Mocopat Syafaat

Category archive

Sastra

wr

PRAMOEDYA ANANTA TOER, Kiprah dan Beberapa Sanggahan

in Sastra by

Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, 6 Februari 1925. Seorang sastrawan yang Max Lane menyebutnya sebagai Indonesia’s greatest novelist, melalui novel-novelnya yang fenomenal, yakni: Tetralogi Pulau Buru, Arus Balik, Arok Dedes atau melalui karya kumpulan cerita pendeknya, seperti: Cerita dari Blora, Percikan Revolusi dan lain-lain. Pram telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing. Pram juga beberapa kali masuk nominasi hadiah nobel, mendapat penghargaan UNESCO, dan banyak penghargaan internasional lainnya. Baginya, keberanian adalah hal yang pokok dan mendasar dalam hidup, termasuk hal yang menjiwai tulisannya. “Kalau kalian tidak memiliki keberanian, lantas apa harga hidup kalian,”ujarnya dalam pelbagai wawancara.

Sebenarnya, apa yang menjadi pijakan keberaniannya? Jika risikonya dia mengalami penderitaan berkepanjangan. Bahkan, pada suatu wawancara dia menyebut bahwa tidak ada pengarang lain di dunia yang mendapat beban penderitaan melebihi dirinya. Mungkinkah sebuah perjuangam ide tentang “realisme sosialis” seperti pada makalah panjangnya? Meskipun pada akhirnya dengan gagasan itu, dia lantas dihubung-hubungkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pandangan dalam Polemik

Sebagai seorang redaktur koran harian Bintang Timur (Lentera) pimpinan Mr. Djody Gondokoesoemo, Pram disediakan sebuah rubrik khusus tempatnya bertarung gagasan dan ide-ide. Jelas, Pram sangat menentang kaum kontrarevolusioner. Dia menyerang habis-habisan para sastrawan penganut Manifesto Kebudayaan atau yang sering diperolok dengan istilah Manikebu (termasuk penggeraknya, HB Jassin dan Mochtar Lubis).

Kiprah Pram dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pun harus diperhitungkan. Melalui gagasan realisme sosialis yang menjadi dasar pijakan Lekra, dia mengkritisi adanya gagasan humanisme universal yang dinilai mengaburkan semangat revolusi pada waktu itu. Selain juga, konsep seni untuk seni, sastra borjuis, dan lain sebagainya. Menurutnya, Manikebu hanyalah pemecah kesatuan dalam menghadapi kolonialis-imperialis Barat dan membuat jalan lain yang merugikan perjuangan Soekarno dalam memimpin revolusi nasional. Baginya, seniman seperti itu harus dibabat dan tidak diberi ruang sekecil-kecilnya.

Pram memang pernah mengaku sebagai seorang yang dididik dalam keluarga nasionalis ‘kiri’. Maka sejak kecil dia adalah seorang nasionalis ‘kiri’. Meskipun kata ‘kiri’ memiliki berbagai macam pengertian dan tafsir pada setiap era. Namun, kata ‘kiri’ dalam pengertian Orde Baru adalah komunis, komunis adalah PKI, dan PKI adalah organisasi terlarang. Oleh karena itu, karena perannya dalam Lekra yang dihubung-hubungkan sebagai lembaga sastranya PKI, dia pun ikut dipenjara oleh pemerintahan Soeharto.

Akhir tahun 1979, Pram dibebaskan dan dia dinyatakan tidak terbukti terlibat dalam G 30 S PKI. Maka, dia sedikit bisa melakukan pembelaan atas apa yang terjadi pada dirinya. Pada sebuah wawancara yang dilakukan Kees Snoek (1992), dia pernah mengatakan bahwa dia menolak komunisme sebagai sebuah sistem, tetapi secara tidak langsung menerima komunisme sebagai ajaran hidup individu. Artinya, dia tetap menerima segala sistem (isme), namun tetap diambil yang baik untuk pengembangan dirinya, karena bagaimana pun segala sistem (isme) yang bersumber dari individu manusia akan selalu bias dalam penerapannya.

Pembelaan mengenai keterlibatan dirinya dengan Lekra pun ada. Misalnya dalam Suara Independen, dia mengaku bahwa dia adalah seorang yang solo fight. Sebagai anggota Lekra, dia memposisikan diri sebagai orang yang diminta bukan mendaftarkan diri. Termasuk pada Kongres Lekra di Solo tahun 1959, dia diundang dan diangkat sebagai anggota pleno.“Tidak pernah merangkak dari bawah tahu-tahu terus nangkring,”ujarnya. Maka, dia mengaku sebagai seorang yang dicomot saja dari jalanan (Suara Independen redaksi, 1995).

