Mocopat Syafaat

Placeholder
Komunitas

Dinamika Komunitas

Komunitas adalah wadah bagi beberapa atau banyak orang yang saling berkumpul dan berguyup atas dasar kesamaan. Kesamaan itu bisa oleh nilai yang … Keep Reading

  • JAMAN EDAN

                                                                                                                            –dari Serat Kalatidha karya R. Ranggawarsita   Hamenangi jaman edan Ewuh aya ing pambudi Melu ngedan nora tahan  … Keep Reading

  • Jelang Ihtifal Maiyah

              Bulan Mei 2016 merupakan bulan spesial bagi Jamaah Maiyah Nusantara. Bukan hanya karena sebulan lagi memasuki bulan Ramadhan, akan… Keep Reading

Jejak Perjuangan Umat Islam di Bulan Ramadan

in Komunitas by

Bulan suci Ramadan ialah bulan paling mulia bagi umat Islam. Tentu bukan semata karena pada bulan suci ini Allah SWT telah berjanji melipatgandakan pahala ibadah bagi umatNya, membuka pintu-pintu keberkahan, rahmat serta ampunanNya. Bahkan sekalipun pintu-pintu surga telah dibuka, pintu neraka ditutup sementara dan setan-setan pun dibelenggu di neraka. Kemuliaan Ramadan, terutama memang karena pada bulan suci ini, Allah SWT telah menurunkan dua anugerah terbesarNya sekaligus, yakni berupa peristiwa turunnya Al Quran (Nuzulul Quran) pada 17 Ramadan serta datangnya malam lailatul Qadar.

Namun, lebih dari apa yang selama ini kita pahami tentang kemuliaan Ramadan tersebut, yang kebanyakan memang sudah terberi (given) dari langit, terkadang kita lupa bahwa umat Islam juga telah mencatatkan tonggak sejarah penting di bulan suci ini. Seringkali kita hanya memuji kemuliaan Ramadan sebagai bulan yang paling ideal bagi kita untuk turut serta berlomba-lomba menumpuk pahala dan pencapaian kesalehan individu semata. Sehingga terkadang kita lupa akan perjuangan sosial membangun peradaban yang akan menandai makna kehadiran umat manusia di muka bumi sebagai khalifah Allah. Perjuangan sosial itu tentu tidak akan pernah cukup hanya dengan bermodal ketekunan ibadah mahdlah semata.

Keistimewaan Ramadan juga mencakup dimensi keberkahan sosial. Buktinya, pada bulan Ramadan tahun Ke-2 Hijriyah, zakat fitrah mulai disyariatkan. Pensyariatan zakat fitrah merupakan isyarat dari Allah SWT bahwa ibadah mahdlah berupa penyucian diri sesungguhnya tidak bisa dipisahkan dengan ibadah sosial. Zakat fitrah ialah contoh paling gamblang mengenai kesatuan amal baik itu. Artinya, keistimewaan bulan suci Ramadan dari segi dimensi sosial tentu koheren dengan janji Allah mengenai telah dibukanya pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi. Janji Allah ini telah terbukti di dalam sejarah perjalanan panjang umat Islam sejak masa awal penyebaran agama ini hingga berabad-abad lamanya kemudian. Bulan suci Ramadan ialah bulan dimana umat Islam telah mencatatkan sejarah kemenangan gemilangnya pada perang Badar, tepatnya pada tahun ke 2 hijriyah. Perang Badar merupakan teladan sejarah yang baik mengenai bersatunya kehendak Allah untuk membuka pintu keberkahan dari langit dengan tekad dan kesucian hati umatNya di bumi medan perang.

Selain perang Badar yang legendaris itu, umat Islam di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW juga telah menorehkan kemenangan gemilang pada perang Tabuk, tepatnya pada tahun ke 9 hijriyah. Empat tahun sebelumnya, solidaritas dan persatuan umat Islam di dalam perjuangan membangun parit persiapan perang Khandak juga terjadi di bulan Ramadan meskipun perangnya baru terjadi pada bulan Syawal tahun ke 5 hijriyah. Puncaknya, di bulan suci Ramadan ini pula lebih dari 30 ribu umat Islam di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW pada akhirnya berhasil memasuki kota Mekah tanpa pertumpahan darah. Peristiwa ini kita kenal dengan nama Fathu Makkah (penaklukan Mekah) yang terjadi pada tanggal 10 Ramadan tahun ke 8 hijriyah.

