Mocopat Syafaat

Placeholder
Komunitas

Dinamika Komunitas

Komunitas adalah wadah bagi beberapa atau banyak orang yang saling berkumpul dan berguyup atas dasar kesamaan. Kesamaan itu bisa oleh nilai yang … Keep Reading

  • JAMAN EDAN

                                                                                                                            –dari Serat Kalatidha karya R. Ranggawarsita   Hamenangi jaman edan Ewuh aya ing pambudi Melu ngedan nora tahan  … Keep Reading

  • Jelang Ihtifal Maiyah

              Bulan Mei 2016 merupakan bulan spesial bagi Jamaah Maiyah Nusantara. Bukan hanya karena sebulan lagi memasuki bulan Ramadhan, akan… Keep Reading

Silaturahmi Jamaah Maiyah Yogya

in Sastra by

Pada Ahad, 7 Februari 2016, Rembug Macapat Syafaat (RMS) menggelar Silaturahmi Jamaah Maiyah Yogya di Rumah Maiyah Jl. Wates Km 2,5 Gg. Barokah 287 Kadipiro, Bantul, Yogyakarta. Acara tersebut merupakan ajang bertemu dan berkumpulnya Jamaah Maiyah Yogya. Memang, Jamaah Maiyah Yogya sudah saling bertemu dan berkumpul di Majelis Masyarakat Macapat Syafaat yang rutin digelar setiap tanggal 17 di TKIT Alhamdulillah Tamantirto, Kasihan, Bantul.

“Sekedar informasi saja bahwa akhir-akhir ini muncul simpul Maiyah di berbagai daerah. Saat ini tercatat ada 22 simpul Maiyah. Di berbagai daerah tersebut, Jamaah Maiyah sudah saling bertemu dan berkumpul. Sementara itu, Jamaah Maiyah Yogyakarta hanya bertemu pada acara Macapat Syafaat saja. Dan setelah acara selesai, jamaah pun pulang ke rumah masing-masing. Untuk itu, acara ini digelar agar jamaah bisa saling sambung rasa, bisa saling mengenal dan bersilaturahmi satu sama lain,” tutur Maulinni’am membuka acara.

Urgensi Berjamaah

Malam itu, Mas Harianto, Ketua Isim Maiyah Nusantara, juga turut hadir membersamai Jamaah Macapat Syafaat. “Silaturahmi Jamaah Macapat Syafaat menurut saya adalah salah satu kegiatan yang diadakan oleh Rembug Macapat Syafaat (RMS). Bukan sebuah organisasi baru. Sebaliknya, kegiatan ini menurut saya justru bisa menjadi forum pemadatan atau pendalaman dari Macapat Syafaat yang rutin digelar di Kasihan,” ujarnya.

Lebih lanjut ia juga melempar sebuah tema untuk didiskusikan bersama. “Menurut saya pada pertemuan awal ini, sebaiknya kita memahami apa hakikatnya jamaah? Kenapa ada sholat berjamaah dan munfarid? Apakah ketika kita berkumpul dan masing-masing sholat apakah sudah bisa disebut sholat berjamah? Ternyata belum bisa dikatakan berjamaah. Sebab, kalau kita pahami ciri utama sholat berjamaah itu ketika ada imamnya. Meskipun hanya terdiri dari dua orang saja,” tutur Mas Harianto mengawali diskusi malam itu.

Merespon tema tersebut, Mas Dhani mencoba melihatnya dari perspektif lain. “Pertama kali saya mengikuti Maiyah, Cak Nun pernah bilang: Maiyah itu bukan karya saya. Bahkan orang yang tidak kenal kata Maiyah, tidak pernah berkumpul seperti ini atau tidak kenal beliau, tapi perilakunya Maiyah, maka ia sudah bermaiyah. Maka,Maiyah adalah produknya Allah,” tuturnya.

