Mocopat Syafaat

Category archive

Redaksi - page 2

Positioning

in Redaksi by

Dalam sebuah permainan sepak bola, seorang kiper mempunyai tugas utama untuk menjaga gawangnya agar tak kebobolan. Begitu juga, seorang bek atau pemain belakang, bertugas membantu pertahanan tim dari serangan lawan. Ia wajib menghentikan pemain lawan yang akan mendekati gawang kemudian membuang bola dari area penalti.

Sedangkan, gelandang atau pemain tengah bertugas menerima bola yang ditujukan ke depan, bertahan atau melakukan tackle terhadap pemain lawan, mencetak atau membantu menciptakan sebuah gol, sehingga mereka sering dianggap sebagai anggota terpenting dalam sebuah tim. Dan seorang striker atau pemain depan, ia memiliki posisi yang paling dekat dengan gawang lawan. Tugas utama seorang penyerang adalah mencetak gol.

Lalu, bagaimana jika seorang kiper lebih sering maju ke depan dan berambisi mencetak gol? Dan tugas utamanya diabaikan. Bagaimana pula jika seorang striker, yang tugas utamanya adalah mencetak gol, justru sering berdiam diri di antara bek tim sendiri?

Memang, dalam sebuah permainan sepak bola setiap pemain berhak mencetak gol dan dituntut untuk menjaga pertahanannya agar tim kesebelasannya menang. Namun, semua itu ada proporsinya, ada tugas utama dan ada pula tugas tambahan. Seorang bek wajib menjaga pertahanan timnya dan alangkah baiknya jika ia mampu mencetak gol. Demikian juga seorang striker sudah semestinya ia mencetak gol dan alangkah baiknya jika ia juga turut menjaga pertahanan timnya dengan menghalau serangan tim lawan.

Andai saja hidup di Indonesia ibarat bermain sepakbola alangkah mudahnya kita. Kita hanya perlu mengidentifikasi diri sebagai kiper, bek, gelandang ataukah penyerang. Jika sudah lalu menyesuaikan posisinya; bek berdiri di barisan belakang dan striker berdiri di depan, siap menceploskan gol ke gawang lawan.

Sayangnya hidup di Indonesia tak semudah bermain sepak bola. Kita harus memiliki hati jembar untuk memaklumi bahwa jaminan kesehatan harus kita bayar sendiri. Bahwa sepulang membayar pajak masih melintasi jalan rusak. Bahwa sudah susah payah bertani masih dirayu untuk membeli beras impor. Bahkan, hati kita harus selalu nyegara, menyamudera untuk menampung ajakan AYO KERJA ketika mengusap peluh di bawah terik matahari. Lalu, saat kita menghisap rokok pada jam-jam istirahat kerja kemudian mendengar seruan BELA NEGARA. Kita pun harus senang hati menampung.

Dan meskipun kita tak sedang bermain sepak bola, kembali melakukan identifikasi diri, kembali menentukan posisi diri dan kembali memastikan orientasi diri menjadi sebuah keharusan. Sebab, dengan hal tersebut, bukan sebuah kesombongan untuk mengatakan bahwa kita dititipi Maiyah untuk dicerdasi dan diterapkan tanpa terikat oleh luasan keindonesiaan.

Dengan kesadaran tersebut dan disangga kuda-kuda cinta segitiga: Allah, Muhammad dan Kita, segala tindakan kita untuk Indonesia adalah sebuah manifestasi dari sebuah kegembiraan dalam berbuat baik, benar dan indah.

Sepatah Mukadimah

in Redaksi by

Akhir tahun 2014 lalu, pegiat Maiyah Nusantara bertemu dan berkumpul di Baturaden, Purwokerto. Perjumpaan itu melahirkan refleksi mendalam. Bahwa ibarat jamaah shalat, barisan (shaf) dari Jamaah Maiyah Nusantara belum rapi dan rapat. Sedangkan, Imam sudah siap mengumandangkan takbiratul ihram. Maka, usaha merapikan dan merapatkan barisan menjadi sebuah keharusan.

Rembug Macapat Syafaat (RMS) sebagai wadah pegiat Macapat Syafaat pun harus berbenah diri. Unit-unit yang bernaung di Rembug Macapat Syafaat (RMS) seperti Nahdlatul Muhammadiyyin, Perpustakaan EAN, Sabanada, Forum Diskusi Martabat, Basori, dan Omah Aksara pun turut menyesuaikan diri untuk merapikan dan merapatkan barisan kembali.