Selain itu, pada bulan Ramadan, umat Islam di bawah kepemimpinan Rasulullah tidak hanya mencatatkan kemenangan gemilang di medan perang belaka, pada bulan suci ini, Agama Islam atas hidayah dan perkenan Allah SWT juga telah berhasil tersebar luas di jazirah Arab tanpa melalui jalan pedang. Tercatat di dalam lembaran sejarah, pada tahun ke-9 Hijriyah, rombongan dari kota Taif tiba di Madinah untuk berbondog bondong secara sukarela memeluk agama Islam di hadapan Rasulullah. Pada hari itu juga mereka pun turut serta berpuasa bersama umat Islam di kota Madinah. Masih pada bulan Ramadhan tahun ke-9 Hijriyah, rombongan Raja Himyar tiba di kota Madinah untuk masuk Islam di hadapan Rasulullah. Kemudian Rasulullah menuliskan beberapa panduan tentang hak dan kewajiban mereka. Catatan ini merupakan salah satu dokumen penting di dalam sejarah perundangan Islam. Sedangkan pada Ramadhan tahun Ke-10 Hijriyah, Rasulullah mengutus rombongan yang diketuai Ali bin Abi Thalib ke negeri Yaman dengan membawa bersamanya surat Rasulullah untuk penduduk Yaman, yaitu suku Hamdan yang kesemuanya kemudian memeluk Islam di hari itu juga.

Bahkan, kemudian berabad-abad lamanya, jauh setelah Rasulullah SAW wafat di Madinah, umat Islam yang sudah tersebar luas di penjuru dunia masih tetap mencatatkan sejarah gemilangnya di bulan Ramadan. Pada tanggal 28 Ramadan tahun Ke-92 Hijriyah, panglima pejuang Islam, Tariq bin Ziyad berhasil mengusai selat Giblatar (Jabal Thoriq) dan membebaskan negeri Andalusia dari Raja Rodrik yang zalim. Kemenangan Tariq bin Ziyad atas Raja Rodrik merupakan tonggak awal dimulainya peradaban Islam di daratan Spanyol hingga lebih dari 500 tahun kemudian.

Selain itu, Pada Ramadan tahun Ke-584 Hijriyah, Salahuddin Al-Ayyubi dapat mengalahkan kaum Salib dan membebaskan sebagian besar negeri yang pernah dikuasai oleh pihak tentara Salib. Sedangkan pada 15 Ramadan tahun Ke-658 Hijriyah, kerajaan Mamalik berhasil membendung serangan pasukan Mongol (tentara Tartar) di ‘Ain Jalud. Tentara Tartar bermaksud memasuki Mesir dan menguasai seluruh negeri Islam di jazirah maghribi (Afrika utara) melalui Mesir. Selain perang pembebasan dan penaklukan, umat Islam juga telah menorehkan sejarah pembangunan pendidikan dengan membangun Al-Jami’ah Al-Azhar pada bulan Ramadhan tahun Ke-361 Hijriyah. Al Jami’ah Al Azhar yang didirikan lebih dari seribu tahun yang lalu itu, kini masih berdiri kokoh sebagai univeristas Islam terkemuka yang sangat besar perannya dalam menyebarkan dakwah agama Islam ke segenap penjuru dunia.

PRAMOEDYA ANANTA TOER, Kiprah dan Beberapa Sanggahan

in Sastra by

Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, 6 Februari 1925. Seorang sastrawan yang Max Lane menyebutnya sebagai Indonesia’s greatest novelist, melalui novel-novelnya yang fenomenal, yakni: Tetralogi Pulau Buru, Arus Balik, Arok Dedes atau melalui karya kumpulan cerita pendeknya, seperti: Cerita dari Blora, Percikan Revolusi dan lain-lain. Pram telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing. Pram juga beberapa kali masuk nominasi hadiah nobel, mendapat penghargaan UNESCO, dan banyak penghargaan internasional lainnya. Baginya, keberanian adalah hal yang pokok dan mendasar dalam hidup, termasuk hal yang menjiwai tulisannya. “Kalau kalian tidak memiliki keberanian, lantas apa harga hidup kalian,”ujarnya dalam pelbagai wawancara.

