Mocopat Syafaat

Placeholder
Komunitas

Dinamika Komunitas

Komunitas adalah wadah bagi beberapa atau banyak orang yang saling berkumpul dan berguyup atas dasar kesamaan. Kesamaan itu bisa oleh nilai yang … Keep Reading

  • JAMAN EDAN

                                                                                                                            –dari Serat Kalatidha karya R. Ranggawarsita   Hamenangi jaman edan Ewuh aya ing pambudi Melu ngedan nora tahan  … Keep Reading

  • Jelang Ihtifal Maiyah

              Bulan Mei 2016 merupakan bulan spesial bagi Jamaah Maiyah Nusantara. Bukan hanya karena sebulan lagi memasuki bulan Ramadhan, akan… Keep Reading

Jelang Ihtifal Maiyah

in Sastra by

          Bulan Mei 2016 merupakan bulan spesial bagi Jamaah Maiyah Nusantara. Bukan hanya karena sebulan lagi memasuki bulan Ramadhan, akan tetapi ada momentum yang paling ditunggu-tunggu Jamaah Maiyah Nusantara. Ihtifal Maiyah, demikian acara yang ditunggu-tunggu Jamaah Maiyah Nusantara. Pun demikian bagi Jamaah Maiyah Yogya, meski Ihtifal Maiyah digelar nun jauh di sana, Jombang Jawa Timur. Akan tetapi, hal itu tak menyurutkan keinginan Jamaah Maiyah Yogya untuk turut hadir.

          Hal itu terlihat dari antusiasme Jamaah Maiyah Yogya pada acara Silaturahmi Jamaah Maiyah Yogya edisi bulan April lalu, yang digelar oleh Rembug Mocopat Syafaat di Rumah Maiyah Kadipiro, Yogyakarta. Dalam pertemuan itu, sebagian Jamaah Maiyah Yogya berinisiatif untuk mengadakan rombongan untuk menghadiri Ihtifal Maiyah. Komunikasi dan rembug perihal sarana transportasi pun dilakukan melalui Whatsapp. Hingga kemudian, pada Rabu (11/5), sebagian Jamaah Maiyah Yogya ‘kopi darat’ di Rumah Maiyah untuk memastikan teknis pemberangkatan.

          Tino, Jamaah Maiyah Yogya yang sehari-harinya berjualan siomay mengaku ingin sekali menghadiri Ihtifal Maiyah. “Kalau acara besok ini, saya ingin sekali hadir. Sebab, pada acara sebelumnya (Banawa Sekar) tak bisa hadir. Ini momen yang jarang sekali,” tuturnya.

          Menurutnya selama ini Cak Nun telah banyak mengajarkan ilmu kehidupan. “Dulu, saya sering berpura-pura, tak percaya dengan diri sendiri. Saat itu, saya sering sakit-sakitan. Dan saya ingat dengan pesan Cak Nun bahwa kunci kesehatan adalah berpikir jujur dan benar,” ujarnya.

          Senada dengan itu, Ismail, Jamaah Maiyah Yogya mengaku ingin sekali menghadiri Ihtifal Maiyah. “Bagi saya, Cak Nun itu penyelamat. Waktu itu saya pernah mengalami masalah yang cukup ekstrim. Jujur, waktu itu saya sedikit putus asa. Namun, saat hadir di Mocopat Syafaat, saya terharu saat Cak Nun mengajak doa bersama. Saat itu, saya sebutkan permintaan saya kepada Allah,” tuturnya. Dalam proses berdoa itu, menurutnya, bukan pada terkabulnya doa yang membuat dirinya takjub. Akan tetapi, tersadar kembali bahwa setiap masalah pasti ada solusi dan tempat mengadu masalah itu hanyalah kepada Allah.

          Tak hanya itu, Ismail pun turut bangga kepada anaknya yang sering ia ajak ke Mocopat Syafaat. “Waktu itu, anak saya ditanya Cak Nun: pilih mana Ayahmu gila atau rumahmu roboh? Lalu, anak saya menjawab: pilih rumah roboh. Dan ketika di rumah saya tanya; Mas, kenapa tadi malam jawab begitu saat ditanya Cak Nun? Kata anak saya: daripada bapak gila, ya masih mending rumah roboh, pak! Rumah kan masih bisa dibangun lagi,” tuturnya.

