Monolog Ramadan

in Redaksi by

Sejak pernah pasa mbedug dan kini ikut pasa nutuk, tentu engkau aku masih melihat monolog selalu diperagakan selama bulan Ramadan. Yakni seorang ustadz atau kiai berceramah, lalu jamaah hanya wajib setor muka dan telinga. Nyaris tak ada dialog, percakapan dua arah. Kalaupun ada, sekadar “Betul tidak bu? Betul tidak pak?” Jamaah pun sontak menimpali: “betul!!!”

Dan itu bisa ditemui hampir di seluruh masjid. Terutama pada acara kuliah shubuh, kuliah tujuh menit (kultum) jelang shalat tarawih atau buka bersama.

Hal demikian sebenarnya patut disayangkan. Sebab sebenarnya momentum itu bisa dijadikan forum dialog, percakapan dua arah, ajang saling berbagi informasi antar jamaah. Kalaupun harus menghadirkan seorang ustadz atau kiai, ia hanya berperan sebagai teman diskusi, kedudukan dan hak bicaranya sama dengan jamaah lain. Tentu itu akan sangat menarik. Bahkan dengan mekanisme itu, obrolan jauh lebih luas dan konkret.

Misalnya jelang adzan Maghrib tiba, salah seorang jamaah curhat soal kambingnya yang sakit-sakitan. Lalu direspon jamaah lainnya dengan sebuah tawaran jamu ternak bikinannya sendiri. Bukankah itu amat mengesankan?

Atau jelang shalat Tarawih, kuliah tujuh menit tidak diisi seorang ustadz atau kiai. Tapi diisi salah satu jamaah, misal seorang petani. Lalu ia menjelaskan bahwa cangkul itu sangat religious. Sebab ada tiga bagian, pertama pacul, bermakna ngipatake kang muncul, selalu menghalau rintangan yang muncul. Kedua bawak, bermakna obahing awak, geraknya tubuh. Ketiga doran, bermakna donga maring pangeran, selalu berdoa kepada Tuhan. Jadi cangkul itu mengajarkan agar kita selalu berproses, bergerak menghalau setiap rintangan dan selalu berdoa kepada Tuhan. Bukankah itu amat syahdu?

Jika demikian adanya, maka slogan bulan penuh berkah bukan pepesan kosong. Dan bila permulaan bulan adalah rahmat, pertengahan adalah ampunan serta paripurna adalah pembebasan dari neraka, itu juga benar kita rasakan. Bahkan kita tak harus sibuk saat tanggal ganjil demi meraih lailatul qadar. Sebaliknya kita merasa setiap malam adalah lailatul qadar. Ah, andai saja bulan Ramadhan demikian.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*