Selain membantah bahwa dia mempunyai mandat dari Lekra, dia juga membantah dengan keras bahwa dirinya adalah anggota PKI. Hal tersebut sesuai dengan ceramah dua hari Pram di depan mahasiswa dan pers Amerika serta pemerhati sastra dan politik di kampus George Washington University (GWU).

Senada dengan beberapa sanggahan tersebut, pada acara Kenduri Cinta bulan Juli 2015 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Taufik Ismail pernah bercerita tentang acara “Diskusi Marxisme-Leninisme dalam Perspektif Budayadi Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang diadakan pada tanggal 9 Juni 2000. Diskusi tersebut diselenggarakan secara terbuka dan untuk pertamakalinya setelah 40 tahun perseteruan Lekra dan Manikebu. Dia menceritakan pengalamannya berdebat dengan Pramoedya. Kembali dia mempelajari Marxisme-Leninisme dengan saksama, agar tidak kalah dengan Pramoedya. Pramoedya berpidato lebih dahulu. Namun, tidak disangka pengetahuan Pram tentang komunisme begitu dangkal. Taufik Ismail mengatakan bahwa Pram hanya dibesar-besarkan Lekra sebagai pengarang komunis yang hebat. “Lalu apa ideologinya?” Taufik Ismail bertanya. Ideologi Pramoedya adalah Pramis!

Setelah itu, Emha Ainun Nadjib merespon cerita Taufik Ismail dengan mengatakan bahwa Pramoedya adalah seorang humanis sosialistik, tetapi bukan sosialis. Sosialis itu berbeda dengan sosialistik. Sosialis itu ideologi, kalau sosialistik itu kata sifat. Jadi, menurut Emha, Pramoedya adalah seorang yang humanis dan merupakan sosok yang berkarakter sosial, bukan sosialis (pengikut ajaran Sosialisme).

Perihal Manusia

Pramoedya dalam pelbagai wawancaranya seringkali berkata bahwa dia adalah seorang yang tidak memihak ideologi apapun karena percaya akan dirinya sendiri, baginya asalkan berpihak kepada yang benar, adil, dan berkemanusiaan dia akan bela dan sokong. Terlihat, perihal manusia seringkali disinggung oleh Pram. Sastra dalam pandangan Pram bukanlah sesuatu yang terpisah dengan politik dan harus menanggung tugas kemanusiaan. Maka banyak, pengamat yang berpendapat bahwa arah perjuangan Pram sebagai sastra ideologis.

Selain perihal sastra hiburan yang hanya membuat pembacanya berhenti di tempat. Didalam pidato tertulis tersebut yang ditentang dan ditolak Pram adalah sastra sebagai alat pengagungan suatu golongan. Pram mencontohkan seperti pada masa kerajaan Jawa yang hanya mengagungkan kasta ksatria. Bagi Pram, tugas seorang pengarang adalah melakukan evaluasi dan re-evalusi kemapanan di semua bidang kehidupan, bukan sebagai alat hegemoni kekuasaan yang manipulatif.

Rakyat kecil, buruh, petani, sering dia dengung-dengungkan. Namun, Pram menolak sebagai seorang yang menganut sebuah isme. jikapun dia mempelajari suatu isme bukan berarti dia menganutnya, tetapi dia ambil kebaikan yang ada untuk dikembangkan dalam dirinya. Mungkin benar pernyataan HB Jassin yang pernah menuliskan dalam pengantar buku “Cerita dari Blora”. “Pram tidak memberatkan simpatinya kepada suatu isme kecuali humanitas” (Toer, 2002: ix). Mengingat, setiap individulah yang mesti dibangun dan dikembangkan. Apabila individu-individu itu mempunyai akal, pikiran, dan hati yang benar, maka otomatis dia akan memproduksi sistem yang benar pula. Maka, melalui karya sastralah Pram berusaha membangun dan mengembangkan setiap individu yang membaca karyanya. (YKHC)

 

 

JAMAN EDAN

in Sastra by

                                                                                                                        –dari Serat Kalatidha karya R. Ranggawarsita

 

Hamenangi jaman edan

Ewuh aya ing pambudi

Melu ngedan nora tahan

 

Menghadapi jaman gila

Serba salah untuk bersikap

Ikut gila tak sampai hati

 

Saya juga tidak tahu sampai berapa lama Ranggawarsita mendiamkan tiga baris pertama bait ini hingga mencapai baris berikutnya. Pada bagian berikutnya ia menggambarkan kegalauan hati dan kesulitan pilihan antara mengikuti jaman atau menghindarinya. Dengan sangat baik Raden Ranggawarsita menggambarkan sisi manusiawinya. Ada kekhawatiran, atau mungkin juga ketakutan dari konsekuensi pilihan yang akan diambilnya.

