Mocopat Syafaat

Category archive

Redaksi

​​Pengantar Silaturahmi Jamaah Maiyah Yogya: Sinau ‘Alif Ba Ta Kahanan’

in Redaksi by
wpid-wp-1479859726851.png

Berdasarkan uraian Simbah Muhammad Ainun Nadjib dalam tulisan berjudul Ummat Islam Dijadikan Gelandangan di Negerinya Sendiri, ada beberapa poin penting yang bisa kita ambil. Antara lain kondisi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) saat ini dan esok hari. Yakni adanya pihak-pihak yang serakah yang kini berusaha menguasai, bahkan esok hari akan menjajah total NKRI.

Dan untuk menghadapinya, bukan dengan cara gegabah, tanpa perhitungan. Simbah Muhammad Ainun Nadjib menegaskan bahwa perjuangan kita untuk menghadapi hal itu harus dengan jurus jalan panjang. Yakni diantaranya dengan mulai menyusun tradisi budaya kependidikan Ta’limul Islam, Tafhimul Islam, Ta’riful Islam, Tarbiyatul Islam hingga tertradisikan Ta`dibul Islam. 

Berkaitan dengan hal itu, pada acara Silaturahmi Jamaah Maiyah Yogya (24/11) esok, kita memulai dari hal-hal kecil terlebih dahulu. Yakni mulai belajar mengidentifikasi kembali informasi-informasi apapun itu. Baik informasi yang sudah lama kita percayai maupun informasi-informasi yang lalu-lalang di hadapan kita. Jika informasi tersebut ibarat air, maka kita harus paham betul; mana yang kategori air mutlak, air musta’mal, hingga air yang mutanajis. Sehingga ibarat informasi tersebut digunakan untuk ‘bersuci’, informasi tersebut benar-benar informasi yang ‘suci juga mensucikan’.

Dengan demikian, berbekal hal itu, kita juga bisa mulai menata kembali sikap maupun positioning baik secara individu maupun kesatuan Jamaah Maiyah Nusantara. Untuk itu, kami mengajak kembali sedulur-sedulur dalam acara Silaturahmi Jamaah Maiyah Yogya.

Monolog Ramadan

in Redaksi by

Sejak pernah pasa mbedug dan kini ikut pasa nutuk, tentu engkau aku masih melihat monolog selalu diperagakan selama bulan Ramadan. Yakni seorang ustadz atau kiai berceramah, lalu jamaah hanya wajib setor muka dan telinga. Nyaris tak ada dialog, percakapan dua arah. Kalaupun ada, sekadar “Betul tidak bu? Betul tidak pak?” Jamaah pun sontak menimpali: “betul!!!”

Dan itu bisa ditemui hampir di seluruh masjid. Terutama pada acara kuliah shubuh, kuliah tujuh menit (kultum) jelang shalat tarawih atau buka bersama.

Hal demikian sebenarnya patut disayangkan. Sebab sebenarnya momentum itu bisa dijadikan forum dialog, percakapan dua arah, ajang saling berbagi informasi antar jamaah. Kalaupun harus menghadirkan seorang ustadz atau kiai, ia hanya berperan sebagai teman diskusi, kedudukan dan hak bicaranya sama dengan jamaah lain. Tentu itu akan sangat menarik. Bahkan dengan mekanisme itu, obrolan jauh lebih luas dan konkret.

Misalnya jelang adzan Maghrib tiba, salah seorang jamaah curhat soal kambingnya yang sakit-sakitan. Lalu direspon jamaah lainnya dengan sebuah tawaran jamu ternak bikinannya sendiri. Bukankah itu amat mengesankan?

Atau jelang shalat Tarawih, kuliah tujuh menit tidak diisi seorang ustadz atau kiai. Tapi diisi salah satu jamaah, misal seorang petani. Lalu ia menjelaskan bahwa cangkul itu sangat religious. Sebab ada tiga bagian, pertama pacul, bermakna ngipatake kang muncul, selalu menghalau rintangan yang muncul. Kedua bawak, bermakna obahing awak, geraknya tubuh. Ketiga doran, bermakna donga maring pangeran, selalu berdoa kepada Tuhan. Jadi cangkul itu mengajarkan agar kita selalu berproses, bergerak menghalau setiap rintangan dan selalu berdoa kepada Tuhan. Bukankah itu amat syahdu?

