandangan yang dilontarkan sebagai diskursus untuk mencari kebenaran masing-masing.
  4. Dalam proses pembelajaran yang unik itu, Maiyah cenderung menempatkan kasus per kasus hanya sebagai contoh, sehingga tidak terseret dalam wilayah pro-kontra, mendukung-menolak, memihak-memusuhi, setuju-tidak setuju.
  5. Yang dimaksud ‘motif berkumpulnya menegaskan motif-motif yang ada’ adalah jamaah tidak berkumpul di dalam Maiyah dengan motif yang ada pada lazimnya orang berkumpul, misalnya untuk mencari surga, mencari kekuasaan, mencari keuntungan ekonomi, atau kesamaan nasib, sebab Maiyah tidak menjanjikan semua itu. Pada faktanya, setiap jamaah memiliki motifnya masing-masing (bisa termasuk motif-motif tersebut di atas), tetapi yang mengikat mereka adalah ‘kebersamaan’. Di dalam kebersaman itu yang berlangsung adalah pengayaan wacana dan ilmu. Pengalaman masing-masing menentukan apa yang diperoleh. Dan karena itu, mereka tidak memperdebatkan ilmu, karena mereka menikmati kekayaan ilmu, sehingga yang tumbuh di dalam diri mereka adalah kelapangan jiwa dan toleransi dan mampu menampung semuanya.
  6. Di dalam Maiyah, jamaah dinalurikan untuk ‘tidak mencari siapa yang benar tapi apa yang benar’. Lazimnya, ketika menerima informasi, orang akan memiliki reaksi ‘benar’ atau ‘salah’ dan kemudian ‘percaya’ atau ‘tidak percaya’. Dalam hal ini, Maiyah mendorong agar setiap individu mengolahnya (dengan metodologi yang mengandung prinsip ‘tidak mencari siapa yang benar tapi apa yang benar’) sedemikian rupa secara berdaulat, sehingga ketika ia sampai pada suatu kesimpulan, itu tetap berdasarkan kedaulatan dan kemandiriannya. Di sini, siapapun bisa menjadi guru dan teori apapun diterima sebagai wacana untuk masing-masing individu menemukan kebenaran. Pemahaman dan pengalaman hidup yang akan menguji kebenaran itu. demikianlah, Maiyah memberi jarak antara wacana dan kepercayaan akan kebenaran, sehingga masing-masing individu memiliki ruang untuk mengolah semua informasi yang diperoleh untuk menjadi kebenaran yang diyakininya.
  7. Output dari semua proses di atas adalah kedaulatan manusia Maiyah. Yaitu manusia yang berkebersaman. Di dalam kebersamaan itu, mereka membangun naluri-naluri dasar. Mereka mengidentifikasi, lalu memiliki kesimpulan, yang boleh jadi sama. Mereka mengidentifikasi, lalu memilik kesimpulan, yang boleh jadi sama. Kebersamaan di dalam Maiyah tersebut membantu memperkaya view yang akan menumbuhkan dan meneguhkan kedaulatan individu tersebut.
  8. Di dalam Maiyah tidak ada kewajiban untuk patuh terhadap figur. Jika pun masing-masing jamaah Maiyah merasakan dan menemukan keharusan untuk patuh terhadap figur semata didasarkan dan merupakan hasil dari proses kedaulatan individu.
  9. Aktivitas bermaiyah berangkat dari keseharian masing-masing. Sehingga sikap bermasyarakat orang-orang Maiyah tidak berbasis isu tapi berakar pada permasalahan hidup yang dihadapi sehari-hari di lingkungannya.
Go to Top