Mocopat Syafaat

Category archive

Reportase Mocopat Syafaat

Catatan Pitulasan Februari 2016

in Reportase Mocopat Syafaat by

Bertempat di TKIT Alhamdulillah, Majelis Masyarakat Maiyah Macapat Syafaat bulan Februari 2016 tampak meriah. Usai tadarrus Al Quran yang dipimpin oleh Mas Ramli, perjumpaan malam itu dimeriahkan oleh tiga tim hadroh-peserta sekaligus juara lomba hadroh yang diselenggarakan PP. Rohmatul Umam Bantul, pimpinan Kiai Ahmad Muzammil.

Usai penampilan tersebut, Cak Nun langsung merespon bahwa dalam kehidupan ini setidaknya ada dua hal penting yang perlu diperhatikan. Pertama, ada wilayah atau situasi, di mana kita harus ngegas, berijtihad, kreatif atau lazim disebut bid’ah (pembaruan). Kedua, ada wilayah atau situasi, di mana kita harus ngerem, patuh, atau lazim disebut wilayah mahdoh.

Namun demikian, ungkap Cak Nun seringkali kita justru terbalik-balik. “Ketika kita diperbolehkan kreatif, malah taat dan ketika kita diharuskan patuh, sebaliknya malah ingin kreatif. Misalnya, dalam hal bernegara, sebenarnya hal itu termasuk dalam wilayah kreatif. Kita justru mengikuti atau taat pada fenomena-fenomena yang sudah baku di dunia,” tuturnya.

Usai Cak Nun merespon penampilan hadroh, Kiai Kanjeng memainkan satu nomor lagu. Malam itu, Mas Imam dan Mas Islamiyanto menyapa jamaah dengan lagu “Jangan Bersedih”.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu. Allahummasholli Ala Muhammad. Malam ini kita tetap berada dalam posisi doa dan keyakinan pada hukum-hukum Allah. Engko nek ana udan deres, ora mungkin ora klebus, ora mungkn ora teles. Ning kowe muga-muga ora klebus banget. Udan deres ki ora mung udan banyu, tapi udan deres kui macem-macem. Ngko nek ana peteng-peteng, ora isa delok apa-apa, kowe muga-muga siap memancarkan cahaya dari hati dan wajahmu sendiri. Menjadi senter bagi perjalananmu sendiri,” sapa Cak Nun pada jamaah kemudian Cak Nun meminta Mas Doni untuk bernyanyi.

Malam itu, Cak Nun sepertinya terharu melihat jamaah memenuhi area TKIT Alhamdulillah. “Aku nek ndelok ngene ki ga tega. Anda begitu sunguh-sungguh mencari kebenaran Allah. Terus nanti Anda merasa lega, merasa sedikit terhibur. Lalu, Anda kembali ke rumah, kampus, pasar, Anda diantemi karo kahanan, kamu dihardik, sebagai rakyat kamu disiksa, dibebani terus, sebagai ummat muslim kamu diadu-domba terus menerus, sebagai manusia, kamu dihina terus. Sebagai apapun engkau berdiri dg eksistensi dan fungsimu, engkau mendapat tekanan dan beban-beban yang luarbiasa,” ujarnya.

Menang dan Kalah

Melihat ketulusan jamaah tersebut, Cak Nun kemudian mengajak jamaah berbicara perihal menang dan kalah. “Kalau kita diajak ngomong soal kalah dan menang. Kita ini termasuk kalah atau yang menang? Kalau kita omong kalah atau menang, kita harus mundur selangkah, batasannya, kriterianya, dan parameternya apa? Menang itu melawan diri sendiri atau orang lain?,” tanya Cak Nun pada jamaah.

“Melawan diri sendiri,” seru jamaah menjawab.

“Berarti kriterianya yang kita pakai adalah kriteria Rasululah. Yang beliau katakan setelah pulang dari Perang Badar.beliau mengatakan, Kita baru selesai menunaikan perang yang kecil dan skarang kita memasuki perang besar,” lanjut Cak Nun.

Lalu Cak Nun menyatakan bahwa miskin atau kaya tidak ada urusannya dengan menang atau kalah. Sulit atau mudah tidak ada urusannya dengan menang atau kalah. Misalnya, ada hidupnya yang susah, ada yang bisa cepat nikah, atau ada pula yang belum menikah. Hal itu merupakan irama hidup. Dan Allah yang memegang kendali irama hidup itu. Yang terpenting adalah kita menang atau tidak melawan yang tidak benar dalam diri.

Mengenal Diri

Perjumpaan malam itu tidak seperti biasanya. Mas Harianto melakukan survey kecil-kecilan. Yakni dengan bertanya umur, asal daerah, pekerjaan dan intensitas kehadiran di Macapat Syafaat.

Melihat langsung hasil survey tersebut, Cak Nun tampak antusias. “Kasih saya beberapa kalimat yg bisa dipahami oleh anak umur di bawah 10 tahun, di bawah 20 tahun, di bawah 40 tahun dan di atas 40 tahun,” respon Cak Nun melihat keragaman umur jamaah yang hadir.

