Mocopat Syafaat

Category archive

Resensi

Resensi

Suluk Abdul Jalil: Perjalanan Ruhani Syaikh Siti Jenar

in Resensi by

Resensi BukuPenulis             : Agus Sunyoto

Penerbit           : Pustaka Sastra LKis, Yogyakarta.

Tebal               : 330 Halaman.

Tahun Terbit    : Cetakan 3, September 2003

Kode Perp.      : 2X5.221 SUN.s.c1.jil.1

 

 

 

Syeikh Siti Jenar, atau Syeikh Lemah Abang, dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara, nama ini tak pernah lekang oleh zaman dan waktu. Namanya sudah serupa monumen, terutama dalam kalbu masyarakat Jawa, dan khususnya bagi para pemerhati, penganut, pelaku dan pejalan makrifat Jawa. Siti Jenar, nama yang memuat pesona mistis sangat kuat ini, tak pelak telah menjadi legenda. Di dalam batin orang-orang yang mencintai serta memahaminya, Ia adalah seorang Guru. Ia waliyullah agung yang tak kalah ilmu dan kehebatan dibanding walisongo yang lain. Di lain sisi, ia pun banyak dibenci, dihujat, serta menjadi simbol kesesatan dari sebuah ikhtiar perjalanan ruhani manusia untuk menyatu dengan Sang Diri Sejati. Maka secara umum, dewasa ini memang ada dua jalan untuk menuju lautan pemahaman (interpretasi) mengenai Syeikh Siti Jenar. Pertama: memujanya habis, membenarkannya, dan menganut ajaran-ajarannya. Kedua: Membenci dan menolak seutuhnya. Dua jalan ini menyediakan bahannya masing-masing. Berbagai fikiran dan tulisan dapat kita telaah tentang syeikh kontroversial ini. Ada banyak tokoh yang memutuskan bahwa dia benar, tetapi tak sedikit pula tokoh lain yang teguh menyesatkannya.

*

Hingga roda sejarah telah sampai di zaman gersang ini, Tuhan belum pernah turun ke bumi, untuk –sedikit saja– mengkonfirmasi apakah hambaNya Siti Jenar itu  fixed benar, ataukah memang nyata salah dan tersesat. Tuhan masih “diam”. Ia masih membiarkan manusia berdebat dan berbantahan wacana tentang hambaNya yang aneh itu. Syeikh Siti Jenar sendiri pun, belum pernah “loncat dimensi” merasuki raga seseorang, kemudian menyelenggarakan “konferensi pers”, guna mengumumkan apakah ia diridhai Tuhan, atau justru dimurkaiNya. Karena itulah, perlunya jalan ketiga menuju lautan pemahaman mengenai Syeikh Siti Jenar, yakni dengan menjadikan Syekh Siti Jenar sebagai media atau jembatan lewat untuk mengantarkan kita pada cakrawala yang semakin mendalam tentang inti kehidupan; tentang kema’rifatan yang suci kepada Tuhan. Cukup kita berenang, mengarungi lekuk-lekuk lautannya, tanpa memberinya label pasti benar atau mutlak sesat. Kita tidak perlu memuja Syeikh Siti Jenar sebagai berhala, tetapi juga tidak usah menghujatnya layaknya setan. Karena hakikatnya Siti Jenar hanyalah lautan kecil, sekedar setapak  jalan saja, dalam pembelajaran manusia, guna menuju samudera maha luas tak terbatas, Sang Samudera Kebenaran Sejati: Allah.

*

Salah satu referensi yang memberikan perspektif lain tentang Siti Jenar adalah buku karya Agus Sunyoto. Dalam Suluk Abdul Jalil: Perjalanan Ruhani Syaikh Siti Jenar ini, Agus Sunyoto menuliskan kisah hidup Siti Jenar berdasarkan sumber historiografi yang berbeda dari kebanyakan sumber historiografi lainnya yang dijadikan landasan penulisan kisah hidup Syeikh Siti Jenar. Naskah-naskah sejenis babad selalu menyuguhkan gambaran yang kontroversial dan membingungkan mengenai Siti Jenar. Agus Sunyoto menulis berdasarkan naskah-naskah kuno dari Cirebon, seperti Negara Kretabhumi, Pustaka Rajya-Rajya di Nusantara, Purwaka Caruban Nagari, dan Babad Cherbon. Menurut Agus Sunyoto, dalam naskah-naskah tersebut tidak dijumpai paparan absurd yang menggabarkan tokoh Syeikh Siti Jenar sebagai penjelmaan cacing, juga tidak ada cerita yang menggambarkan mayatnya berubah menjadi anjing. Syaikh Siti Jenar yang kelahiran Cirebon digambarkan sangat manusiawi lengkap dengan silsilah keluarga yang berasal dari spesies manusia. Hal yang berbeda dari tulisan-tulisan lain tentang Syeikh Lemah Abang, Agus Sunyoto menulisnya dalam cerita fiksi, sehingga memudahkan kita untuk memahami manakib Siti Jenar ini sejak dia kecil hingga kematiannya. Penulisan kisah Syeikh Siti Jenar ini juga dimaksudkan untuk menghindari pro-kontra yang mengarah ke perdebatan klise yang berlarut-larut. Melalui karya yang bersifat fiksi, kisah Syaikh Siti Jenar ini boleh diterima sebagai keniscayaan bagi mereka yang sepaham, namun boleh juga dicampakkan seperti sampah bagi mereka yang tidak sepaham.