Oleh karena Maiyah itu ciptaan Allah, ia menambahkan. Maka kita harus berakhlak seperti akhlaknya Allah SWT. Sebab, jika dirunut dari akar katanya, kata akhlak sangat berkaitan kata Kholik dan Mahluk. Memang belum pasti garisnya apa yang disebut berakhlak sebagaimana sang Kholik. Tapi menurut saya ciri yang pertama adalah Haqqun (benar). Sebab Allah bikin jagad ini dengan cara haqqun (benar). Kedua, la’ibun (main-main). Artinya, dalam berakhlak kita semestinya tidak bermain-main. Sebab, Allah SWT dalam menciptakan alam semesta ini tidak dengan main-main. Ketiga, bathil (tanpa hikmah). Maksudnya, dalam menjalani kehidupan ini semestinya kita mencari hikmah di balik kejadian sehari-hari. Sebab, Allah SWT menciptakan langit dan bumi dan apa yang diantara keduanya tanpa hikmah.

Silaturahmi Jamaah Macapat Syafaat malam itu dihadiri oleh 67 (enam puluh tujuh) orang dengan berbagai latar belakang pekerjaan dan daerah yang berbeda-beda. Malam itu, Jamaah Macapat Syafaat bersepakat untuk mengadakan kembali Silaturahmi Jamaah Macapat Syafaat setiap sebulan sekali untuk mendalami tema-tema yang dibahas dalam Majelis Masyarakat Maiyah Macapat Syafaat. Adapun undangan acara tersebut akan disebarkan melalui akun Facebook Mocopat Syafaat. (fa)

 

 

Catatan Pitulasan Februari 2016

in Reportase Mocopat Syafaat by

Bertempat di TKIT Alhamdulillah, Majelis Masyarakat Maiyah Macapat Syafaat bulan Februari 2016 tampak meriah. Usai tadarrus Al Quran yang dipimpin oleh Mas Ramli, perjumpaan malam itu dimeriahkan oleh tiga tim hadroh-peserta sekaligus juara lomba hadroh yang diselenggarakan PP. Rohmatul Umam Bantul, pimpinan Kiai Ahmad Muzammil.

Usai penampilan tersebut, Cak Nun langsung merespon bahwa dalam kehidupan ini setidaknya ada dua hal penting yang perlu diperhatikan. Pertama, ada wilayah atau situasi, di mana kita harus ngegas, berijtihad, kreatif atau lazim disebut bid’ah (pembaruan). Kedua, ada wilayah atau situasi, di mana kita harus ngerem, patuh, atau lazim disebut wilayah mahdoh.

Namun demikian, ungkap Cak Nun seringkali kita justru terbalik-balik. “Ketika kita diperbolehkan kreatif, malah taat dan ketika kita diharuskan patuh, sebaliknya malah ingin kreatif. Misalnya, dalam hal bernegara, sebenarnya hal itu termasuk dalam wilayah kreatif. Kita justru mengikuti atau taat pada fenomena-fenomena yang sudah baku di dunia,” tuturnya.

Usai Cak Nun merespon penampilan hadroh, Kiai Kanjeng memainkan satu nomor lagu. Malam itu, Mas Imam dan Mas Islamiyanto menyapa jamaah dengan lagu “Jangan Bersedih”.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu. Allahummasholli Ala Muhammad. Malam ini kita tetap berada dalam posisi doa dan keyakinan pada hukum-hukum Allah. Engko nek ana udan deres, ora mungkin ora klebus, ora mungkn ora teles. Ning kowe muga-muga ora klebus banget. Udan deres ki ora mung udan banyu, tapi udan deres kui macem-macem. Ngko nek ana peteng-peteng, ora isa delok apa-apa, kowe muga-muga siap memancarkan cahaya dari hati dan wajahmu sendiri. Menjadi senter bagi perjalananmu sendiri,” sapa Cak Nun pada jamaah kemudian Cak Nun meminta Mas Doni untuk bernyanyi.

Malam itu, Cak Nun sepertinya terharu melihat jamaah memenuhi area TKIT Alhamdulillah. “Aku nek ndelok ngene ki ga tega. Anda begitu sunguh-sungguh mencari kebenaran Allah. Terus nanti Anda merasa lega, merasa sedikit terhibur. Lalu, Anda kembali ke rumah, kampus, pasar, Anda diantemi karo kahanan, kamu dihardik, sebagai rakyat kamu disiksa, dibebani terus, sebagai ummat muslim kamu diadu-domba terus menerus, sebagai manusia, kamu dihina terus. Sebagai apapun engkau berdiri dg eksistensi dan fungsimu, engkau mendapat tekanan dan beban-beban yang luarbiasa,” ujarnya.