Saluran Baru

Dalam usaha perbaikan internal Rembug Macapat Syafaat (RMS) pun tak ingin tak berjejak. Maka, dalam menjalani laku perbaikan diri Rembug Macapat Syafaat (RMS) ingin menorehkan sebuah tanda. Yakni dengan melahirkan www.macapatsyafaat.com diharapkan mampu menjadi buah konkret dari perbaikan internal.

Kelahiran www.macapatsyafaat.com pun dimaksudkan sebagai wujud pemberdayaan diri. Dalam arti, sudah terlampau lama kita mencecap nilai-nilai Maiyah. Sudah terlampau lama pula kita-meminjam istilah Pak Toto Raharjo, menjadi jamaah setor kuping. Nah, adanya www.macapatsyafaat.com diharapkan mampu menjadi media belajar kita untuk menjadi subyek informasi. Juga media belajar kita untuk menyebarkan nilai-nilai Maiyah kepada khalayak luas.

Selain itu, kelahiran www.macapatsyafaat.com juga dimaksudkan untuk merespon era banjir informasi. Era di mana informasi terserak pating nggedabyah. Era di mana informasi begitu cepat berderap mengepung sendi-sendi kehidupan kita. Hingga, kebenaran maupun kekeliruan suatu informasi tak bisa dibedakan.

Memang, di luar sana sangat mungkin gejala disinformasi gampang ditemui. Dan sangat mungkin pula dampaknya begitu menggelisahkan. Namun, sebagai media komunitas, www.macapatsyafaat.com tak lantas ingin menyebut diri sebagai sumber referensi terpercaya. Pun tak berani lantang mengatakan sebagai amanat hati nurani jamaah. Pun tak berani mengklaim diri sebagai media informasi yang enak dibaca dan perlu. Dengan segala kekurangan, www.macapatsyafaat.com hanya ingin menemani proses Jamaah Macapat Syafaat dalam upaya tumbuh bersama. Keberadaan www.macapatsyafaat.com pun tak lain hanya ingin menjadi ejawantah dari laku asah-asih-asuh.

Nah, lembaran yang kini panjenengan pegang, hanya semacam welcome drink. Yakni suguhan sambutan sebelum panjenengan memasuki pintu-pintu ilmu dalam rumah besar Macapat Syafaat. Juga semacam suguhan sambutan sebelum panjenengan khusyuk menikmati sajian informasi di www.macapatsyafaat.com. Dan juga semacam teman waktu senggang di sela-sela aktivitas panjenengan.

Akhir kata, selamat membaca!

2016: Penghancuran

in Redaksi by

     Meski awal tahun 2016 bertepatan dengan bulan kelahiran manusia cahaya, Nabi Muhammad SAW. Rasa-rasanya tak begitu terang, cenderung gelap-gulita. Hingga tak ada kalimat yang layak kita dengungkan kecuali “allôhumma nawwir ‘uqûlanâ li-nastanîro binûrikal-’azhîmi wasatho hâdzihizh-zhulumâtil-latî ahâthot binâ” Ya Alloh, terangilah akal-akal kami agar kami mendapat cahaya-Mu yang agung di tengah kegelapan-kegelapan yang mengepung kami ini.

           Bahkan, kembang api yang membubung tinggi di langit tak membuat hari-hari kita bertabur cahaya. Mungkin ke depan, hari-hari kita adalah malam, meski matahari belum juga terbenam.

           Jika keadaan amat gelap gulita, tak salah bila Cak Nun berucap: “dan di dalam kegelapan segala yang buruk terjadi/ orang tidak bisa menatap wajah orang lainnya secara jelas/ orang menyangka kepala adalah kaki/ orang menyangka Utara adalah Selatan/ orang bertabrakan satu sama lain/ orang tidak sengaja menjegal satu sama lain/ atau bahkan sengaja saling menjegal satu sama lain/ di dalam kegelapan orang tidak punya pedoman yang jelas untuk melangkah/ akan ke mana melangkah?/ dan bagaimana melangkah?”