Perjuangan mencari Allah adalah perjuangan Maha Dahsyat yang hanya mungkin dilakukan oleh pejuang-pejuang tangguh yang tak kenal kata menyerah. Allah bukanlah Tuhan statis yang membiarkan diri-Nya gampang ditemukan. Allah senantiasa membentangkan hijab berlapis-lapis dan berbagai halang rintang untuk menyelubungi keberadaan diriNya. Sekalipun para pencariNya mengetahui bahwa Dia adalah inti segala sesuatu dari ciptaanNya, baik yang bisa ditangkap pancaindera maupun yang ghaib…(Suluk Abdul Jalil, Hal: 173)

*

Ke-Maharahasia-an Tuhan inilah yang indah. Buku Suluk Abdul Jalil ini membantu kita menelusuri misteri-misteri keberadaan Tuhan. Syaikh Siti Jenar sebagai teman pencarian kita, tak harus kita pahami dalam jebakan stigma “salah” dan “benar”. Kisah jalan hidupnya akan sedikit-banyak memberi kunci-kunci tentang bagaimana menemukan jalanNya, dan kembali ke hakikatNya. Oleh karena itu, Perpustakaan EAN menyediakan bahan-bahan literer, untuk menemani pencarian anda akan hakikat hidup yang sejati. (Ahmad F Hakim)

Masih Menggelandang

in Resensi by
Gelandangan di Kampung Sendiri_20150409172402

Siapa sangka dengan mengakunya Indonesia sebagai negara demokrasi, lantas rakyatnya mendapatkan hak-haknya secara semestinya  dengan rasa aman dan tanpa ancaman. Rakyat yang harus berperan dalam pemerintahan. Demokrasi yang dipuja-puja sebagai kekuasaan tertinggi itu hanya topeng untuk mendapatkan kekuasaan. Dan setelah beshasil duduk di singgasana jabatan dengan mengatas namakan rakyat, justru rakyat ditinggal begitu saja. Mereka amnesia. Mereka lupa apa itu demokrasi, atau bahakn sesungguhnya tidak mengerti. Mereka merasa bahwa mereka yang memegang kekuasaan. Mereka yang berhak menentukan nasib rakyat, membuat segala peraturan dan rakyat harus mentaatinya.

Rakyat terus menerus menjadi sasaran kekuasaan mereka. Segala kehendak mereka harus diterima dan ditaati oleh rakyat. Kehendak yang pada akhirnya menguntungkan diri sendiri dan merugikan rakyat itu sendiri. Begitulah demokrasi sekarang. Yang memegang demokrasi bukan lagi rakyat. Melainkan hanya milik orang-orang yang ingin menjadikan diri atau kelompoknya berkuasa. Demokrasi hanya milik rakyat-rakat yang haus dan lapar kekuasaan.

“…kepentingan pribadi, kelompok atau golongan, bisa memakai payung ‘atas nama pemerintah’ atau ‘demi pembangunan’ untuk  melakukan ketdakjujuran  yang bertentangan dengan kepentingan pemerintah itu sendiri”

Begitulah salah satu ungkapan Cak Nun dalam buku ini. Kepentingan-kepentingan mereka terletak disetiap sudut. Penuh persaingan, saling berebut, dan saling menjatuhkan demi kursi jabatan. Membuat tipu daya atas nama kebijakan. Hak rakyat diabaikan. Rumah-rumah mereka direbut yang berkuasa, makanan–makanan mereka dirampok. Yang berhasil menjadi pejabat merasa dirinya tinggi, sedangkan rakyat dianggap orang kecil dan rendah. Mereka tak memberi ruang lagi bagi rakyat untuk membuat peraturan, keputusan dan rancangan masa depan. Akhirnya Rakyat tak punya tempat lagi. Menggelandang. Orang-orang yang berkuasa acap kali juga membuat modus-modus tertentu untuk mempercepat tujuan yang mengatasnamakan pembangunan dan lain-lain. Kasus “Pasar legi” yang mengungkapkan bahwa hak untuk berpendapat dan berurun rembuk sudah tidak diakui lagi (hal.33-36).

Cerita tentang dunia  perfilman Indonesia yang dilarang mengangkat realitas masyarakat, negara, dan sejarah Indonesia diungkapkan di judul esainya juga menjadi judul buku ini. Realiatis sosial, penyelewengan hukum, ketidakadilan, penyelewengan kekuasaan dan lain-lain harus disembunyikan dari skenario film (hal. 84).

Rakyat yang sadar maka akan  memilih  mempertahankan dirinya  sebagai manusia biasa, orang biasa, orang kecil.

“Orang kecil letaknya di bawah sehingga tidak bisa dijatuhkan. Orang kecil tak punya apa-apa sehingga aman dari pencurian. Orang kecil tak mempunyai cita-cita apa-apa pun kecuali citra baik di mata Allah sehingga tidak bisa dipojokkan oleh manusia” (hal. 91).

Buku ini akan membawa kita pada realitas nilai-nilai kemanusiaan yang semakin diabaikan di negeri ini. Membaca kehidupan orang-orang yang dirampas dan ditindas kemerdekaannya. Buku berisi kumpulan esai Cak Nun dibeberapa surat kabar ini akan semakin menyadarkan kita bahwa orang-orang kecil harus dibela dan diperjuangkan. Esai-esai yang ditulis pada tahun 90-an dan pernah dibukukan juga dengan judul yang sama pada tahun 1995, masih sangat relevan dengan keadaan negeri kita di era 20-an sekarang ini. Membaca buku ini, akan membuka pikiran dan hati kita untuk hidup sebagai manusia layaknya manusia.

 

q

Cover Buku Gelandangan di Kampung Sendiri
Gelandangan di Kampung Sendiri
Judul Buku : Gelandangan di Kampung Sendiri
Penulis: Emha Ainun Nadjib
Penerbit: Penerbit Bentang
Cetakan : Pertama, Maret 2015
Tebal : viii + 292hlm.; 20,5 cm
Pernah diterbitkan dengan judul yang sama pada tahun 1995

Go to Top