Mocopat Syafaat

Placeholder
Komunitas

Dinamika Komunitas

Komunitas adalah wadah bagi beberapa atau banyak orang yang saling berkumpul dan berguyup atas dasar kesamaan. Kesamaan itu bisa oleh nilai yang … Keep Reading

  • JAMAN EDAN

                                                                                                                            –dari Serat Kalatidha karya R. Ranggawarsita   Hamenangi jaman edan Ewuh aya ing pambudi Melu ngedan nora tahan  … Keep Reading

  • Jelang Ihtifal Maiyah

              Bulan Mei 2016 merupakan bulan spesial bagi Jamaah Maiyah Nusantara. Bukan hanya karena sebulan lagi memasuki bulan Ramadhan, akan… Keep Reading

Suluk Abdul Jalil: Perjalanan Ruhani Syaikh Siti Jenar

in Resensi by

Resensi BukuPenulis             : Agus Sunyoto

Penerbit           : Pustaka Sastra LKis, Yogyakarta.

Tebal               : 330 Halaman.

Tahun Terbit    : Cetakan 3, September 2003

Kode Perp.      : 2X5.221 SUN.s.c1.jil.1

 

 

 

Syeikh Siti Jenar, atau Syeikh Lemah Abang, dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara, nama ini tak pernah lekang oleh zaman dan waktu. Namanya sudah serupa monumen, terutama dalam kalbu masyarakat Jawa, dan khususnya bagi para pemerhati, penganut, pelaku dan pejalan makrifat Jawa. Siti Jenar, nama yang memuat pesona mistis sangat kuat ini, tak pelak telah menjadi legenda. Di dalam batin orang-orang yang mencintai serta memahaminya, Ia adalah seorang Guru. Ia waliyullah agung yang tak kalah ilmu dan kehebatan dibanding walisongo yang lain. Di lain sisi, ia pun banyak dibenci, dihujat, serta menjadi simbol kesesatan dari sebuah ikhtiar perjalanan ruhani manusia untuk menyatu dengan Sang Diri Sejati. Maka secara umum, dewasa ini memang ada dua jalan untuk menuju lautan pemahaman (interpretasi) mengenai Syeikh Siti Jenar. Pertama: memujanya habis, membenarkannya, dan menganut ajaran-ajarannya. Kedua: Membenci dan menolak seutuhnya. Dua jalan ini menyediakan bahannya masing-masing. Berbagai fikiran dan tulisan dapat kita telaah tentang syeikh kontroversial ini. Ada banyak tokoh yang memutuskan bahwa dia benar, tetapi tak sedikit pula tokoh lain yang teguh menyesatkannya.

*

Hingga roda sejarah telah sampai di zaman gersang ini, Tuhan belum pernah turun ke bumi, untuk –sedikit saja– mengkonfirmasi apakah hambaNya Siti Jenar itu  fixed benar, ataukah memang nyata salah dan tersesat. Tuhan masih “diam”. Ia masih membiarkan manusia berdebat dan berbantahan wacana tentang hambaNya yang aneh itu. Syeikh Siti Jenar sendiri pun, belum pernah “loncat dimensi” merasuki raga seseorang, kemudian menyelenggarakan “konferensi pers”, guna mengumumkan apakah ia diridhai Tuhan, atau justru dimurkaiNya. Karena itulah, perlunya jalan ketiga menuju lautan pemahaman mengenai Syeikh Siti Jenar, yakni dengan menjadikan Syekh Siti Jenar sebagai media atau jembatan lewat untuk mengantarkan kita pada cakrawala yang semakin mendalam tentang inti kehidupan; tentang kema’rifatan yang suci kepada Tuhan. Cukup kita berenang, mengarungi lekuk-lekuk lautannya, tanpa memberinya label pasti benar atau mutlak sesat. Kita tidak perlu memuja Syeikh Siti Jenar sebagai berhala, tetapi juga tidak usah menghujatnya layaknya setan. Karena hakikatnya Siti Jenar hanyalah lautan kecil, sekedar setapak  jalan saja, dalam pembelajaran manusia, guna menuju samudera maha luas tak terbatas, Sang Samudera Kebenaran Sejati: Allah.