           Jika sudah demikian, maka dalam kondisi apapun, meski terbata-bata, mulut dan hati kita harus senantiasa melantunkan “allôhumma ‘allimnâ kalimâtiy-yalîqu bi-maqôminâ wa sulûkinâ an-nad’uwaka bihâ wa nunâjiyak, anta khoyru man ‘allamanâ, anta waliyyunâ wa mawlânâ, innaka antal-’alîmul-khobîr” Ya Allah, ajari kami kalimat-kalimat yang sesuai dengan maqom kami dan tingkah laku kami yang dengannya kami berdoa dan bermunajat kepada-Mu. Kaulah sebaik-baik Dzat yang telah mengajari kami, Kaulah penolong kami dan pelindung kami, sesungguhnya Kaulah Yang Maha Tahu dan Maha Mengerti.

          Bahkan, di dalam kegelapan, tak hanya pedoman yang hilang. Begitu juga dengan ukuran-ukuran, standar-standar, atau nilai-nilai. Semuanya kabur, blawur. Mata tak begitu jelas melihat. Sudut dan jarak pandang terhalang. Suasana pun gaduh oleh suara-suara: “gak pake hp android, gak ngehits”, “yen ora satria FU, ora” dan lain sebagainya. Bahkan tak sadar bergumam sendiri: “penake cah kae, kerja ora kepanasan, bayare gedhe. Lha aku, wis direwangi panas-panas, bayare mung cukup dinggo tuku bensin lan rokok”

           Hingga akhirnya, kita tak sadar menjadi pemalas yang angkuh. Selalu berkhayal bahwa semua hal itu sulit, tanpa pernah berbuat apa-apa. Maka, sebelum terjadi demikian, dengan segala kerendah-hatian, kita harus selalu memanjatkan “allôhumma fasysyil irôdâtinâ wa roghobâtinâ wa âmâlanâ mâ lam tuwâfiq irôdataka wa anta ghoyro rôdhin ‘anhâ, lakal-mulku wa lakal-hamdu tuhyî wa tumît, wa anta ‘alâ kulli syay’in qodîr” Ya Alloh, gagalkan kehendak kami, keinginan kami, dan cita-cita kami, selama tidak sesuai dengan kehendak-Mu dan Kau tidak meridhoinya. Bagi-Mulah kerajaan dan bagi-Mu-lah segala puji, Kau menghidupkan dan mematikan, dan Kau berkuasa atas segala sesuatu.

        Berbekal kalimat sakti itu, semoga kita tak terkurung di alam sawang-sinawang, giat melihat, menilai, menakar, menduga, dan mengimajinasi    keadaan orang lain. Hingga akhirnya, tak sensitif dengan keadaan luar. Tak paham jika berulangkali “papa minta saham”. Tak peduli jika korupsi di negeri kian menjadi-jadi.

        Memang, keadaan di luar sana bukan tugas utama kita. Bukan pula maqam kita untuk merampungkan segalanya. Tapi, setidaknya meskipun lirih, kita perlu urun umak-umik, melafalkan “robbanâ akhrijnâ min hâdzihil-qoryatizh-zhâlimi ahluhâ waj’al lanâ mil-ladunka waliyya, waj’al-lanâ mil-ladunka nashîro” Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri yang zalim penduduknya ini, dan jadikanlah bagi kami pelindung dari sisi-Mu, dan jadikanlah bagi kami penolong dari sisi-Mu.

        Atau minimal sesekali merapalkan “allôhumma innî a’ûdzu bika min zhulmith-thôghûtil-ladzî dhoyya’al-amânah, wa afsadal-îmân, wa aqharol-’adl, wa aqbahal jamâl, wa adhâ’al-jihâda fî tawhîdik, wa qotho’aththorîqo li-mahabbatika wa khidmatik” Ya Alloh, aku berlindung kepada-Mu dari kezaliman berhala-berhala yang telah menyia-nyiakan amanat, merusak iman, mengalahkan keadilan, memperburuk keindahan, mengabaikan jihad dalam mengesakan-Mu, dan memutus jalan untuk mencintai-Mu dan berkhidmat kepada-Mu.

          Dan jika di luar sana, tak juga bisa kita kendalikan. Minimal, di dalam diri, di wilayah tugas utama kita, mampu kita kendalikan dengan senantiasa merunduk khusyuk menyapa Allah SWT dengan sapaan “allôhumma a’in ‘abdakadh-dho’îfa bi-ihlâki mâ yalîqu ihlâkuh, wa bi-inhâdhi mâ rodhîta bi-nahdhotih” Ya Alloh, tolonglah hamba-Mu yang lemah dengan menghancurkan sesuatu yang layak dihancurkan dan membangkitkan sesuatu yang Kau ridhoi kebangkitannya.

Go to Top