Mocopat Syafaat

Placeholder
Komunitas

Dinamika Komunitas

Komunitas adalah wadah bagi beberapa atau banyak orang yang saling berkumpul dan berguyup atas dasar kesamaan. Kesamaan itu bisa oleh nilai yang … Keep Reading

  • JAMAN EDAN

                                                                                                                            –dari Serat Kalatidha karya R. Ranggawarsita   Hamenangi jaman edan Ewuh aya ing pambudi Melu ngedan nora tahan  … Keep Reading

  • Jelang Ihtifal Maiyah

              Bulan Mei 2016 merupakan bulan spesial bagi Jamaah Maiyah Nusantara. Bukan hanya karena sebulan lagi memasuki bulan Ramadhan, akan… Keep Reading

Bermaiyah Kapan Saja

in Komunitas by

Saat pukul 20.00 wib tiba, sontak saya menyalakan laptop. Koneksi internet pun saya aktifkan. Dan lekas membuka Facebook, lalu mencari link live streaming Maiyahan melalui akun-akun FB Jamaah Maiyah atau grup FB Maiyah yang saya ikuti.

Usai menemukan link live streaming Maiyahan, lalu saya klik dan saya pun menyimaknya sampai tuntas. Menyimak live streaming Maiyahan tanpa segelas kopi ibarat makan sayur tanpa garam. Segelas kopi pun saya siapkan sembari menikmati live streaming Maiyah dari kejauhan.

Dan segelas kopi jelas tak cukup untuk mengarungi luasnya lautan ilmu Maiyah. Terlebih di malam hari, selalu ada rasa kantuk yang menghampiri. Saya pun menyalakan beberapa batang rokok untuk mengusir rasa kantuk. Begitu nikmatnya Maiyahan meski cuma lewat live streaming.

Selain itu, kenikmatan Maiyahan masih terasa meski rasa kebelet menghampiri. Sebab, saya masih bisa ke toilet dan menyimaknya dari kejauhan. Jika meminjam ayat Allah SWT: “maka nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?” Rasa nikmat itu seakan membuat saya lupa akan rasa getir menahan kebelet saat duduk di pelataran TKIT Alhamdulillah. Bahkan, saya tak bisa membayangkan berapa panjang antrian untuk bisa melepas “panggilan alam” itu di toilet TKIT Alhamdulillah.

Hari pun berganti, hingga saya mendapat kabar bahwa setiap Jum’at minggu kedua, ada Kenduri Cinta, Majelis Masyarakat Maiyah di Jakarta. Saat itu, tepat Jum’at minggu kedua, persis pukul 20.00 wib, saya pun kembali menyalakan laptop. Lalu, membuka fanspage Kenduri Cinta dan betapa bahagianya menemukan link live streaming Kenduri Cinta. Saya pun membukanya. Saat itu, segelas kopi dan rokok, sudah siap menemani ‘perjalanan panjang’ menyantap Kenduri Cinta.

Dan, “nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?” kembali menemukan momentumnya. Saya bahagia bisa menyantap Kenduri Cinta meski hanya lewat dunia maya. Untuk menyantap Kenduri Cinta malam itu, sesekali saya sruput kopi di samping saya. Lalu, menyulut sebatang rokok. Asap pun mengepul dan menemani malam sunyi kala itu. Sesekali ikut ketawa saat Cak Nun atau siapapun di panggung Kenduri Cinta ndagel (ngelawak). Malam itu, kebahagiaan seakan muncul tak terbantahkan.

Bahkan, kebahagiaan itu seakan mengalihkan perhatian saya. Sehingga saya tak bisa membayangkan betapa lelahnya hari-hari Cak Nun. Malam hingga subuh menjelang, Cak Nun menemani Jamaah Maiyah Kenduri Cinta. Keesokan malamnya lagi, sudah harus menyapa masyarakat di pelosok desa. Kebahagiaan mengikuti live streaming Maiyahan kala itu seakan tak menggambarkan macet dan terjalnya perjalanan Cak Nun untuk menyapa masyarakat di kota-kota maupun pelosok desa.

Demikian, kurang lebih suasana saat saya merantau ke luar daerah beberapa bulan pada 2014 lalu dan hanya bisa Maiyahan melalui live streaming.