*

Salah satu referensi yang memberikan perspektif lain tentang Siti Jenar adalah buku karya Agus Sunyoto. Dalam Suluk Abdul Jalil: Perjalanan Ruhani Syaikh Siti Jenar ini, Agus Sunyoto menuliskan kisah hidup Siti Jenar berdasarkan sumber historiografi yang berbeda dari kebanyakan sumber historiografi lainnya yang dijadikan landasan penulisan kisah hidup Syeikh Siti Jenar. Naskah-naskah sejenis babad selalu menyuguhkan gambaran yang kontroversial dan membingungkan mengenai Siti Jenar. Agus Sunyoto menulis berdasarkan naskah-naskah kuno dari Cirebon, seperti Negara Kretabhumi, Pustaka Rajya-Rajya di Nusantara, Purwaka Caruban Nagari, dan Babad Cherbon. Menurut Agus Sunyoto, dalam naskah-naskah tersebut tidak dijumpai paparan absurd yang menggabarkan tokoh Syeikh Siti Jenar sebagai penjelmaan cacing, juga tidak ada cerita yang menggambarkan mayatnya berubah menjadi anjing. Syaikh Siti Jenar yang kelahiran Cirebon digambarkan sangat manusiawi lengkap dengan silsilah keluarga yang berasal dari spesies manusia. Hal yang berbeda dari tulisan-tulisan lain tentang Syeikh Lemah Abang, Agus Sunyoto menulisnya dalam cerita fiksi, sehingga memudahkan kita untuk memahami manakib Siti Jenar ini sejak dia kecil hingga kematiannya. Penulisan kisah Syeikh Siti Jenar ini juga dimaksudkan untuk menghindari pro-kontra yang mengarah ke perdebatan klise yang berlarut-larut. Melalui karya yang bersifat fiksi, kisah Syaikh Siti Jenar ini boleh diterima sebagai keniscayaan bagi mereka yang sepaham, namun boleh juga dicampakkan seperti sampah bagi mereka yang tidak sepaham.

Perjuangan mencari Allah adalah perjuangan Maha Dahsyat yang hanya mungkin dilakukan oleh pejuang-pejuang tangguh yang tak kenal kata menyerah. Allah bukanlah Tuhan statis yang membiarkan diri-Nya gampang ditemukan. Allah senantiasa membentangkan hijab berlapis-lapis dan berbagai halang rintang untuk menyelubungi keberadaan diriNya. Sekalipun para pencariNya mengetahui bahwa Dia adalah inti segala sesuatu dari ciptaanNya, baik yang bisa ditangkap pancaindera maupun yang ghaib…(Suluk Abdul Jalil, Hal: 173)

*

Ke-Maharahasia-an Tuhan inilah yang indah. Buku Suluk Abdul Jalil ini membantu kita menelusuri misteri-misteri keberadaan Tuhan. Syaikh Siti Jenar sebagai teman pencarian kita, tak harus kita pahami dalam jebakan stigma “salah” dan “benar”. Kisah jalan hidupnya akan sedikit-banyak memberi kunci-kunci tentang bagaimana menemukan jalanNya, dan kembali ke hakikatNya. Oleh karena itu, Perpustakaan EAN menyediakan bahan-bahan literer, untuk menemani pencarian anda akan hakikat hidup yang sejati. (Ahmad F Hakim)

Positioning

in Redaksi by

Dalam sebuah permainan sepak bola, seorang kiper mempunyai tugas utama untuk menjaga gawangnya agar tak kebobolan. Begitu juga, seorang bek atau pemain belakang, bertugas membantu pertahanan tim dari serangan lawan. Ia wajib menghentikan pemain lawan yang akan mendekati gawang kemudian membuang bola dari area penalti.

Sedangkan, gelandang atau pemain tengah bertugas menerima bola yang ditujukan ke depan, bertahan atau melakukan tackle terhadap pemain lawan, mencetak atau membantu menciptakan sebuah gol, sehingga mereka sering dianggap sebagai anggota terpenting dalam sebuah tim. Dan seorang striker atau pemain depan, ia memiliki posisi yang paling dekat dengan gawang lawan. Tugas utama seorang penyerang adalah mencetak gol.

Lalu, bagaimana jika seorang kiper lebih sering maju ke depan dan berambisi mencetak gol? Dan tugas utamanya diabaikan. Bagaimana pula jika seorang striker, yang tugas utamanya adalah mencetak gol, justru sering berdiam diri di antara bek tim sendiri?

Memang, dalam sebuah permainan sepak bola setiap pemain berhak mencetak gol dan dituntut untuk menjaga pertahanannya agar tim kesebelasannya menang. Namun, semua itu ada proporsinya, ada tugas utama dan ada pula tugas tambahan. Seorang bek wajib menjaga pertahanan timnya dan alangkah baiknya jika ia mampu mencetak gol. Demikian juga seorang striker sudah semestinya ia mencetak gol dan alangkah baiknya jika ia juga turut menjaga pertahanan timnya dengan menghalau serangan tim lawan.

Andai saja hidup di Indonesia ibarat bermain sepakbola alangkah mudahnya kita. Kita hanya perlu mengidentifikasi diri sebagai kiper, bek, gelandang ataukah penyerang. Jika sudah lalu menyesuaikan posisinya; bek berdiri di barisan belakang dan striker berdiri di depan, siap menceploskan gol ke gawang lawan.