Sebenarnya, apa yang menjadi pijakan keberaniannya? Jika risikonya dia mengalami penderitaan berkepanjangan. Bahkan, pada suatu wawancara dia menyebut bahwa tidak ada pengarang lain di dunia yang mendapat beban penderitaan melebihi dirinya. Mungkinkah sebuah perjuangam ide tentang “realisme sosialis” seperti pada makalah panjangnya? Meskipun pada akhirnya dengan gagasan itu, dia lantas dihubung-hubungkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pandangan dalam Polemik

Sebagai seorang redaktur koran harian Bintang Timur (Lentera) pimpinan Mr. Djody Gondokoesoemo, Pram disediakan sebuah rubrik khusus tempatnya bertarung gagasan dan ide-ide. Jelas, Pram sangat menentang kaum kontrarevolusioner. Dia menyerang habis-habisan para sastrawan penganut Manifesto Kebudayaan atau yang sering diperolok dengan istilah Manikebu (termasuk penggeraknya, HB Jassin dan Mochtar Lubis).

Kiprah Pram dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pun harus diperhitungkan. Melalui gagasan realisme sosialis yang menjadi dasar pijakan Lekra, dia mengkritisi adanya gagasan humanisme universal yang dinilai mengaburkan semangat revolusi pada waktu itu. Selain juga, konsep seni untuk seni, sastra borjuis, dan lain sebagainya. Menurutnya, Manikebu hanyalah pemecah kesatuan dalam menghadapi kolonialis-imperialis Barat dan membuat jalan lain yang merugikan perjuangan Soekarno dalam memimpin revolusi nasional. Baginya, seniman seperti itu harus dibabat dan tidak diberi ruang sekecil-kecilnya.

Pram memang pernah mengaku sebagai seorang yang dididik dalam keluarga nasionalis ‘kiri’. Maka sejak kecil dia adalah seorang nasionalis ‘kiri’. Meskipun kata ‘kiri’ memiliki berbagai macam pengertian dan tafsir pada setiap era. Namun, kata ‘kiri’ dalam pengertian Orde Baru adalah komunis, komunis adalah PKI, dan PKI adalah organisasi terlarang. Oleh karena itu, karena perannya dalam Lekra yang dihubung-hubungkan sebagai lembaga sastranya PKI, dia pun ikut dipenjara oleh pemerintahan Soeharto.

Akhir tahun 1979, Pram dibebaskan dan dia dinyatakan tidak terbukti terlibat dalam G 30 S PKI. Maka, dia sedikit bisa melakukan pembelaan atas apa yang terjadi pada dirinya. Pada sebuah wawancara yang dilakukan Kees Snoek (1992), dia pernah mengatakan bahwa dia menolak komunisme sebagai sebuah sistem, tetapi secara tidak langsung menerima komunisme sebagai ajaran hidup individu. Artinya, dia tetap menerima segala sistem (isme), namun tetap diambil yang baik untuk pengembangan dirinya, karena bagaimana pun segala sistem (isme) yang bersumber dari individu manusia akan selalu bias dalam penerapannya.

Pembelaan mengenai keterlibatan dirinya dengan Lekra pun ada. Misalnya dalam Suara Independen, dia mengaku bahwa dia adalah seorang yang solo fight. Sebagai anggota Lekra, dia memposisikan diri sebagai orang yang diminta bukan mendaftarkan diri. Termasuk pada Kongres Lekra di Solo tahun 1959, dia diundang dan diangkat sebagai anggota pleno.“Tidak pernah merangkak dari bawah tahu-tahu terus nangkring,”ujarnya. Maka, dia mengaku sebagai seorang yang dicomot saja dari jalanan (Suara Independen redaksi, 1995).

Selain membantah bahwa dia mempunyai mandat dari Lekra, dia juga membantah dengan keras bahwa dirinya adalah anggota PKI. Hal tersebut sesuai dengan ceramah dua hari Pram di depan mahasiswa dan pers Amerika serta pemerhati sastra dan politik di kampus George Washington University (GWU).

Senada dengan beberapa sanggahan tersebut, pada acara Kenduri Cinta bulan Juli 2015 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Taufik Ismail pernah bercerita tentang acara “Diskusi Marxisme-Leninisme dalam Perspektif Budayadi Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang diadakan pada tanggal 9 Juni 2000. Diskusi tersebut diselenggarakan secara terbuka dan untuk pertamakalinya setelah 40 tahun perseteruan Lekra dan Manikebu. Dia menceritakan pengalamannya berdebat dengan Pramoedya. Kembali dia mempelajari Marxisme-Leninisme dengan saksama, agar tidak kalah dengan Pramoedya. Pramoedya berpidato lebih dahulu. Namun, tidak disangka pengetahuan Pram tentang komunisme begitu dangkal. Taufik Ismail mengatakan bahwa Pram hanya dibesar-besarkan Lekra sebagai pengarang komunis yang hebat. “Lalu apa ideologinya?” Taufik Ismail bertanya. Ideologi Pramoedya adalah Pramis!

