Mocopat Syafaat

Category archive

Sastra - page 2

wr

Tarik-menarik Antara Realitas dan Kehendak yang Dipilih

in Sastra by

Kecenderungan kita adalah saat berjalan kaki yang dilihat malah yang sedang naik motor bagus. Saat jomblo yang dilihat adalah pasangan romantis yang berjalan berduaan. Sedang tidak punya duit yang dilihat orang-orang asyik belanja di mall. Dan ketika ngontrak rumah yang dilihat perumahan elit. Alhasil ketika jalan kaki dan melihat konvoi motor keren, kitanya jadi sirik. Parahnya yang lagi sendiri, liat truk gandeng aja bikin hatinya nangis, batinnya merintih, “truk aja gandengan, lha aku masih aja jomblo. Hiks.” Hujan deras, rumah atap bocor, ee… sempet-sempetnya lho, wong lagi sibuk menata barisan ember untuk menampung air trocoh, kok ngebayangin enaknya tinggal di rumah yang magrong-magrong. Bahkan makan tahu-tempe saja mendadak jadi kerasa hambar, karena batinnya, “wah enak nih kalau makan ayam, makan daging”.

Embuhlah, atau kita ini memang masokis bertalenta. Pandai membikin diri menderita. Hobi menganiaya diri. Udah jatuh, pas di atas tlethong, tertimpa tangga, ee… mau bangun kepleset nyemplung kolam buthek plus diliatin orang-orang gak ada yang nolongin, yang ada malah pada ngetawain. Atau memang diri kita ini terlalu lemah, sehingga mudah terjebak arus realitas. Mudah hanyut pada peristiwa yang sedang menimpa. Mudah terbawa suasana, baper-lah kalau memakai bahasa kekinian. Keadaan yang sempit mampu membikin kita sesak napas. Kondisi sendirian membuat kita kesepian. Tidak punya duit mampu membuat kita nelangsa. Tidak punya pasangan mampu membikin diri merasa hidup sebatang kara. (Kita? Elo aja kaleee… __ iya ding, itu bukan kita, saya aja ding, saya lagi curhat…heuheu)

Memilih Kehendak

Seseorang bisa mengalami suatu peristiwa, tetapi jumlah pilihan respon atas peristiwa yang dialami bisa sangat tak terbatas. Seseorang bisa saja di penjara. Tetapi respon dia atas penjara bisa sangat bebas. Sebagaimana Mbah Pramoedya yang justru merampungkan tulisannya yang ampuh di dalam penjara. Secara peristiwanya adalah di penjara. Tetapi memilih kehendak atas peristiwa di penjara bisa sangat bebas. Semisal, katakan saat di penjara itulah Beliau mendapatkan kesempatan untuk menerima proyek peradaban berupa penulisan yang merupakan bagian dari tugas mulia kehidupan yang Beliau emban. Atau seorang ulama yang ketika di penjara, memilih kehendak atas penjara sebagai waktu dan tempat untuk beristirahat. Sementara ada lagi yang dibuang di daerah terasing, memilih kehendak atas peristiwa dibuang sebagai piknik. Atau Penjenengan Sedaya bisa menonton film yang dirilis tahun 1997 yang berjudul “Life is Beautiful”, yang menganggap perang sebagai sebuah game, sebuah permainan yang menyenangkan demi mengemong anak dalam kondisi yang sebenarnya bahaya.

Seseorang bisa saja gajinya besar. Seolah bisa berbuat apa saja. Tetapi pagi berangkat, malam hari baru bisa pulang ke rumah. Saat hari libur, pergi piknik. Hampir hari-hari dilewati seperti itu. Tanpa disadari terjebak rutinitas. Apa itu kalau bukan terpenjara. Seolah saja bebas, tetapi hekakatnya terkurung rutinitas. Tetapi lagi-lagi, respon atas hal seperti itu, bebas-bebas saja. Katakan dia sedang menjalani rutinitasnya sebagai bagian melayani orang lain, baik di lingkungan kerjanya maupun di rumah bersama keluarganya. Katakan dia sedang mengantri mati, sambil ngantri ya jadi karyawan, jadi pegawai. Atau apapun, terserah sepenuhnya di dalam memilih kehendak atas realitas yang dialami.