Fleksibilitas Maiyah

Jika bermaiyah adalah mengikuti Maiyahan dengan duduk berjam-jam hingga tarhim terdengar. Maka betapa sempit dan dangkalnya Maiyah. Bukankah, Maiyah itu luas nan mendalam? Bukankah melakukan apa pun dengan kerangka cinta segitiga: Allah, Rasulullah dan kita, itu sudah bermaiyah?

Bukankah menjalani kehidupan dengan kesadaran tahlukah (penghancuran atas kehancuran) yakni menyadari bahwa hari ini harus senantiasa lebih baik daripada hari kemarin, itu juga sudah bermaiyah?

Bukankah selalu mencari batas dari suatu kebebasan itu sudah bermaiyah? Bukankah tak terburu-buru meyakini ‘ya’ sebelum mengarungi puluhan bahkan ratusan ‘tidak’ itu sudah bermaiyah? Bukankah menjalani hari dengan selalu mempertimbangkan antara wajib, sunnah, mubah atau haram itu sudah bermaiyah?

Bukankah senantiasa menikmati kebahagiaan mencintai melebihi kebahagiaan dicintai;kebahagiaan memberi melebihi kebahagiaan diberi;kebahagiaan menanam melebihi kebahagiaan memanen, itu juga sudah bermaiyah?

Sungguh, betapa lentur dan cairnya Maiyah sehingga kita bisa bermaiyah di mana dan kapan saja.

Arti Sebuah Perjumpaan

Tak bisa dipungkiri bahwa betapa longgar waktu yang disediakan Allah SWT bagi kita. Sehingga betapapun sibuknya aktivitas kita akan selalu ada sedikit waktu untuk kita bisa sesekali menyambangi perjumpaan Maiyah yang terselenggara di berbagai kota di Indonesia. Terlebih saat ini, banyak simpul Maiyah yang tumbuh di berbagai kota di Indonesia. Persisnya, ada 19 simpul Maiyah. Yakni Padhang Bulan (Jombang), Macapat Syafaat (Yogyakarta), Gambang Syafaat (Semarang), Kenduri Cinta (Jakarta), Bangbang Wetan (Surabaya), Maneges Qudrah (Magelang), Juguran Syafaat (Purwokerto & Purbalingga), Relegi (Malang), Nahdlatul Muhammadiyyin (Yogyakarta), Maiyah Ambengan (Metro, Lampung Timur), Waro’ Kaprawiran (Madiun) dll.

Barangkali tak berlebihan, jika di setiap perjumpaan Maiyah di manapun itu berada, baik itu dihadiri Cak Nun ataupun tidak, ada sesuatu yang hidup setelah lama mati. Entah apapun itu wujudnya. Dalam perjumpaan itu, tidakkah kita juga ingin menghidupkan sesuatu yang lama mati dalam diri kita? Layaknya ikan matang yang siap disantap Nabi Musa dan pengikutnya, tapi tiba-tiba hidup dan melompat saat tiba di Majmaal Bahrain (perjumpaan dua buah lautan).

2016: Penghancuran

in Redaksi by

     Meski awal tahun 2016 bertepatan dengan bulan kelahiran manusia cahaya, Nabi Muhammad SAW. Rasa-rasanya tak begitu terang, cenderung gelap-gulita. Hingga tak ada kalimat yang layak kita dengungkan kecuali “allôhumma nawwir ‘uqûlanâ li-nastanîro binûrikal-’azhîmi wasatho hâdzihizh-zhulumâtil-latî ahâthot binâ” Ya Alloh, terangilah akal-akal kami agar kami mendapat cahaya-Mu yang agung di tengah kegelapan-kegelapan yang mengepung kami ini.

           Bahkan, kembang api yang membubung tinggi di langit tak membuat hari-hari kita bertabur cahaya. Mungkin ke depan, hari-hari kita adalah malam, meski matahari belum juga terbenam.

           Jika keadaan amat gelap gulita, tak salah bila Cak Nun berucap: “dan di dalam kegelapan segala yang buruk terjadi/ orang tidak bisa menatap wajah orang lainnya secara jelas/ orang menyangka kepala adalah kaki/ orang menyangka Utara adalah Selatan/ orang bertabrakan satu sama lain/ orang tidak sengaja menjegal satu sama lain/ atau bahkan sengaja saling menjegal satu sama lain/ di dalam kegelapan orang tidak punya pedoman yang jelas untuk melangkah/ akan ke mana melangkah?/ dan bagaimana melangkah?”