          Demikian sekelumit kesan sebagian Jamaah Maiyah Yogya terhadap Cak Nun. Bagi mereka, meski jarak Yogya-Jombang cukup jauh, tak sedikitpun terbersit pahala yang akan didapatkan. “Rasa kangen saya pada Maiyah, pada Cak Nun jauh lebih besar ketimbang iming-iming pahala ibadah,” celetuk Jamaah Maiyah Yogya.(fa)

Pohon Besar Berbuah Manis

in Komunitas by

Etalase Tuhan di dalam asmaulhusnaNya yaitu rahman dan rahim. Bismillahirohmanirrohim. Kasih dan sayang, begitu kita menyebutnya. Kalau bukan karena kasihNya, dunia dan semesta ini tidak akan pernah ada. Apalagi kita, manungsa, yang kalau dilihat dari sudut pandang jagad raya, tampak sangat kecil-mungil ini.

Kalau mau mempelajari secara lebih dalam cintaNya, lebih jeli memandang kasihNya, memang tidak masuk akal kalau Tuhan sampai menghukum hambaNya. Untuk apa, coba? Apa perlunya bagi Tuhan? Apa pentingnya bagi Tuhan? Tuhan bukan tipe yang senang melihat yang lain menderita.

Semua, dari bumi dan langit; dan di antara keduanya, dikasihiNya. Ditampungnya, diperhatikanNya. Bahkan tak sehelai daun pun yang jatuh, yang terlepas dari perhatianNya. Begitulah semestinya manusia. Berguru kepada Tuhan di dalam berkasih sayang. Kasihnya tidak parsial, tidak Cuma lokal, tidak hanya regional tapi universal.

Ikut Mencicipi

Kasih yang sebagaimana dilakukan oleh Kanjeng Nabi-lah, yang kini kurasakan dari Beliau Simbah Guru. Kasihnya yang turah-turah. Siapapun saja, sejahat apapun, Beliau carikan dan sajikan sisi baiknya. Beliau temukan alasan-alasan agar si jahat tetap layak masuk surga. Beliau doakan keselamatan semua orang. Indonesia bahkan dunia selalu tak luput dari perhatiannya. Nasib anak-cucu. Nasib bangsa Indonesia maupun bangsa-bangsa lain di dunia. Sebab, Maiyah bukan hanya untuk Indonesia, Maiyah untuk dunia. Kasih Beliau kepada siapa pun saja, begitu menyejukkan. Simak saja penggalan puisi Beliau dalam “Kudekap Kusayang-sayang”:

Kudekap mereka, kupanggul, kusayang-sayang,

Dan ketika mereka tancapkan pisau ke dadaku,

Mengucur darah dari mereka sendiri,

Sehingga bersegera aku mengusapnya,

kusumpal, kubalut dengan sobekan-sobekan bajuku

Kemudian kudekap ia, kupanggul, kusayang-sayang,

kupeluk,

kugendong-gendong, sampai kemudian mereka tancapkan

lagi pisau ke punggungku, sehingga mengucur lagi darah

batinnya, sehingga aku bersegera mengusapnya,

kusumpal,

kubalut dengan sobekan-sobekan bajuku, kudekap,

kusayang-sayang.

Cakrawala cinta-kasih yang Beliau mainkan sudah sedemikian jauh. Ketika kanak-kanak, kita hanya sanggup mencintai diri-sendiri. Semua hal, maunya diaku-aku, ini punyaku, ini milikku. Makin tumbuh kita mulai belajar mencintai orang lain, meskipun masih dalam rangka mencintai diri. Sebutlah anak ABG yang mulai mencintai lawan jenisnya. Sampai kemudian menikah. Cinta mulai tumbuh lagi dan belajar lagi. Sampai secara total mencintai orang lain, biasanya dimulai ketika dikaruniai anak. Cinta orang tua terhadap anak adalah cinta yang tulus, total, benar-benar mencintai orang lain, orang di luar dirinya. Anak ngompol di celana, anak rewel, anak bandel, tetap didekap, tetap disayang. Seterusnya cinta tumbuh lagi, melebar ke kanan kiri, menyentuh tetangga, masyarakat dan terus menjelajah ke segala penjuru. Nah, dalam hal ini, cinta Simbah Guru sudah sedemikan tumbuh, sedemikian jauh. Telah dan sanggup mencintai orang yang bahkan memusuhinya, memfitnahnya. Tetap Beliau tampung, tetap Beliau pangku, tetap Beliau dekap dan tetap Beliau sayang-sayang.

