Membaca kembali “Jawa”

in Sastra by
Babad Tanah Jawa Jilid 1 & 2
Babad Tanah Jawa Jilid 1 & 2

Kapan terakhir Anda membaca teks ataupun buku berbahasa Jawa ? Jangan-jangan sewaktu belajar di SD atau SMP. Jangan khawatir Anda tidak sendirian, karena secara umum, sekarang ini memang tidak mudah untuk mendapatkan teks atau buku berbahasa Jawa. Namun alangkah baiknya kalau kita menyempatkan diri, untuk mau mencari dan membaca kembali “Jawa”.

Hal itu bisa dimulai dengan membaca buku Babad Tanah Jawa, sebuah karya sastra sejarah berbahasa Jawa dari sudut pandang orang Jawa sendiri. Kata babad sendiri berasal dari bahasa Jawa yang artinya “membuka lahan baru” atau “memotong pohon/ hutan”, hal ini berarti babad tanah Jawa, mengisahkan bagaimana para Raja ataupun para calon Raja memulai kekuasaannya di tanah Jawa.

Versi Babad Tanah Jawa yang menjadi koleksi Perpustakaan EAN ini, diceritakan oleh Sugiarta Sriwibawa dan diterbitkan Pustaka Jaya memiliki dua jilid. Diawali dengan kisah Prabu Watugunung raja Gilingwesi dengan dua istrinya Dewi Sinta dan Dewi Landep yang mempunyai 27 putra, yaitu: Wukir, Kurantil, Tolu, Gumbreg, Warigalit, Warigagung, Julungwangi, Sungsang, Galungan, Kuningan, Langkir, Mandhasiya, Julungpujut, Pahang, Kuruwelut, Marakeh, Tambir, Medhangkungan, Maktal, Puye, Menahil, Prangbakat, Bala, Wugu, Wayang, Kulawu dan Dhukut. Yang menarik adalah nama-nama tokoh ini kemudian dijadikan nama penanggalan Wuku, yaitu siklus waktu yang berlangsung selama 30 pekan (Pawukon).

Kemudian cerita beralih ke daerah Jawa Barat di kerajaan Pajajaran dengan tokoh Siyung Wanara yang menyebabkan konflik di kerajaan, menyebabkan salah satu pangerannya mengungsi ke Jawa Timur dan mendirikan kerajaan Majapahit di sana.Dilanjutkan kisah Jaka Tarub dengan bidadari Nawangwulannya. Konon, cerita seperti ini tidak hanya ada di Indonesia, namun juga di Jepang dan Korea.

Kisah Jaka Tingkir dimasa akhir-akhir kasultanan Demak sampai ia sendiri menjadi Sultan di Pajang, panjang lebar dikisahkan dalam buku ini. Konflik dengan Arya Panangsang membuat ia mengutus Ki Pamanahan, Ki Panjawi, Ki Juru Martani beserta pasukannya untuk mengalahkannya. Kejadian dan tokoh-tokoh inilah yang akan mengawali berdirinya kerajaan baru, Kerajaan Mataram, yang sudah diperkirakan Sunan Giri sebelumnya. Daerah yang pada saat itu masih berupa hutan dibawah kekuasan Panembahan Senapati berubah menjadi kerajaan mandiri lepas dari kerajaan Pajang, bahkan melakukan penaklukan luas ke daerah-daerah lain. Usahanya kemudian diteruskan oleh Sulthan Agung, yang dijelaskan panjang lebar dalam buku jilid II.

 Bausastra Jawa- Indonesia I & II (Kamus Bahasa Jawa)
Bausastra Jawa- Indonesia I & II (Kamus Bahasa Jawa)

Buku ini mengggunakan bahasa Jawa sehari-hari yang tidak terlalu sulit untuk dimengerti, walaupun demikian jika ada kosakata tertentu yang tidak dimengerti, anda dapat membuka Bausastra Jawa- Indonesia I & II (Kamus Bahasa Jawa) yang juga menjadi koleksi Perpustakaan EAN.

Sumonggo dipun waos!

 

*Suci Bramasari-RPK

 

Dipilih lan dicritakake saka babon Serat Babad Tanah Jawi

Babad Tanah Jawa Jilid I

Dicritakake dening : Sugiarta Sriwibawa

Kababar Dening : PT. Dunia Pustaka Jaya

Cap-Capan kapisan : 1976

Karengga Gambar Dening : A Wakidjan

Kaecap Dening : Fa Ekonomi, Bandung

 

Babad Tanah Jawa Jilid II

Dicritakake dening : Sugiarta Sriwibawa

Kababar Dening : PT. Dunia Pustaka Jaya

Cap-Capan kapisan : 1977

Karengga Gambar Dening : A Wakidjan

Kaecap Dening : Mus Karya Offset, Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*