Setelah itu, Emha Ainun Nadjib merespon cerita Taufik Ismail dengan mengatakan bahwa Pramoedya adalah seorang humanis sosialistik, tetapi bukan sosialis. Sosialis itu berbeda dengan sosialistik. Sosialis itu ideologi, kalau sosialistik itu kata sifat. Jadi, menurut Emha, Pramoedya adalah seorang yang humanis dan merupakan sosok yang berkarakter sosial, bukan sosialis (pengikut ajaran Sosialisme).

Perihal Manusia

Pramoedya dalam pelbagai wawancaranya seringkali berkata bahwa dia adalah seorang yang tidak memihak ideologi apapun karena percaya akan dirinya sendiri, baginya asalkan berpihak kepada yang benar, adil, dan berkemanusiaan dia akan bela dan sokong. Terlihat, perihal manusia seringkali disinggung oleh Pram. Sastra dalam pandangan Pram bukanlah sesuatu yang terpisah dengan politik dan harus menanggung tugas kemanusiaan. Maka banyak, pengamat yang berpendapat bahwa arah perjuangan Pram sebagai sastra ideologis.

Selain perihal sastra hiburan yang hanya membuat pembacanya berhenti di tempat. Didalam pidato tertulis tersebut yang ditentang dan ditolak Pram adalah sastra sebagai alat pengagungan suatu golongan. Pram mencontohkan seperti pada masa kerajaan Jawa yang hanya mengagungkan kasta ksatria. Bagi Pram, tugas seorang pengarang adalah melakukan evaluasi dan re-evalusi kemapanan di semua bidang kehidupan, bukan sebagai alat hegemoni kekuasaan yang manipulatif.

Rakyat kecil, buruh, petani, sering dia dengung-dengungkan. Namun, Pram menolak sebagai seorang yang menganut sebuah isme. jikapun dia mempelajari suatu isme bukan berarti dia menganutnya, tetapi dia ambil kebaikan yang ada untuk dikembangkan dalam dirinya. Mungkin benar pernyataan HB Jassin yang pernah menuliskan dalam pengantar buku “Cerita dari Blora”. “Pram tidak memberatkan simpatinya kepada suatu isme kecuali humanitas” (Toer, 2002: ix). Mengingat, setiap individulah yang mesti dibangun dan dikembangkan. Apabila individu-individu itu mempunyai akal, pikiran, dan hati yang benar, maka otomatis dia akan memproduksi sistem yang benar pula. Maka, melalui karya sastralah Pram berusaha membangun dan mengembangkan setiap individu yang membaca karyanya. (YKHC)

 

 

JAMAN EDAN

in Sastra by

                                                                                                                        –dari Serat Kalatidha karya R. Ranggawarsita

 

Hamenangi jaman edan

Ewuh aya ing pambudi

Melu ngedan nora tahan

 

Menghadapi jaman gila

Serba salah untuk bersikap

Ikut gila tak sampai hati

 

Saya juga tidak tahu sampai berapa lama Ranggawarsita mendiamkan tiga baris pertama bait ini hingga mencapai baris berikutnya. Pada bagian berikutnya ia menggambarkan kegalauan hati dan kesulitan pilihan antara mengikuti jaman atau menghindarinya. Dengan sangat baik Raden Ranggawarsita menggambarkan sisi manusiawinya. Ada kekhawatiran, atau mungkin juga ketakutan dari konsekuensi pilihan yang akan diambilnya.

 

Yen tan milu hanglakoni

Boya keduman melik

Kaliren wekasanipun

 

Namun bila tidak begitu

Tak kebagian rejeki

Kelaparanlah akhirnya

 

Sampai akhirnya Ranggawarsita menentukan sikap hidupnya di akhir bait. Pilihan yang bijak dan berani telah diambilnya. Pujangga keraton ini memilih untuk menghindar dan tidak ikut ngedan meskipun ia sendiri tahu konsekuensi dari permenungan yang dilakukannya.