Seseorang seniman. Sangat bebas, terbebas dari rutinitas. Bisa bekerja semaunya, kapan saja. Tetapi siapa menyangka, berapa kesepian yang harus dia lahap. Betapa perihnya sunyi yang harus dia selami, memahami apa yang tidak orang lain kebanyakan paham. Tetapi itupun juga bebas-bebas saja memilih responnya atas peristiwa jadi seniman.

Kebanyakan memang hanyut dalam peristiwa. Sebagian besar terjebak dengan realitas yang menimpanya. Beberapa sanggup mengolah dan memilih kehendak bebasnya untuk memilih mengalami apa terhadap peristiwa yang datang dihadapannya. Peristiwanya memang tidak sepenuhnya dalam kendali diri kita, tetapi pilihan respon atas peristiwa yang menimpa, itu bisa tak terbatas. Seseorang bebas memilih, apa yang berlangsung dalam pikiran dan hatinya, tidak peduli bagaimanapun keadaan yang sedang dialaminya. Meskipun tidak dipungkiri cokotan, daya cengkeram realitas sangat berpeluang mempengaruhi apa yang berlangsung dalam pikiran dan hati kita.

Anugerah Berpengalaman

Betapa bahagianya hidup di dunia ini kalau sudut pandang yang dipakai adalah sudut pandang innalillahi wainna ilaihi rojiun. Sudut pandang nyawa yang menempuh perjalanan dari dan ke Allah. Sudut pandang dengan rentang yang panjang, rentang yang tak sekedar mung mampir ngombe. Betapa diijinkan berpengalaman di bumi ini adalah anugerah yang WAH. Diperkenankan bertemu dengan peristiwa demi peristiwa. Diberi peluang untuk tumbuh dan belajar. Diijinkan saling bertemu satu sama lain, bukan untuk saling membanding-bandingkan satu sama lain, melainkan saling belajar dan bercermin satu sama lain.

Sesuatu yang hadir, sesuatu yang menimpa, sesuatu yang kita alami. Tak lain adalah untuk menjadi katalis bagi kita. Agar tumbuh diri kita, baik tumbuhnya pemahaman maupun tumbuhnya spiritual kita. Sesuatu itu bisa yang dianggap menyenangkan maupun yang dianggap menyedihkan. Baik yang manis maupun yang pahit, sama-sama kita butuhkan. Yang enak maupun yang serba tidak nyaman, semua kita perlukan untuk tumbuh. Sebagaimana kita semua membutuhkan adanya siang dan malam. Pokoknya semua yang datang mampir dalam perjalanan hidup kita. Berguna untuk membantu pertumbuhan kita.

Yang perlu digarisbawahi adalah bahwa jalan menuju Tuhan itu ibarat perjalanan air menuju ke samudera. Seperti kita tahu air berjalan dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah. Dengan kata lain jalan menuju Tuhan itu harus nyaman dan sreg. Nyaman di sini bukan soal realitas yang mesti dihadapinya lantas ringan, tanpa tantangan, tanpa halangan sama sekali, bukan begitu. Nyaman di sini adalah soal rasa yang mantap, hati yang mongkok, muthmainnah. Lihat saja para sahabat di awal Islam, bagaimana perjuangannya yang mati-matian. Ujian harta, keluarga bahkan nyawa. Tetapi mereka sreg, hatinya nyaman. Karena yang ditempuh adalah jalan menuju kedekatan dengan Tuhan, sebagaimana perjalanan air menuju ke samudera, yang ringan saja, mengalir, asal ada tempat lebih rendah, ngalir saja. Gitu thok!

Cerpen – Tuhan Pun Nyempil di Pojok Kota

in Sastra by
halaman depan

Kawasan Malioboro bersinar sangat terik. Hal ini tampaknya dijadikan alasan bagi Kang Marto untuk rehat sejenak dari kegiatan mencari nafkah. Sambil menambatkan becaknya, Kang Marto merogoh kantong celananya, menghitung pendapatannya setengah hari ini. “Narik becak sekarang ini semakin seret”, gumamnya. Setengah ngos-ngosan, gobyos keringet, meskipun baru setengah hari narik becak, Kang Marto memutuskan ngloyor ke angkringan Kang Dar.

Kang Dar heran melihat sahabat karibnya yang baru setengah hari sudah loyo, nggak ada greget, nglokro seperti kumbahan teles.

“Lho Kang Marto, belum ada setengah hari kok udah mampir aja di angkringan saya. Pelanggan banyak ya Kang, pasti kantong udah penuh jam segini..” Keep Reading

Go to Top