Semuanya ditampung, semuanya diterima. Semuanya dipersilakan untuk berteduh dan menikmati buah manisnya. Lalu, positioning diri kita sebagai jamaah, lalu seperti apa? Ya terserah diri masing-masing. Dengan kesadaran dan kedaulatannya masing-masing. Mau ikut berteduh saja, ya silahkan. Mau sambil berteduh, belajar meneduhkan, juga bagus. Mau langsung ikut ambil bagian jatah meneduhkan, juga TOP. Mangga-manggalah. Disesuaikan dengan kondisi, kapasitas dan kapabilitas masing-masing.

Tarik-menarik Antara Realitas dan Kehendak yang Dipilih

in Sastra by

Kecenderungan kita adalah saat berjalan kaki yang dilihat malah yang sedang naik motor bagus. Saat jomblo yang dilihat adalah pasangan romantis yang berjalan berduaan. Sedang tidak punya duit yang dilihat orang-orang asyik belanja di mall. Dan ketika ngontrak rumah yang dilihat perumahan elit. Alhasil ketika jalan kaki dan melihat konvoi motor keren, kitanya jadi sirik. Parahnya yang lagi sendiri, liat truk gandeng aja bikin hatinya nangis, batinnya merintih, “truk aja gandengan, lha aku masih aja jomblo. Hiks.” Hujan deras, rumah atap bocor, ee… sempet-sempetnya lho, wong lagi sibuk menata barisan ember untuk menampung air trocoh, kok ngebayangin enaknya tinggal di rumah yang magrong-magrong. Bahkan makan tahu-tempe saja mendadak jadi kerasa hambar, karena batinnya, “wah enak nih kalau makan ayam, makan daging”.

Embuhlah, atau kita ini memang masokis bertalenta. Pandai membikin diri menderita. Hobi menganiaya diri. Udah jatuh, pas di atas tlethong, tertimpa tangga, ee… mau bangun kepleset nyemplung kolam buthek plus diliatin orang-orang gak ada yang nolongin, yang ada malah pada ngetawain. Atau memang diri kita ini terlalu lemah, sehingga mudah terjebak arus realitas. Mudah hanyut pada peristiwa yang sedang menimpa. Mudah terbawa suasana, baper-lah kalau memakai bahasa kekinian. Keadaan yang sempit mampu membikin kita sesak napas. Kondisi sendirian membuat kita kesepian. Tidak punya duit mampu membuat kita nelangsa. Tidak punya pasangan mampu membikin diri merasa hidup sebatang kara. (Kita? Elo aja kaleee… __ iya ding, itu bukan kita, saya aja ding, saya lagi curhat…heuheu)

Memilih Kehendak

Seseorang bisa mengalami suatu peristiwa, tetapi jumlah pilihan respon atas peristiwa yang dialami bisa sangat tak terbatas. Seseorang bisa saja di penjara. Tetapi respon dia atas penjara bisa sangat bebas. Sebagaimana Mbah Pramoedya yang justru merampungkan tulisannya yang ampuh di dalam penjara. Secara peristiwanya adalah di penjara. Tetapi memilih kehendak atas peristiwa di penjara bisa sangat bebas. Semisal, katakan saat di penjara itulah Beliau mendapatkan kesempatan untuk menerima proyek peradaban berupa penulisan yang merupakan bagian dari tugas mulia kehidupan yang Beliau emban. Atau seorang ulama yang ketika di penjara, memilih kehendak atas penjara sebagai waktu dan tempat untuk beristirahat. Sementara ada lagi yang dibuang di daerah terasing, memilih kehendak atas peristiwa dibuang sebagai piknik. Atau Penjenengan Sedaya bisa menonton film yang dirilis tahun 1997 yang berjudul “Life is Beautiful”, yang menganggap perang sebagai sebuah game, sebuah permainan yang menyenangkan demi mengemong anak dalam kondisi yang sebenarnya bahaya.