 

Yen tan milu hanglakoni

Boya keduman melik

Kaliren wekasanipun

 

Namun bila tidak begitu

Tak kebagian rejeki

Kelaparanlah akhirnya

 

Sampai akhirnya Ranggawarsita menentukan sikap hidupnya di akhir bait. Pilihan yang bijak dan berani telah diambilnya. Pujangga keraton ini memilih untuk menghindar dan tidak ikut ngedan meskipun ia sendiri tahu konsekuensi dari permenungan yang dilakukannya.

 

Ndilalah karsa Allah

Begja-begjane kang lali

Luwih beja kang eling lan waspada

 

(tetapi) atas kehendak Tuhan

Betapapun beruntungnya yang lupa

Lebih beruntung yang ingat dan waspada

Berbeda dengan kedua bait sebelumnya, tiga baris terakhir bait tembang ini menggunakan kalimat kiasan. Seperti halnya ciri bahasa tulisan para pujangga keraton kala itu, Ranggawarsita memilih bahasa sanepa, bahasa yang tidak lugas dan memerlukan tafsir. Namun, justru bahasa kiasan itulah yang menunjukan keunggulan sastranya. Dengan bahasa yang tidak lugas, pujangga ini mewariskan karya sastra yang luar biasa, baik dari keindahan bahasanya maupun dari kedalaman maknanya.

Kata lali atau “lupa” yang dipakai oleh Ranggawarsita jelas merujuk pada keadaan jaman yang edan (gila) dan pada pilihan sebagian besar masyarakat yang ikut ngedan. Sedangkan bagi Ranggawarsita sendiri, seberuntung-beruntungnya orang yang lupa atau ngedan itu, masih lebih beruntung orang yang eling lan waspada (ingat dan waspada). Baris terakhir inilah yang merupakan kunci pilihan sikap hidupnya. Ia tidak hanya menolak untuk mengikuti arus mainstream sebagian besar orang yang lali (lupa), yang mengikuti ke-edan-an jaman, tetapi juga memberikan rujukan laku spiritual untuk selalu ingat (tidak terlena) dan waspada (berhati-hati).

Padahal, di bagian bait sebelumnya pujangga ini menyadari sepenuhnya konsekuensi dari sikap hidup yang melenceng dari arus mainstream itu, bahwa tentu ia akan terjebak pada kesulitan hidup. Jadi apakah sebenarnya yang kemudian meneguhkan keyakinannya akan sikap hidup yang demikian itu? Ternyata Ranggawarsita lebih peduli pada karsa Allah (kehendaknya Tuhan), sebuah konsep nrima orang Jawa yang telah mengakar dan mendarah daging dalam filosofi Jawa, atau dalam konsep Islam kita mengenalnya sebagai tawakkal. Pujangga ini lebih yakin pada kebesaran hati dan kemuliaan daripada menuruti kekhawatirannya akan konsekuensi jaman yang edan tersebut.

Ketika Raden Ranggawarsita mengarang Serat Kalatidha, entah kala itu keadaan jaman memang dinilainya sudah edan atau baru prediksi (proyeksi sikap) dari dirinya sendiri akan datangnya jaman edan, kelak dikemudian hari, tidak ada yang tahu. Yang jelas, kala itu pujangga keraton Surakarta ini telah mengkhawatirkan, memikirkan, merenungkan, hingga mengambil sikap yang bijak dan berani, tentu merupakan suatu kejelian yang mengagumkan dari mata batin seorang satria pandita yang waskita.

Tembang Sinom Ranggawarsita tersebut akan selalu relevan di setiap jaman. Serat Kalatidha lahir dari sebuah permenungan tentang suatu masa. Memang ada kekhawatiran dalam menghadapi jaman yang semakin tidak manusiawi, semakin meniadakan keadilan, semakin mengaburkan kesejatian, tetapi serat ini hadir untuk setidaknya melawan sikap hidup yang demikian. Karya Ranggawarsita tersebut merupakan sebuah sikap liyan, sebuah pemikiran yang berbeda, dan sekaligus berani untuk menentang jaman.

