Mocopat Syafaat

Category archive

Redaksi - page 3

Sukadi Brambang Procot dan Sedekah Maiyah

in Redaksi by

Brambang Procot, demikian masyarakat Gunungkidul memberi gelar pada bunga yang mekar setahun sekali itu. Awalnya, bunga itu dianggap gulma yang merusak tanaman pangan. Sebab, ketika bunga itu tumbuh subur di ladang atau tegalan menghisap nutrisi makanan yang dibutuhkan tanaman pangan. Dengan kata lain, di balik kesuburan Brambang Procot, ada singkong atau kacang tanah yang terancam kematian.

Adalah Sukadi, 43 tahun, warga Dusun Ngasemayu, Desa Salam, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi buah bibir pada akhir November lalu. Ia tergolong orang yang tidak “anut grubyuk nanging ora ngerti rembug”. Ia juga tak latah bak “rubuh-rubuh gedhang”. Ketika orang-orang di sekitarnya memburu lalu memusnahkan Brambang Procot, Sukadi justru membudidayakannya.

Tepatnya, pada 2004 lalu, ia mengambil beberapa biji Brambang Procot di tegalan lalu menanamnya kembali di halaman rumahnya. Setiap pagi sebelum berangkat menjajakan aneka mainan anak di Pasar Piyungan Bantul, ia menyiraminya. Lalu, saat pulang, ia pun kembali menyiraminya.

Berkat ketekunannya, Brambang Procot pun tumbuh subur dan berkembang. Ia pun mencoba menjajakan bunga itu bersamaan aneka mainan anak di Pasar Piyungan. Tak disangka, bunga-bunga itu diminati orang dan laku keras. Hingga pada puncaknya, akhir bulan November lalu, kebun Brambang Procot nan indah seluas 2300 meter itu rusak akibat diinjak-injak dan dipetik untuk atribut aksi selfie para pengunjung.

Atas insiden tersebut, Sukadi justru bersikap lain. Jika pada umumnya orang akan marah ketika barang milikya dirusak, Sukadi justru meminta maaf. Sebab, panorama kebun bunganya sudah tak seindah beberapa hari sebelumnya. Bahkan, ia mengaku senang akibat insiden tersebut karena hal itu menunjukkan masih banyak orang yang mencintai Brambang Procot yang notabene sempat dianggap gulma oleh warga sekitarnya. Ia pun berjanji akan memperbaiki kebun bunganya agar kelak bisa dikunjungi kembali.

Barangkali saat ini Jamaah Maiyah Nusantara perlu meniru sikap Sukadi. Yakni ketika banyak orang menganggap Brambang Procot sekadar gulma justru mengambil dan mengasuhnya. Membudidayakannya. Sudah menjadi rahasia umum begitu banyak ‘gulma’ di sekitar Jamaah Maiyah Nusantara. Baik yang tumbuh di ladang-ladang sosial, ekonomi, hukum maupun politik. Pertanyaannya, apakah lantas membudidayakannya, dalam arti memperbanyaknya? Tentu bukan. Namun, sebaliknya mencerdasi ‘gulma’ agar tak tumbuh subur hingga merusak ladang-ladang Indonesia.

Lho, bukankah sudah ada ‘tukang kebun’ di ladang-ladang Indonesia Raya, yang kita bayar untuk membersihkan ‘gulma-gulma itu? Mengapa kita juga harus turut membersihkannya?

Hal itu semata karena Jamaah Maiyah Nusantara memiliki cinta, kasih-sayang, kepedulian, kesetiaan (nasihah), dan komitmen kepada Indonesia. Dan mungkin tak berlebihan jika hal itu disebut Sedekah Maiyah kepada Indonesia. Sedekah derajatnya lebih tinggi dibandingkan wajib, karena ia bersedia menjalankan meskipun tidak diwajibkan. Pada puncaknya, Jamaah Maiyah Nusantara akan menikmati betul kebahagiaan memberi melebihi kebahagiaan menerima. Dan merasakan betul kebahagiaan mencintai melebihi kebahagiaan dicintai. Semoga.

Go to Top