Sayangnya hidup di Indonesia tak semudah bermain sepak bola. Kita harus memiliki hati jembar untuk memaklumi bahwa jaminan kesehatan harus kita bayar sendiri. Bahwa sepulang membayar pajak masih melintasi jalan rusak. Bahwa sudah susah payah bertani masih dirayu untuk membeli beras impor. Bahkan, hati kita harus selalu nyegara, menyamudera untuk menampung ajakan AYO KERJA ketika mengusap peluh di bawah terik matahari. Lalu, saat kita menghisap rokok pada jam-jam istirahat kerja kemudian mendengar seruan BELA NEGARA. Kita pun harus senang hati menampung.

Dan meskipun kita tak sedang bermain sepak bola, kembali melakukan identifikasi diri, kembali menentukan posisi diri dan kembali memastikan orientasi diri menjadi sebuah keharusan. Sebab, dengan hal tersebut, bukan sebuah kesombongan untuk mengatakan bahwa kita dititipi Maiyah untuk dicerdasi dan diterapkan tanpa terikat oleh luasan keindonesiaan.

Dengan kesadaran tersebut dan disangga kuda-kuda cinta segitiga: Allah, Muhammad dan Kita, segala tindakan kita untuk Indonesia adalah sebuah manifestasi dari sebuah kegembiraan dalam berbuat baik, benar dan indah.

Sepatah Mukadimah

in Redaksi by

Akhir tahun 2014 lalu, pegiat Maiyah Nusantara bertemu dan berkumpul di Baturaden, Purwokerto. Perjumpaan itu melahirkan refleksi mendalam. Bahwa ibarat jamaah shalat, barisan (shaf) dari Jamaah Maiyah Nusantara belum rapi dan rapat. Sedangkan, Imam sudah siap mengumandangkan takbiratul ihram. Maka, usaha merapikan dan merapatkan barisan menjadi sebuah keharusan.

Rembug Macapat Syafaat (RMS) sebagai wadah pegiat Macapat Syafaat pun harus berbenah diri. Unit-unit yang bernaung di Rembug Macapat Syafaat (RMS) seperti Nahdlatul Muhammadiyyin, Perpustakaan EAN, Sabanada, Forum Diskusi Martabat, Basori, dan Omah Aksara pun turut menyesuaikan diri untuk merapikan dan merapatkan barisan kembali.

Saluran Baru

Dalam usaha perbaikan internal Rembug Macapat Syafaat (RMS) pun tak ingin tak berjejak. Maka, dalam menjalani laku perbaikan diri Rembug Macapat Syafaat (RMS) ingin menorehkan sebuah tanda. Yakni dengan melahirkan www.macapatsyafaat.com diharapkan mampu menjadi buah konkret dari perbaikan internal.

Kelahiran www.macapatsyafaat.com pun dimaksudkan sebagai wujud pemberdayaan diri. Dalam arti, sudah terlampau lama kita mencecap nilai-nilai Maiyah. Sudah terlampau lama pula kita-meminjam istilah Pak Toto Raharjo, menjadi jamaah setor kuping. Nah, adanya www.macapatsyafaat.com diharapkan mampu menjadi media belajar kita untuk menjadi subyek informasi. Juga media belajar kita untuk menyebarkan nilai-nilai Maiyah kepada khalayak luas.

Selain itu, kelahiran www.macapatsyafaat.com juga dimaksudkan untuk merespon era banjir informasi. Era di mana informasi terserak pating nggedabyah. Era di mana informasi begitu cepat berderap mengepung sendi-sendi kehidupan kita. Hingga, kebenaran maupun kekeliruan suatu informasi tak bisa dibedakan.

Memang, di luar sana sangat mungkin gejala disinformasi gampang ditemui. Dan sangat mungkin pula dampaknya begitu menggelisahkan. Namun, sebagai media komunitas, www.macapatsyafaat.com tak lantas ingin menyebut diri sebagai sumber referensi terpercaya. Pun tak berani lantang mengatakan sebagai amanat hati nurani jamaah. Pun tak berani mengklaim diri sebagai media informasi yang enak dibaca dan perlu. Dengan segala kekurangan, www.macapatsyafaat.com hanya ingin menemani proses Jamaah Macapat Syafaat dalam upaya tumbuh bersama. Keberadaan www.macapatsyafaat.com pun tak lain hanya ingin menjadi ejawantah dari laku asah-asih-asuh.

Nah, lembaran yang kini panjenengan pegang, hanya semacam welcome drink. Yakni suguhan sambutan sebelum panjenengan memasuki pintu-pintu ilmu dalam rumah besar Macapat Syafaat. Juga semacam suguhan sambutan sebelum panjenengan khusyuk menikmati sajian informasi di www.macapatsyafaat.com. Dan juga semacam teman waktu senggang di sela-sela aktivitas panjenengan.

Akhir kata, selamat membaca!

1 4 5 6 7 8 10
Go to Top