Mocopat Syafaat

Placeholder
Komunitas

Dinamika Komunitas

Komunitas adalah wadah bagi beberapa atau banyak orang yang saling berkumpul dan berguyup atas dasar kesamaan. Kesamaan itu bisa oleh nilai yang … Keep Reading

  • JAMAN EDAN

                                                                                                                            –dari Serat Kalatidha karya R. Ranggawarsita   Hamenangi jaman edan Ewuh aya ing pambudi Melu ngedan nora tahan  … Keep Reading

  • Jelang Ihtifal Maiyah

              Bulan Mei 2016 merupakan bulan spesial bagi Jamaah Maiyah Nusantara. Bukan hanya karena sebulan lagi memasuki bulan Ramadhan, akan… Keep Reading

Profil Omah Aksara

in Komunitas by
omah aksara

Omah Aksara adalah rumah singgah bagi para penjelajah, rumah semadi bagi pejalan sunyi, rumah dialektika bagi para penggali makna. Berbekal kesadaran eling lan waspada, setiap penghuni bebas memilih pintu masuk untuk memasuki kedalaman ilmu, bebas pula memilih pintu keluar untuk mengembara menembus batas cakrawala.

Saban minggu kedua dan keempat, penghuni Omah Aksara berkumpul di Rumah Maiyah Kadipiro. Sedangkan pada minggu pertama dan ketiga, penghuni Omah Aksara menikmati keindahan  malam di angkringan atau warung kopi di sudut-sudut kota Yogyakarta. Di sela-sela menyesap hangatnya secangkir kopi atau teh, penghuni Omah Aksara membincangkan pelbagai fenomena sosial, mencatat gerak kehidupan, saling bertukar kacamata dan pisau analisis hingga saling menelanjangi karya tulis satu sama lain.

Omah aksara tidak berdiri begitu saja, serpihan Omah Aksara mulai terkumpul sejak peristiwa “Pelatihan Kewartawanan” di Rumah Maiyah Kadipiro Yogyakarta, pada 26 Februari 2015. Serpihan itupun mengalami perjalanan panjang, ada yang terkumpul, ada pula yang terberai. Dan seiring berjalannya waktu kumpulan serpihan itu semakin memadat, terilhami puisi Rumah karya Damanto Yatman akhirnya pada 12 April 2015 kumpulan serpihan ini mendirikan Omah Aksara.

Iman dan Pengetahuan Saling Berkaitan

in Komunitas by

Pada Sabtu, 20 Pebruari 2016, Redaksi Macapat Syafaat. berkesempatan menghadiri Majelis Masyarakat Maiyah Waro’ Kaprawiran (MMMWK) di Madiun, Jawa Timur. Pada kesempatan itu digelar juga Forum Silaturahmi Pegiat Maiyah Nusantara. Beberapa simpul Maiyah Nusantara diantaranya Rembug Macapat Syafaat (Yogya), Nahdlatul Muhammadiyyin (Yogya), Likuran Paseduluran (Kebumen), Juguran Syafaat (Purwokerto) Bangbang Wetan (Surabaya), dan Jamparing Asih (Bandung) turut hadir dan saling berbagi pengalaman.

Bertempat di SMK Nusantara, Forum Silaturahmi Pegiat Maiyah Nusantara diiringi rintik hujan. Dipandu Mas Harianto, Pak Toto Rahardjo, Mas Helmi Mustofa dan Cak Zaki, Forum Silaturahmi Pegiat Maiyah Nusantara membahas perkembangan simpul Waro’ Kaprawiran. Waro’ Kaprawiran merupakan simpul Maiyah yang terdiri dari empat kabupaten yakni Madiun, Ngawi, Ponorogo dan Magetan.

Usai acara tersebut, para Pegiat Maiyah Nusantara turut memasuki pintu-pintu ilmu MMWK. Tepat pukul 20.30 WIB hujan reda, lalu MMWK dibuka dengan tadarrus Al Quran. Lalu dilanjutkan dengan sholawatan diiringi hadroh Waro’ Kaprawiran.

Malam itu, MMWK mengangkat tema Trabbasan. Mas Zainul dan Mas Waluyo dari MMWK menyapa jamaah sekaligus memberikan lambaran (pengantar) dengan melontarkan pertanyaan seputar agama dan ketuhanan. “Kenapa sih kita harus menyembah Tuhan? Sebenarnya Tuhan itu sendiri ada tidak?,” tanya Mas Waluyo kepada Mas Sabrang sekaligus mengajak jamaah untuk bersama-sama menggali ilmu.

“Jika kamu belum mengetahui tentang Tuhan, maka yang pertama percaya (iman) saja, seiring berjalannya proses nantinya kita akan menemukan pengalaman spiritual sehingga percaya (iman) akan terkikis berubah menjadi keyakinan,” Mas Sabrang mengawali diskusi malam itu.

Menurut Mas Sabrang iman itu penting. Ibaratnnya seperti perjalanan dari Yogya ke Madiun. Untuk sampai ke Madiun, meski melewati jalur manapun tetap membutuhkan petunjuk, karena kita tidak tahu persis jalan mana yang harus kita pilih untuk sampai di tujuan. Oleh karena itu, kita sering menggunakan GPS untuk membantu menemukan tempat yang dituju. Kita pasti percaya pada GPS, mengimani GPS, maka GPS itu adalah ‘jembatan’ untuk bisa sampai pada tujuan. Begitu pula dalam Islam, kita akan susah untuk bertemu Tuhan, maka kita perlu jembatan yang bernama iman, percaya dahulu bahwa Tuhan itu ada, baru mencari dengan pengetahuan. Dengan pengetahuan, iman akan terkikis dan berubah menjadi keyakinan.

Mas Hariyanto menambahkan dalam rukun Islam selalu ada yang membatalkan. Misalkan kentut, akan membatalkan wudhu. Lalu, apa yang membatalkan syahadat? Jika kita baca hadits Nabi, selalu ada kaitan antara iman dengan perilaku sehari-hari. Misalkan “barangsiapa beriman kepada Allah, maka berkatalah baik atau diam”. “Tindakan keseharian menjadi tolak ukur kadar keimanan, maka  tindakan yang tidak berperilaku baik kepada sekitar, tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan akan membuat pengingkaran terhadap keimanan, dan bisa dibilang itulah yang membatalkan syahadat,” ujar Mas Hariyanto.

Lalu, Mas Helmi turut merespon paparan Mas Sabrang. “Antara iman dan pengetahuan, lebih dulu mana, Mas Sabrang?,” tanya Mas Helmi pada Mas Sabrang.

Mas Sabrang tidak langsung menjawab lebih dulu mana diantara dua hal tersebut. Sebab, menurutnya iman dan pengetahuan saling berkaitan. Bahkan, iman dan pengetahuan memiliki lapis-lapis yang tidak akan habis. Jika kita diberi ilmu tanpa iman kita belum jelas menatanya seperti apa. Demikian juga, jika kita beriman tanpa mencari ilmu kita juga tidak akan berkembang semakin mendekat kepada Tuhan. Jadi ilmu dan iman adalah tahapan yang harus dilewati.

“Ilmu dan iman saling berkaitan, terus-menerus harus digali. Kita tidak diwajibkan menemukan Tuhan ,akan tetapi kita diwajibkan untuk tidak berhenti mencari, berani beriman tetapi tidak berhenti mencari,” tutur Mas Sabrang.

1 5 6 7 8 9 10
Go to Top