Positioning

in Redaksi by

Dalam sebuah permainan sepak bola, seorang kiper mempunyai tugas utama untuk menjaga gawangnya agar tak kebobolan. Begitu juga, seorang bek atau pemain belakang, bertugas membantu pertahanan tim dari serangan lawan. Ia wajib menghentikan pemain lawan yang akan mendekati gawang kemudian membuang bola dari area penalti.

Sedangkan, gelandang atau pemain tengah bertugas menerima bola yang ditujukan ke depan, bertahan atau melakukan tackle terhadap pemain lawan, mencetak atau membantu menciptakan sebuah gol, sehingga mereka sering dianggap sebagai anggota terpenting dalam sebuah tim. Dan seorang striker atau pemain depan, ia memiliki posisi yang paling dekat dengan gawang lawan. Tugas utama seorang penyerang adalah mencetak gol.

Lalu, bagaimana jika seorang kiper lebih sering maju ke depan dan berambisi mencetak gol? Dan tugas utamanya diabaikan. Bagaimana pula jika seorang striker, yang tugas utamanya adalah mencetak gol, justru sering berdiam diri di antara bek tim sendiri?

Memang, dalam sebuah permainan sepak bola setiap pemain berhak mencetak gol dan dituntut untuk menjaga pertahanannya agar tim kesebelasannya menang. Namun, semua itu ada proporsinya, ada tugas utama dan ada pula tugas tambahan. Seorang bek wajib menjaga pertahanan timnya dan alangkah baiknya jika ia mampu mencetak gol. Demikian juga seorang striker sudah semestinya ia mencetak gol dan alangkah baiknya jika ia juga turut menjaga pertahanan timnya dengan menghalau serangan tim lawan.

Andai saja hidup di Indonesia ibarat bermain sepakbola alangkah mudahnya kita. Kita hanya perlu mengidentifikasi diri sebagai kiper, bek, gelandang ataukah penyerang. Jika sudah lalu menyesuaikan posisinya; bek berdiri di barisan belakang dan striker berdiri di depan, siap menceploskan gol ke gawang lawan.

Sayangnya hidup di Indonesia tak semudah bermain sepak bola. Kita harus memiliki hati jembar untuk memaklumi bahwa jaminan kesehatan harus kita bayar sendiri. Bahwa sepulang membayar pajak masih melintasi jalan rusak. Bahwa sudah susah payah bertani masih dirayu untuk membeli beras impor. Bahkan, hati kita harus selalu nyegara, menyamudera untuk menampung ajakan AYO KERJA ketika mengusap peluh di bawah terik matahari. Lalu, saat kita menghisap rokok pada jam-jam istirahat kerja kemudian mendengar seruan BELA NEGARA. Kita pun harus senang hati menampung.

Dan meskipun kita tak sedang bermain sepak bola, kembali melakukan identifikasi diri, kembali menentukan posisi diri dan kembali memastikan orientasi diri menjadi sebuah keharusan. Sebab, dengan hal tersebut, bukan sebuah kesombongan untuk mengatakan bahwa kita dititipi Maiyah untuk dicerdasi dan diterapkan tanpa terikat oleh luasan keindonesiaan.

Dengan kesadaran tersebut dan disangga kuda-kuda cinta segitiga: Allah, Muhammad dan Kita, segala tindakan kita untuk Indonesia adalah sebuah manifestasi dari sebuah kegembiraan dalam berbuat baik, benar dan indah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*