           Jika sudah demikian, maka dalam kondisi apapun, meski terbata-bata, mulut dan hati kita harus senantiasa melantunkan “allôhumma ‘allimnâ kalimâtiy-yalîqu bi-maqôminâ wa sulûkinâ an-nad’uwaka bihâ wa nunâjiyak, anta khoyru man ‘allamanâ, anta waliyyunâ wa mawlânâ, innaka antal-’alîmul-khobîr” Ya Allah, ajari kami kalimat-kalimat yang sesuai dengan maqom kami dan tingkah laku kami yang dengannya kami berdoa dan bermunajat kepada-Mu. Kaulah sebaik-baik Dzat yang telah mengajari kami, Kaulah penolong kami dan pelindung kami, sesungguhnya Kaulah Yang Maha Tahu dan Maha Mengerti.

          Bahkan, di dalam kegelapan, tak hanya pedoman yang hilang. Begitu juga dengan ukuran-ukuran, standar-standar, atau nilai-nilai. Semuanya kabur, blawur. Mata tak begitu jelas melihat. Sudut dan jarak pandang terhalang. Suasana pun gaduh oleh suara-suara: “gak pake hp android, gak ngehits”, “yen ora satria FU, ora” dan lain sebagainya. Bahkan tak sadar bergumam sendiri: “penake cah kae, kerja ora kepanasan, bayare gedhe. Lha aku, wis direwangi panas-panas, bayare mung cukup dinggo tuku bensin lan rokok”

           Hingga akhirnya, kita tak sadar menjadi pemalas yang angkuh. Selalu berkhayal bahwa semua hal itu sulit, tanpa pernah berbuat apa-apa. Maka, sebelum terjadi demikian, dengan segala kerendah-hatian, kita harus selalu memanjatkan “allôhumma fasysyil irôdâtinâ wa roghobâtinâ wa âmâlanâ mâ lam tuwâfiq irôdataka wa anta ghoyro rôdhin ‘anhâ, lakal-mulku wa lakal-hamdu tuhyî wa tumît, wa anta ‘alâ kulli syay’in qodîr” Ya Alloh, gagalkan kehendak kami, keinginan kami, dan cita-cita kami, selama tidak sesuai dengan kehendak-Mu dan Kau tidak meridhoinya. Bagi-Mulah kerajaan dan bagi-Mu-lah segala puji, Kau menghidupkan dan mematikan, dan Kau berkuasa atas segala sesuatu.

        Berbekal kalimat sakti itu, semoga kita tak terkurung di alam sawang-sinawang, giat melihat, menilai, menakar, menduga, dan mengimajinasi    keadaan orang lain. Hingga akhirnya, tak sensitif dengan keadaan luar. Tak paham jika berulangkali “papa minta saham”. Tak peduli jika korupsi di negeri kian menjadi-jadi.

        Memang, keadaan di luar sana bukan tugas utama kita. Bukan pula maqam kita untuk merampungkan segalanya. Tapi, setidaknya meskipun lirih, kita perlu urun umak-umik, melafalkan “robbanâ akhrijnâ min hâdzihil-qoryatizh-zhâlimi ahluhâ waj’al lanâ mil-ladunka waliyya, waj’al-lanâ mil-ladunka nashîro” Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri yang zalim penduduknya ini, dan jadikanlah bagi kami pelindung dari sisi-Mu, dan jadikanlah bagi kami penolong dari sisi-Mu.

        Atau minimal sesekali merapalkan “allôhumma innî a’ûdzu bika min zhulmith-thôghûtil-ladzî dhoyya’al-amânah, wa afsadal-îmân, wa aqharol-’adl, wa aqbahal jamâl, wa adhâ’al-jihâda fî tawhîdik, wa qotho’aththorîqo li-mahabbatika wa khidmatik” Ya Alloh, aku berlindung kepada-Mu dari kezaliman berhala-berhala yang telah menyia-nyiakan amanat, merusak iman, mengalahkan keadilan, memperburuk keindahan, mengabaikan jihad dalam mengesakan-Mu, dan memutus jalan untuk mencintai-Mu dan berkhidmat kepada-Mu.