Saya tidak tahu untuk jaman yang sekarang ini termasuk jaman edan atau bukan. Saya juga tidak tahu apakah masih ada orang yang ingin atau mau mengkhayati Serat Kalatidha karangan Raden Ranggawarsita ini. Jikapun ada, saya juga tidak tahu apakah ada yang akan mengikuti pilihan sikap Ranggawarsita seperti yang ditunjukan pada tiga baris terakhir tembangnya? Serat Kalatidha lahir bukan sekedar untuk mengutuk jaman. Ia lahir dengan kehalusan budi, untuk tidak menghilangkan sisi kemanusiaan dari setiap manusia, untuk tidak menyerah kepada jaman yang edan. Karya ini adalah sebuah kearifan di dalam menghadapi kekacauan jaman, sebuah ikhtiar untuk tidak tenggelam dalam keputusasaan. Serat Kalatidha merupakan ijtihad dari seorang pujangga besar bernama Raden Ranggawarsita. [AR]

 

 

Jelang Ihtifal Maiyah

in Sastra by

          Bulan Mei 2016 merupakan bulan spesial bagi Jamaah Maiyah Nusantara. Bukan hanya karena sebulan lagi memasuki bulan Ramadhan, akan tetapi ada momentum yang paling ditunggu-tunggu Jamaah Maiyah Nusantara. Ihtifal Maiyah, demikian acara yang ditunggu-tunggu Jamaah Maiyah Nusantara. Pun demikian bagi Jamaah Maiyah Yogya, meski Ihtifal Maiyah digelar nun jauh di sana, Jombang Jawa Timur. Akan tetapi, hal itu tak menyurutkan keinginan Jamaah Maiyah Yogya untuk turut hadir.

          Hal itu terlihat dari antusiasme Jamaah Maiyah Yogya pada acara Silaturahmi Jamaah Maiyah Yogya edisi bulan April lalu, yang digelar oleh Rembug Mocopat Syafaat di Rumah Maiyah Kadipiro, Yogyakarta. Dalam pertemuan itu, sebagian Jamaah Maiyah Yogya berinisiatif untuk mengadakan rombongan untuk menghadiri Ihtifal Maiyah. Komunikasi dan rembug perihal sarana transportasi pun dilakukan melalui Whatsapp. Hingga kemudian, pada Rabu (11/5), sebagian Jamaah Maiyah Yogya ‘kopi darat’ di Rumah Maiyah untuk memastikan teknis pemberangkatan.

          Tino, Jamaah Maiyah Yogya yang sehari-harinya berjualan siomay mengaku ingin sekali menghadiri Ihtifal Maiyah. “Kalau acara besok ini, saya ingin sekali hadir. Sebab, pada acara sebelumnya (Banawa Sekar) tak bisa hadir. Ini momen yang jarang sekali,” tuturnya.

          Menurutnya selama ini Cak Nun telah banyak mengajarkan ilmu kehidupan. “Dulu, saya sering berpura-pura, tak percaya dengan diri sendiri. Saat itu, saya sering sakit-sakitan. Dan saya ingat dengan pesan Cak Nun bahwa kunci kesehatan adalah berpikir jujur dan benar,” ujarnya.

          Senada dengan itu, Ismail, Jamaah Maiyah Yogya mengaku ingin sekali menghadiri Ihtifal Maiyah. “Bagi saya, Cak Nun itu penyelamat. Waktu itu saya pernah mengalami masalah yang cukup ekstrim. Jujur, waktu itu saya sedikit putus asa. Namun, saat hadir di Mocopat Syafaat, saya terharu saat Cak Nun mengajak doa bersama. Saat itu, saya sebutkan permintaan saya kepada Allah,” tuturnya. Dalam proses berdoa itu, menurutnya, bukan pada terkabulnya doa yang membuat dirinya takjub. Akan tetapi, tersadar kembali bahwa setiap masalah pasti ada solusi dan tempat mengadu masalah itu hanyalah kepada Allah.

          Tak hanya itu, Ismail pun turut bangga kepada anaknya yang sering ia ajak ke Mocopat Syafaat. “Waktu itu, anak saya ditanya Cak Nun: pilih mana Ayahmu gila atau rumahmu roboh? Lalu, anak saya menjawab: pilih rumah roboh. Dan ketika di rumah saya tanya; Mas, kenapa tadi malam jawab begitu saat ditanya Cak Nun? Kata anak saya: daripada bapak gila, ya masih mending rumah roboh, pak! Rumah kan masih bisa dibangun lagi,” tuturnya.

          Demikian sekelumit kesan sebagian Jamaah Maiyah Yogya terhadap Cak Nun. Bagi mereka, meski jarak Yogya-Jombang cukup jauh, tak sedikitpun terbersit pahala yang akan didapatkan. “Rasa kangen saya pada Maiyah, pada Cak Nun jauh lebih besar ketimbang iming-iming pahala ibadah,” celetuk Jamaah Maiyah Yogya.(fa)

1 2 3
Go to Top