Seseorang bisa saja gajinya besar. Seolah bisa berbuat apa saja. Tetapi pagi berangkat, malam hari baru bisa pulang ke rumah. Saat hari libur, pergi piknik. Hampir hari-hari dilewati seperti itu. Tanpa disadari terjebak rutinitas. Apa itu kalau bukan terpenjara. Seolah saja bebas, tetapi hekakatnya terkurung rutinitas. Tetapi lagi-lagi, respon atas hal seperti itu, bebas-bebas saja. Katakan dia sedang menjalani rutinitasnya sebagai bagian melayani orang lain, baik di lingkungan kerjanya maupun di rumah bersama keluarganya. Katakan dia sedang mengantri mati, sambil ngantri ya jadi karyawan, jadi pegawai. Atau apapun, terserah sepenuhnya di dalam memilih kehendak atas realitas yang dialami.

Seseorang seniman. Sangat bebas, terbebas dari rutinitas. Bisa bekerja semaunya, kapan saja. Tetapi siapa menyangka, berapa kesepian yang harus dia lahap. Betapa perihnya sunyi yang harus dia selami, memahami apa yang tidak orang lain kebanyakan paham. Tetapi itupun juga bebas-bebas saja memilih responnya atas peristiwa jadi seniman.

Kebanyakan memang hanyut dalam peristiwa. Sebagian besar terjebak dengan realitas yang menimpanya. Beberapa sanggup mengolah dan memilih kehendak bebasnya untuk memilih mengalami apa terhadap peristiwa yang datang dihadapannya. Peristiwanya memang tidak sepenuhnya dalam kendali diri kita, tetapi pilihan respon atas peristiwa yang menimpa, itu bisa tak terbatas. Seseorang bebas memilih, apa yang berlangsung dalam pikiran dan hatinya, tidak peduli bagaimanapun keadaan yang sedang dialaminya. Meskipun tidak dipungkiri cokotan, daya cengkeram realitas sangat berpeluang mempengaruhi apa yang berlangsung dalam pikiran dan hati kita.

Anugerah Berpengalaman

Betapa bahagianya hidup di dunia ini kalau sudut pandang yang dipakai adalah sudut pandang innalillahi wainna ilaihi rojiun. Sudut pandang nyawa yang menempuh perjalanan dari dan ke Allah. Sudut pandang dengan rentang yang panjang, rentang yang tak sekedar mung mampir ngombe. Betapa diijinkan berpengalaman di bumi ini adalah anugerah yang WAH. Diperkenankan bertemu dengan peristiwa demi peristiwa. Diberi peluang untuk tumbuh dan belajar. Diijinkan saling bertemu satu sama lain, bukan untuk saling membanding-bandingkan satu sama lain, melainkan saling belajar dan bercermin satu sama lain.

Sesuatu yang hadir, sesuatu yang menimpa, sesuatu yang kita alami. Tak lain adalah untuk menjadi katalis bagi kita. Agar tumbuh diri kita, baik tumbuhnya pemahaman maupun tumbuhnya spiritual kita. Sesuatu itu bisa yang dianggap menyenangkan maupun yang dianggap menyedihkan. Baik yang manis maupun yang pahit, sama-sama kita butuhkan. Yang enak maupun yang serba tidak nyaman, semua kita perlukan untuk tumbuh. Sebagaimana kita semua membutuhkan adanya siang dan malam. Pokoknya semua yang datang mampir dalam perjalanan hidup kita. Berguna untuk membantu pertumbuhan kita.

Yang perlu digarisbawahi adalah bahwa jalan menuju Tuhan itu ibarat perjalanan air menuju ke samudera. Seperti kita tahu air berjalan dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah. Dengan kata lain jalan menuju Tuhan itu harus nyaman dan sreg. Nyaman di sini bukan soal realitas yang mesti dihadapinya lantas ringan, tanpa tantangan, tanpa halangan sama sekali, bukan begitu. Nyaman di sini adalah soal rasa yang mantap, hati yang mongkok, muthmainnah. Lihat saja para sahabat di awal Islam, bagaimana perjuangannya yang mati-matian. Ujian harta, keluarga bahkan nyawa. Tetapi mereka sreg, hatinya nyaman. Karena yang ditempuh adalah jalan menuju kedekatan dengan Tuhan, sebagaimana perjalanan air menuju ke samudera, yang ringan saja, mengalir, asal ada tempat lebih rendah, ngalir saja. Gitu thok!

1 2 3 4 5 6 10
Go to Top