Menang dan Kalah

Melihat ketulusan jamaah tersebut, Cak Nun kemudian mengajak jamaah berbicara perihal menang dan kalah. “Kalau kita diajak ngomong soal kalah dan menang. Kita ini termasuk kalah atau yang menang? Kalau kita omong kalah atau menang, kita harus mundur selangkah, batasannya, kriterianya, dan parameternya apa? Menang itu melawan diri sendiri atau orang lain?,” tanya Cak Nun pada jamaah.

“Melawan diri sendiri,” seru jamaah menjawab.

“Berarti kriterianya yang kita pakai adalah kriteria Rasululah. Yang beliau katakan setelah pulang dari Perang Badar.beliau mengatakan, Kita baru selesai menunaikan perang yang kecil dan skarang kita memasuki perang besar,” lanjut Cak Nun.

Lalu Cak Nun menyatakan bahwa miskin atau kaya tidak ada urusannya dengan menang atau kalah. Sulit atau mudah tidak ada urusannya dengan menang atau kalah. Misalnya, ada hidupnya yang susah, ada yang bisa cepat nikah, atau ada pula yang belum menikah. Hal itu merupakan irama hidup. Dan Allah yang memegang kendali irama hidup itu. Yang terpenting adalah kita menang atau tidak melawan yang tidak benar dalam diri.

Mengenal Diri

Perjumpaan malam itu tidak seperti biasanya. Mas Harianto melakukan survey kecil-kecilan. Yakni dengan bertanya umur, asal daerah, pekerjaan dan intensitas kehadiran di Macapat Syafaat.

Melihat langsung hasil survey tersebut, Cak Nun tampak antusias. “Kasih saya beberapa kalimat yg bisa dipahami oleh anak umur di bawah 10 tahun, di bawah 20 tahun, di bawah 40 tahun dan di atas 40 tahun,” respon Cak Nun melihat keragaman umur jamaah yang hadir.

Cak Nun melontarkan pertanyaan tersebut karena dalam ilmu komunikasi tidak ada kalimat atau penjelasan yang cocok untuk semua umur. Ada perbedaan kalimat atau penjelasan untuk setiap umur. “Tapi kenapa hal ini bisa terjadi di sini?Anda takjub tidak? Nah, kalau engkau tak takjub dengan hal ini dan tidak ingin mencari apa yang sebenarnya terjadi di balik ini semua, maka kamu tidak akan mendapat apa-apa,” tuturnya.

Cak Nun lalu menegaskan bahwa sudah 40 tahun lebih ia menulis hampir mencapai 70 judul buku, ribuan tulisan dan beberapa karya di luar sastra. Dan tulisan tersebut diperuntukkan kepada masyarakat umum. Maka, muatannya harus komunikatif, harus enak dan cocok dengan sebanyak mungkin orang. Menurut Cak Nun masyarakat umum tersebut hanyalah konsumen. Ibaratnya, Cak Nun memberi buah Mangga yang sudah dikupas dan diiris-iris sehingga masyarakat luas tinggal menikmatinya.

“Akhir-akhir ini, saya berpikir tak akan kasih lagi buah kepada masyarakat Indonesia. Tak akan kasih buah kepada Umat Islam Indonesia maupun dunia. Karena Indonesia maupun dunia tidak pernah menganggap saya pernah ada. Dan saya hanya akan memberi buah kepada Jamaah Maiyah. Jelas sangat berbeda dengan masyarakat di luar sana. Kalau mereka hanya konsumen. Anda adalah pejuang. Nek kowe pejuang, kowe ora tak kei buah. Kowe tak kei pelok,” tegas Cak Nun.

Cak Nun juga menegaskan bahwa survey yang dilakukan tersebut bukan untuk kepentingan dirinya sendiri. Akan tetapi, survey tersebut bertujuan untuk mengenal diri sendiri. Saling mengenal satu sama lain.

