Pohon Besar Berbuah Manis

in Komunitas by

Etalase Tuhan di dalam asmaulhusnaNya yaitu rahman dan rahim. Bismillahirohmanirrohim. Kasih dan sayang, begitu kita menyebutnya. Kalau bukan karena kasihNya, dunia dan semesta ini tidak akan pernah ada. Apalagi kita, manungsa, yang kalau dilihat dari sudut pandang jagad raya, tampak sangat kecil-mungil ini.

Kalau mau mempelajari secara lebih dalam cintaNya, lebih jeli memandang kasihNya, memang tidak masuk akal kalau Tuhan sampai menghukum hambaNya. Untuk apa, coba? Apa perlunya bagi Tuhan? Apa pentingnya bagi Tuhan? Tuhan bukan tipe yang senang melihat yang lain menderita.

Semua, dari bumi dan langit; dan di antara keduanya, dikasihiNya. Ditampungnya, diperhatikanNya. Bahkan tak sehelai daun pun yang jatuh, yang terlepas dari perhatianNya. Begitulah semestinya manusia. Berguru kepada Tuhan di dalam berkasih sayang. Kasihnya tidak parsial, tidak Cuma lokal, tidak hanya regional tapi universal.

Ikut Mencicipi

Kasih yang sebagaimana dilakukan oleh Kanjeng Nabi-lah, yang kini kurasakan dari Beliau Simbah Guru. Kasihnya yang turah-turah. Siapapun saja, sejahat apapun, Beliau carikan dan sajikan sisi baiknya. Beliau temukan alasan-alasan agar si jahat tetap layak masuk surga. Beliau doakan keselamatan semua orang. Indonesia bahkan dunia selalu tak luput dari perhatiannya. Nasib anak-cucu. Nasib bangsa Indonesia maupun bangsa-bangsa lain di dunia. Sebab, Maiyah bukan hanya untuk Indonesia, Maiyah untuk dunia. Kasih Beliau kepada siapa pun saja, begitu menyejukkan. Simak saja penggalan puisi Beliau dalam “Kudekap Kusayang-sayang”:

Kudekap mereka, kupanggul, kusayang-sayang,

Dan ketika mereka tancapkan pisau ke dadaku,

Mengucur darah dari mereka sendiri,

Sehingga bersegera aku mengusapnya,

kusumpal, kubalut dengan sobekan-sobekan bajuku

Kemudian kudekap ia, kupanggul, kusayang-sayang,

kupeluk,

kugendong-gendong, sampai kemudian mereka tancapkan

lagi pisau ke punggungku, sehingga mengucur lagi darah

batinnya, sehingga aku bersegera mengusapnya,

kusumpal,

kubalut dengan sobekan-sobekan bajuku, kudekap,

kusayang-sayang.

Cakrawala cinta-kasih yang Beliau mainkan sudah sedemikian jauh. Ketika kanak-kanak, kita hanya sanggup mencintai diri-sendiri. Semua hal, maunya diaku-aku, ini punyaku, ini milikku. Makin tumbuh kita mulai belajar mencintai orang lain, meskipun masih dalam rangka mencintai diri. Sebutlah anak ABG yang mulai mencintai lawan jenisnya. Sampai kemudian menikah. Cinta mulai tumbuh lagi dan belajar lagi. Sampai secara total mencintai orang lain, biasanya dimulai ketika dikaruniai anak. Cinta orang tua terhadap anak adalah cinta yang tulus, total, benar-benar mencintai orang lain, orang di luar dirinya. Anak ngompol di celana, anak rewel, anak bandel, tetap didekap, tetap disayang. Seterusnya cinta tumbuh lagi, melebar ke kanan kiri, menyentuh tetangga, masyarakat dan terus menjelajah ke segala penjuru. Nah, dalam hal ini, cinta Simbah Guru sudah sedemikan tumbuh, sedemikian jauh. Telah dan sanggup mencintai orang yang bahkan memusuhinya, memfitnahnya. Tetap Beliau tampung, tetap Beliau pangku, tetap Beliau dekap dan tetap Beliau sayang-sayang.

Semuanya ditampung, semuanya diterima. Semuanya dipersilakan untuk berteduh dan menikmati buah manisnya. Lalu, positioning diri kita sebagai jamaah, lalu seperti apa? Ya terserah diri masing-masing. Dengan kesadaran dan kedaulatannya masing-masing. Mau ikut berteduh saja, ya silahkan. Mau sambil berteduh, belajar meneduhkan, juga bagus. Mau langsung ikut ambil bagian jatah meneduhkan, juga TOP. Mangga-manggalah. Disesuaikan dengan kondisi, kapasitas dan kapabilitas masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*