Jika demikian adanya, maka slogan bulan penuh berkah bukan pepesan kosong. Dan bila permulaan bulan adalah rahmat, pertengahan adalah ampunan serta paripurna adalah pembebasan dari neraka, itu juga benar kita rasakan. Bahkan kita tak harus sibuk saat tanggal ganjil demi meraih lailatul qadar. Sebaliknya kita merasa setiap malam adalah lailatul qadar. Ah, andai saja bulan Ramadhan demikian.

Berkah Maiyah

in Redaksi by

    Jika engkau dan aku mendengar kata “Simbah”, lantas terbayang seorang tua renta, kulitnya keriput dan rambutnya memutih. Maka ada informasi yang selip saat kita asyik-masyuk merapat dan melingkar di pelataran taman kanak-kanak. Atau barangkali ada pemahaman yang tak jangkep saat kita mengambil jeda untuk sekadar menyeruput kopi atau menyalakan sebatang rokok.

     Bukankah “Simbah” juga “mengandung” buyut, canggah, wareng, udeg-udeg, gantung siwur, gropak senthe, debog bosok, dan galih asem? Bahkan sampai “mengandung” trah-tumerah atau jika ditarik ke belakang ada delapan belas. Itu jika kita meminjam terminologi silsilah keluarga dalam kebudayaan Jawa. Artinya jika kita menyoal kata “Simbah” ternyata tak berhenti pada kata itu sendiri. Tak mentok pada satu sosok belaka. Dan ternyata tak hanya ada persambungan jasad atau nama saja. Melainkan ada sebuah nilai-nilai yang turun-temurun sambung.

Menengok ke Belakang

     “Kita semua perlu ambil nafas panjang dan dalam, berpikir ulang sampai mendasar tentang semua ini, terutama yang sudah, sedang dan akan kita lakukan,” begitu Simbah berpesan. Dan barangkali kita juga perlu berpikir mendasar perihal usia atau umur. Dengan ukuran apa kita menilai bahwa angka 63 adalah tua? Tua yang bagaimana? Dalam rentang apa, perjalanan hidup atau nyawakah?

     Ya, memang jika memakai adat kebiasaan, pada tanggal 27 Mei 2016 nanti, Simbah Muhammad Ainun Nadjib akan menempuh usia 63 tahun. Perihal angka dan pernak-perniknya, silakan engkau dan aku merenungi di bilik kamar masing-masing. Dan jika hal itu identik dengan ulang tahun, apalagi sering ditandai dengan meniup lilin. Lalu, pertanyaannya adalah apakah “Simbah” masuk dalam kategori meniup lilin atau justru sebaliknya; menyalakan lilin?

     Lagi-lagi persoalannya adalah positioning. Jika engkau dan aku mengartikan lilin sebagai lilin dan bukan lainnya. Maka, barangkali memang benar kita terlampau asyik-masyuk menyeruput kopi dan menghisap rokok sehingga tak jangkep pemahamannya. Benar-benar cupet cakrawala pe ngetahuannya-bahasa kasarnya.

   Jika lilin adalah sumber cahaya, apakah selama ini “Simbah” meniupnya dan mati? Sehingga situasi dan kondisinya menjadi gelap gulita. Sehingga kita tak bisa melihat apa-apa. Ataukah justru sebaliknya?

    Dan jika cahaya adalah simbol dari ilmu dan pengetahuan, maka pertanyaannya; apakah selama ini “Simbah” meniupnya dan mati? Sehingga kita menjadi manusia yang tak berilmu dan berpengetahuan? Ataukah justru sebaliknya?

    Bahkan jika lilin itu ibarat sebuah rahmat, apakah selama ini “Simbah” membiarkan begitu saja? Sehingga tak berfungsi menjadi apa-apa. Apakah selama ini “Simbah” abai dengan lilin itu tanpa mengubahnya menjadi berkah?

   Dan bukankah “setiap rahmat Allah mesti diolah, ditemukan nilai tambahnya, sehingga menimbulkan bertambahnya kebaikan (berkah)” adalah “biji” ilmu yang diberikan oleh “Simbah”? Lalu, apa iya itu saja “biji” ilmu yang diberikan oleh “Simbah”? Hmm…bahkan “Simbah” tak sungkan-sungkan memberi kita “buah” ilmu sehingga kita tinggal menikmatinya, iya kan?

      Maka dari itu, nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dan aku bisa dustakan? Dan, berkah Maiyah mana lagi yang engkau dan aku bisa sanggah?(*)

1 2 3
Go to Top