Cak Nun melontarkan pertanyaan tersebut karena dalam ilmu komunikasi tidak ada kalimat atau penjelasan yang cocok untuk semua umur. Ada perbedaan kalimat atau penjelasan untuk setiap umur. “Tapi kenapa hal ini bisa terjadi di sini?Anda takjub tidak? Nah, kalau engkau tak takjub dengan hal ini dan tidak ingin mencari apa yang sebenarnya terjadi di balik ini semua, maka kamu tidak akan mendapat apa-apa,” tuturnya.

Cak Nun lalu menegaskan bahwa sudah 40 tahun lebih ia menulis hampir mencapai 70 judul buku, ribuan tulisan dan beberapa karya di luar sastra. Dan tulisan tersebut diperuntukkan kepada masyarakat umum. Maka, muatannya harus komunikatif, harus enak dan cocok dengan sebanyak mungkin orang. Menurut Cak Nun masyarakat umum tersebut hanyalah konsumen. Ibaratnya, Cak Nun memberi buah Mangga yang sudah dikupas dan diiris-iris sehingga masyarakat luas tinggal menikmatinya.

“Akhir-akhir ini, saya berpikir tak akan kasih lagi buah kepada masyarakat Indonesia. Tak akan kasih buah kepada Umat Islam Indonesia maupun dunia. Karena Indonesia maupun dunia tidak pernah menganggap saya pernah ada. Dan saya hanya akan memberi buah kepada Jamaah Maiyah. Jelas sangat berbeda dengan masyarakat di luar sana. Kalau mereka hanya konsumen. Anda adalah pejuang. Nek kowe pejuang, kowe ora tak kei buah. Kowe tak kei pelok,” tegas Cak Nun.

Cak Nun juga menegaskan bahwa survey yang dilakukan tersebut bukan untuk kepentingan dirinya sendiri. Akan tetapi, survey tersebut bertujuan untuk mengenal diri sendiri. Saling mengenal satu sama lain.

“Anda punya watak pejuang berapa persen? Ini ilmu lama, bahwa manusia itu ada empat macam: pencetus atau perintis, lalu pembangun, manager, ketiga pemelihara, pegawai dan yang keempat pendobrak. Pendobrak ini mendominasi, semua disalahkan.  Anda temukan! Anda detailnya di mana. Kalau anda tipe orang setia, anda orang ketiga. Kalau anda perintis anda harus menanggung resiko sebagai seorang perintis. Kalau anda manager, anda harus punya kesucian sebagai seorang manager. Jadi ngalimul ghaib was shahadah, Rahman Rahim, kemudian Malik, Quddus, Salam, Mu’min, Muhaimin. Kalau sudah itu, anda masuk Aziz dan tidak bisa dihantam atau dijatuhkan siapa-siapa. Kemudian Jabbar dan Mutakabbir, yang artinya mengatasi. Ketika kamu mendapat masalah, kamu mampu mengatasinya, kamu lebih besar dari masalah itu. Kamu mengembangkan hatimu, keyakinanmu, fikiranmu untuk mengatasi masalah. Hari ini, kita tidak mungkin mengatasi masalah Indonesia. Virus saja kita tidak bisa. Dan memang tidak ada manusia yang bisa mengatasi masalah, hanya Allah yang bisa. Kamu ingin membangun diri sendiri atau ingin menjadi pejuang?,” lanjut Cak Nun

Terakhir, Cak Nun meminta maaf atas segala salah dan khilaf. Lalu, Cak Nun mengajak jamaah melantunkan syair hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal mawla wanni’man nashir. Dan, doa dari Kiai Muzammil menutup Majelis Masyarakat Maiyah Macapat Syafaat malam itu.(fa)

Tradisi “Ihram” Untuk Menggali Hawa Murni

in Reportase Mocopat Syafaat by
halaman-despan-

Pengajian Padhang mBulan sedang berlangsung keempat kalinya malam ini, dan semakin kukuh dan jernih nuansanya bahwa ia tidak memiliki pamrih apapun kecuali penyembahan yang lugu sekumpulan makhluk hidup kepada Penciptanya.

Kalau Tuhan memperkenankan sesuatu atas ketulusan hati orang-orang yang berkumpul ini, bisa saja forum pengajian ini kelak memiliki makna sejarah. Tapi ia bukanlah gerakan kebudayaan, apalagi gerakan politik. Ia mungkin suatu gerak, tapi bukan gerakan — sebab ‘gerakan’ berarti suatu pretensi pengaitan diri dengan perubahan-perubahan dalam sejarah, yang dengan gampang bisa diassosiasikan dengan pola-pola baku sistem sosial yang berlaku. ‘Gerakan’ cenderung identik dengan suatu enerji sejarah yang memerlukan organisasi, ideologi dan target-target. Keep Reading

Go to Top