 

Ndilalah karsa Allah

Begja-begjane kang lali

Luwih beja kang eling lan waspada

 

(tetapi) atas kehendak Tuhan

Betapapun beruntungnya yang lupa

Lebih beruntung yang ingat dan waspada

Berbeda dengan kedua bait sebelumnya, tiga baris terakhir bait tembang ini menggunakan kalimat kiasan. Seperti halnya ciri bahasa tulisan para pujangga keraton kala itu, Ranggawarsita memilih bahasa sanepa, bahasa yang tidak lugas dan memerlukan tafsir. Namun, justru bahasa kiasan itulah yang menunjukan keunggulan sastranya. Dengan bahasa yang tidak lugas, pujangga ini mewariskan karya sastra yang luar biasa, baik dari keindahan bahasanya maupun dari kedalaman maknanya.

Kata lali atau “lupa” yang dipakai oleh Ranggawarsita jelas merujuk pada keadaan jaman yang edan (gila) dan pada pilihan sebagian besar masyarakat yang ikut ngedan. Sedangkan bagi Ranggawarsita sendiri, seberuntung-beruntungnya orang yang lupa atau ngedan itu, masih lebih beruntung orang yang eling lan waspada (ingat dan waspada). Baris terakhir inilah yang merupakan kunci pilihan sikap hidupnya. Ia tidak hanya menolak untuk mengikuti arus mainstream sebagian besar orang yang lali (lupa), yang mengikuti ke-edan-an jaman, tetapi juga memberikan rujukan laku spiritual untuk selalu ingat (tidak terlena) dan waspada (berhati-hati).

Padahal, di bagian bait sebelumnya pujangga ini menyadari sepenuhnya konsekuensi dari sikap hidup yang melenceng dari arus mainstream itu, bahwa tentu ia akan terjebak pada kesulitan hidup. Jadi apakah sebenarnya yang kemudian meneguhkan keyakinannya akan sikap hidup yang demikian itu? Ternyata Ranggawarsita lebih peduli pada karsa Allah (kehendaknya Tuhan), sebuah konsep nrima orang Jawa yang telah mengakar dan mendarah daging dalam filosofi Jawa, atau dalam konsep Islam kita mengenalnya sebagai tawakkal. Pujangga ini lebih yakin pada kebesaran hati dan kemuliaan daripada menuruti kekhawatirannya akan konsekuensi jaman yang edan tersebut.

Ketika Raden Ranggawarsita mengarang Serat Kalatidha, entah kala itu keadaan jaman memang dinilainya sudah edan atau baru prediksi (proyeksi sikap) dari dirinya sendiri akan datangnya jaman edan, kelak dikemudian hari, tidak ada yang tahu. Yang jelas, kala itu pujangga keraton Surakarta ini telah mengkhawatirkan, memikirkan, merenungkan, hingga mengambil sikap yang bijak dan berani, tentu merupakan suatu kejelian yang mengagumkan dari mata batin seorang satria pandita yang waskita.

Tembang Sinom Ranggawarsita tersebut akan selalu relevan di setiap jaman. Serat Kalatidha lahir dari sebuah permenungan tentang suatu masa. Memang ada kekhawatiran dalam menghadapi jaman yang semakin tidak manusiawi, semakin meniadakan keadilan, semakin mengaburkan kesejatian, tetapi serat ini hadir untuk setidaknya melawan sikap hidup yang demikian. Karya Ranggawarsita tersebut merupakan sebuah sikap liyan, sebuah pemikiran yang berbeda, dan sekaligus berani untuk menentang jaman.

Saya tidak tahu untuk jaman yang sekarang ini termasuk jaman edan atau bukan. Saya juga tidak tahu apakah masih ada orang yang ingin atau mau mengkhayati Serat Kalatidha karangan Raden Ranggawarsita ini. Jikapun ada, saya juga tidak tahu apakah ada yang akan mengikuti pilihan sikap Ranggawarsita seperti yang ditunjukan pada tiga baris terakhir tembangnya? Serat Kalatidha lahir bukan sekedar untuk mengutuk jaman. Ia lahir dengan kehalusan budi, untuk tidak menghilangkan sisi kemanusiaan dari setiap manusia, untuk tidak menyerah kepada jaman yang edan. Karya ini adalah sebuah kearifan di dalam menghadapi kekacauan jaman, sebuah ikhtiar untuk tidak tenggelam dalam keputusasaan. Serat Kalatidha merupakan ijtihad dari seorang pujangga besar bernama Raden Ranggawarsita. [AR]

 

 

Go to Top