“Anda punya watak pejuang berapa persen? Ini ilmu lama, bahwa manusia itu ada empat macam: pencetus atau perintis, lalu pembangun, manager, ketiga pemelihara, pegawai dan yang keempat pendobrak. Pendobrak ini mendominasi, semua disalahkan.  Anda temukan! Anda detailnya di mana. Kalau anda tipe orang setia, anda orang ketiga. Kalau anda perintis anda harus menanggung resiko sebagai seorang perintis. Kalau anda manager, anda harus punya kesucian sebagai seorang manager. Jadi ngalimul ghaib was shahadah, Rahman Rahim, kemudian Malik, Quddus, Salam, Mu’min, Muhaimin. Kalau sudah itu, anda masuk Aziz dan tidak bisa dihantam atau dijatuhkan siapa-siapa. Kemudian Jabbar dan Mutakabbir, yang artinya mengatasi. Ketika kamu mendapat masalah, kamu mampu mengatasinya, kamu lebih besar dari masalah itu. Kamu mengembangkan hatimu, keyakinanmu, fikiranmu untuk mengatasi masalah. Hari ini, kita tidak mungkin mengatasi masalah Indonesia. Virus saja kita tidak bisa. Dan memang tidak ada manusia yang bisa mengatasi masalah, hanya Allah yang bisa. Kamu ingin membangun diri sendiri atau ingin menjadi pejuang?,” lanjut Cak Nun

Terakhir, Cak Nun meminta maaf atas segala salah dan khilaf. Lalu, Cak Nun mengajak jamaah melantunkan syair hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal mawla wanni’man nashir. Dan, doa dari Kiai Muzammil menutup Majelis Masyarakat Maiyah Macapat Syafaat malam itu.(fa)

Evaluasi dan Evasempiti

in Sastra by

Evaluasi adalah kalau kebetulan ada sesuatu menimpa diri kita, baik atau buruk, suka atau tidak suka, pertama kali yang harus dikroscek ya diri sendiri. Ada apa kiranya dan mengapa kok sampai bertemu dengan peristiwa yang menimpa tersebut. Kalau kebetulan terpeleset oleh kulit pisang di tengah jalan, pertama bukan menyalahkan, “siapa sih orang tolol yang buang kulit pisang sembarangan” melainkan “kenapa ya, aku kok sampai terpeleset?” Kalau sudah begitu, akan asyik kita memasuki kedalaman diri, menelisik dan mempelajari, apa saja yang sudah kuperbuat tadi kok sampai terpeleset seperti ini. Tadi aku mungkin kurang awas, ngelamun, tidak fokus, atau tadi sempat ngerjain orang, sekarang kena balasannya. Atau apalah.

Pun sebenarnya segala peristiwa yang datang ke kita itu, jan-jane semuanya netral. Kalau angka matematikanya ya nol (0). Seterusnya diri kitalah yang memiliki kewenangan penuh untuk memberinya nilai positif (+1) atau nilai negatif (-1). Dan itu semerdeka-merdeka diri kita dalam menilainya. Dan itu berlaku pada semua peristiwa yang datang ke kita.

Pada kasus terpeleset tadi, rata-rata orang, biasanya, jadi ya tidak semuanya, menganggap terpeleset adalah hal buruk. Padahal ya belum tentu. Padahal ya tergantung kita. Bisa jadi baik ketika kita sanggup meneruskannya pada hubungan yang plus satu atau jadi buruk ketika mengaitkannya dengan yang minus satu. Itu soal pemaknaan. Tetapi tetap, realitasnya diri kita terpeleset. Kasunyatannya kita terjatuh oleh kulit pisang.

Kembali soal evaluasi. Ketika bertemu peristiwa, jangan sampai berlalu begitu saja tanpa menarik garis peristiwanya ke diri, jangan sampai peristiwa lewat tanpa men-stabilo amanat pesannya ke dalam diri. Lebih lanjut bisa digunakan titik-titik pemaknaan sebagai contoh seperti ini. Dalam kasus terpeleset kulit pisang tadi dapat ditarik letak titik musibahnya di mana, titik peringatannya di mana, titik nikmatnya di mana, bahkan titik adzabnya di mana dst. Titik itu bisa sangat beragam, tergantung seberapa rajin diri kita mau menggalinya. Sehingga baru kasus terpeleset saja, dapat kita temukan banyak makna, banyak input, bagi diri kita.