          Dan jika di luar sana, tak juga bisa kita kendalikan. Minimal, di dalam diri, di wilayah tugas utama kita, mampu kita kendalikan dengan senantiasa merunduk khusyuk menyapa Allah SWT dengan sapaan “allôhumma a’in ‘abdakadh-dho’îfa bi-ihlâki mâ yalîqu ihlâkuh, wa bi-inhâdhi mâ rodhîta bi-nahdhotih” Ya Alloh, tolonglah hamba-Mu yang lemah dengan menghancurkan sesuatu yang layak dihancurkan dan membangkitkan sesuatu yang Kau ridhoi kebangkitannya.

Sukadi Brambang Procot dan Sedekah Maiyah

in Redaksi by

Brambang Procot, demikian masyarakat Gunungkidul memberi gelar pada bunga yang mekar setahun sekali itu. Awalnya, bunga itu dianggap gulma yang merusak tanaman pangan. Sebab, ketika bunga itu tumbuh subur di ladang atau tegalan menghisap nutrisi makanan yang dibutuhkan tanaman pangan. Dengan kata lain, di balik kesuburan Brambang Procot, ada singkong atau kacang tanah yang terancam kematian.

Adalah Sukadi, 43 tahun, warga Dusun Ngasemayu, Desa Salam, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi buah bibir pada akhir November lalu. Ia tergolong orang yang tidak “anut grubyuk nanging ora ngerti rembug”. Ia juga tak latah bak “rubuh-rubuh gedhang”. Ketika orang-orang di sekitarnya memburu lalu memusnahkan Brambang Procot, Sukadi justru membudidayakannya.

Tepatnya, pada 2004 lalu, ia mengambil beberapa biji Brambang Procot di tegalan lalu menanamnya kembali di halaman rumahnya. Setiap pagi sebelum berangkat menjajakan aneka mainan anak di Pasar Piyungan Bantul, ia menyiraminya. Lalu, saat pulang, ia pun kembali menyiraminya.

Berkat ketekunannya, Brambang Procot pun tumbuh subur dan berkembang. Ia pun mencoba menjajakan bunga itu bersamaan aneka mainan anak di Pasar Piyungan. Tak disangka, bunga-bunga itu diminati orang dan laku keras. Hingga pada puncaknya, akhir bulan November lalu, kebun Brambang Procot nan indah seluas 2300 meter itu rusak akibat diinjak-injak dan dipetik untuk atribut aksi selfie para pengunjung.

Atas insiden tersebut, Sukadi justru bersikap lain. Jika pada umumnya orang akan marah ketika barang milikya dirusak, Sukadi justru meminta maaf. Sebab, panorama kebun bunganya sudah tak seindah beberapa hari sebelumnya. Bahkan, ia mengaku senang akibat insiden tersebut karena hal itu menunjukkan masih banyak orang yang mencintai Brambang Procot yang notabene sempat dianggap gulma oleh warga sekitarnya. Ia pun berjanji akan memperbaiki kebun bunganya agar kelak bisa dikunjungi kembali.

Barangkali saat ini Jamaah Maiyah Nusantara perlu meniru sikap Sukadi. Yakni ketika banyak orang menganggap Brambang Procot sekadar gulma justru mengambil dan mengasuhnya. Membudidayakannya. Sudah menjadi rahasia umum begitu banyak ‘gulma’ di sekitar Jamaah Maiyah Nusantara. Baik yang tumbuh di ladang-ladang sosial, ekonomi, hukum maupun politik. Pertanyaannya, apakah lantas membudidayakannya, dalam arti memperbanyaknya? Tentu bukan. Namun, sebaliknya mencerdasi ‘gulma’ agar tak tumbuh subur hingga merusak ladang-ladang Indonesia.

Lho, bukankah sudah ada ‘tukang kebun’ di ladang-ladang Indonesia Raya, yang kita bayar untuk membersihkan ‘gulma-gulma itu? Mengapa kita juga harus turut membersihkannya?

Hal itu semata karena Jamaah Maiyah Nusantara memiliki cinta, kasih-sayang, kepedulian, kesetiaan (nasihah), dan komitmen kepada Indonesia. Dan mungkin tak berlebihan jika hal itu disebut Sedekah Maiyah kepada Indonesia. Sedekah derajatnya lebih tinggi dibandingkan wajib, karena ia bersedia menjalankan meskipun tidak diwajibkan. Pada puncaknya, Jamaah Maiyah Nusantara akan menikmati betul kebahagiaan memberi melebihi kebahagiaan menerima. Dan merasakan betul kebahagiaan mencintai melebihi kebahagiaan dicintai. Semoga.

Go to Top