Titik musibahnya adalah sesuatu yang tidak mengenakkan sedang menimpa diri kita. Titik peringatannya bisa jadi karena terburu-buru maka terpeleset, besok-besok lebih hati-hati. Titik nikmatnya karena dengan terpeleset diri jadi tersadar, untung masih hidup, sebab ada orang yang terpeleset, mati. Titik adzabnya bisa karena pada waktu sebelum-sebelumnya kita punya salah, terus dihukum dengan terpeleset, untuk membersihkan diri. Silakan diteruskan dengan titik-titik yang lain, semau-maunya, sebanyak-banyaknya.

Dengan berevaluasi, sejatinya kita sedang belajar kepada diri sendiri. Belajar mengenal diri. Belajar dari kesalahan, belajar dari kebaikan, belajar dari dinamika diri kita. Efeknya diri kita menjadi luas. Sebab diri adalah semesta yang sangat luas untuk dijelajahi. Diri adalah semesta yang selalu siap sedia untuk membantu diri kita di dalam mengenali yang Sejati. Pintu masuknya ya peristiwa-peristiwa yang hadir menyapa diri kita.

Evaluasi pun tidak hanya soal menemukan kesalahan apa saja yang sudah dilakukan baik dengan sengaja atau tanpa sengaja. Tidak hanya soal apakah kesalahan yang sudah dilakukan merupakan kesalahan kecil ataupun kesalahan yang besar. Selain itu, dengan evaluasi, kita juga berusaha menemukan kebaikan apa saja yang sudah dikerjakan, bukan untuk dibangga-banggakan melainkan untuk dipertahankan, diperkuat lagi, ditingkatkan lagi di kemudian hari.

Keluasan berpikir dan keluasan hati niscaya akan terbentuk dengan sendirinya ketika terbiasa berevaluasi. Sementara kalau yang masih berlangsung dalam diri kita adalah menyalahkan peristiwa yang datang, menyalahkan orang lain, menunjuk-nunjuk yang diluar diri sebagai biang keladi segala sesuatu yang menimpa diri kita maka bukan evaluasi yang membikin luas diri yang sedang berlangsung melainkan evasempiti. Kesempitan demi kesempitan yang menghampiri, baik dari cara berpikir yang jadi dangkal maupun dari hati yang jadi gampang tersakiti.

Kalau sudah sempit. Adanya peristiwa menyenangkan hanya mengakibatkan lupa diri, mbungahi. Adanya peritiwa yang menyusahkan, buru-buru mencari sasaran kambing hitam, minimal menyalahkan keadaan. Kalau sudah sempit, gak usah ditanyalah. Jadi gampang marah, mudah diadu-domba, merasa paling benar sendiri, rentan galau dan penyakit sejenis lainnya. Jangankan menampung orang lain, karena saking sempitnya menampung dirinya sendiri saja kewalahan. Kalah dengan keinginannya, kalah dengan egonya, kalah dengan dirinya sendiri.

Dengan evaluasi yang dicari adalah seberapa efektif dan efisien diri kita di dalam mengambil pelajaran dari seluruh hal yang sudah dialami. Seberapa mampu kita dapat belajar dari pengalaman. Seberapa peningkatan spiritual kita dengan mengandalkan peristiwa demi peristiwa yang hadir dalam perjalanan hidup kita. Sejauhmana diri kita mau menyerap pesan peristiwa yang kebetulan mampir dan bertamu di muka kita. Dengan terus berevaluasi maka akan mengajarkan diri kita bahwa segala sesuatu yang menimpa diri kita, tidak lain penyebabnya ya diri kita sendiri. Sehingga kalau mau omong soal perbaikan ya dimulai dari diri sendiri.

1 6 7 8 9 10
Go to Top