Mocopat Syafaat

Category archive

Sastra - page 3

wr

Membaca kembali “Jawa”

in Sastra by
Babad Tanah Jawa Jilid 1 & 2
Babad Tanah Jawa Jilid 1 & 2

Kapan terakhir Anda membaca teks ataupun buku berbahasa Jawa ? Jangan-jangan sewaktu belajar di SD atau SMP. Jangan khawatir Anda tidak sendirian, karena secara umum, sekarang ini memang tidak mudah untuk mendapatkan teks atau buku berbahasa Jawa. Namun alangkah baiknya kalau kita menyempatkan diri, untuk mau mencari dan membaca kembali “Jawa”.

Hal itu bisa dimulai dengan membaca buku Babad Tanah Jawa, sebuah karya sastra sejarah berbahasa Jawa dari sudut pandang orang Jawa sendiri. Kata babad sendiri berasal dari bahasa Jawa yang artinya “membuka lahan baru” atau “memotong pohon/ hutan”, hal ini berarti babad tanah Jawa, mengisahkan bagaimana para Raja ataupun para calon Raja memulai kekuasaannya di tanah Jawa.

Versi Babad Tanah Jawa yang menjadi koleksi Perpustakaan EAN ini, diceritakan oleh Keep Reading

Silaturahmi Jamaah Maiyah Yogya

in Sastra by

Pada Ahad, 7 Februari 2016, Rembug Macapat Syafaat (RMS) menggelar Silaturahmi Jamaah Maiyah Yogya di Rumah Maiyah Jl. Wates Km 2,5 Gg. Barokah 287 Kadipiro, Bantul, Yogyakarta. Acara tersebut merupakan ajang bertemu dan berkumpulnya Jamaah Maiyah Yogya. Memang, Jamaah Maiyah Yogya sudah saling bertemu dan berkumpul di Majelis Masyarakat Macapat Syafaat yang rutin digelar setiap tanggal 17 di TKIT Alhamdulillah Tamantirto, Kasihan, Bantul.

“Sekedar informasi saja bahwa akhir-akhir ini muncul simpul Maiyah di berbagai daerah. Saat ini tercatat ada 22 simpul Maiyah. Di berbagai daerah tersebut, Jamaah Maiyah sudah saling bertemu dan berkumpul. Sementara itu, Jamaah Maiyah Yogyakarta hanya bertemu pada acara Macapat Syafaat saja. Dan setelah acara selesai, jamaah pun pulang ke rumah masing-masing. Untuk itu, acara ini digelar agar jamaah bisa saling sambung rasa, bisa saling mengenal dan bersilaturahmi satu sama lain,” tutur Maulinni’am membuka acara.

Urgensi Berjamaah

Malam itu, Mas Harianto, Ketua Isim Maiyah Nusantara, juga turut hadir membersamai Jamaah Macapat Syafaat. “Silaturahmi Jamaah Macapat Syafaat menurut saya adalah salah satu kegiatan yang diadakan oleh Rembug Macapat Syafaat (RMS). Bukan sebuah organisasi baru. Sebaliknya, kegiatan ini menurut saya justru bisa menjadi forum pemadatan atau pendalaman dari Macapat Syafaat yang rutin digelar di Kasihan,” ujarnya.

Lebih lanjut ia juga melempar sebuah tema untuk didiskusikan bersama. “Menurut saya pada pertemuan awal ini, sebaiknya kita memahami apa hakikatnya jamaah? Kenapa ada sholat berjamaah dan munfarid? Apakah ketika kita berkumpul dan masing-masing sholat apakah sudah bisa disebut sholat berjamah? Ternyata belum bisa dikatakan berjamaah. Sebab, kalau kita pahami ciri utama sholat berjamaah itu ketika ada imamnya. Meskipun hanya terdiri dari dua orang saja,” tutur Mas Harianto mengawali diskusi malam itu.

Merespon tema tersebut, Mas Dhani mencoba melihatnya dari perspektif lain. “Pertama kali saya mengikuti Maiyah, Cak Nun pernah bilang: Maiyah itu bukan karya saya. Bahkan orang yang tidak kenal kata Maiyah, tidak pernah berkumpul seperti ini atau tidak kenal beliau, tapi perilakunya Maiyah, maka ia sudah bermaiyah. Maka,Maiyah adalah produknya Allah,” tuturnya.

Oleh karena Maiyah itu ciptaan Allah, ia menambahkan. Maka kita harus berakhlak seperti akhlaknya Allah SWT. Sebab, jika dirunut dari akar katanya, kata akhlak sangat berkaitan kata Kholik dan Mahluk. Memang belum pasti garisnya apa yang disebut berakhlak sebagaimana sang Kholik. Tapi menurut saya ciri yang pertama adalah Haqqun (benar). Sebab Allah bikin jagad ini dengan cara haqqun (benar). Kedua, la’ibun (main-main). Artinya, dalam berakhlak kita semestinya tidak bermain-main. Sebab, Allah SWT dalam menciptakan alam semesta ini tidak dengan main-main. Ketiga, bathil (tanpa hikmah). Maksudnya, dalam menjalani kehidupan ini semestinya kita mencari hikmah di balik kejadian sehari-hari. Sebab, Allah SWT menciptakan langit dan bumi dan apa yang diantara keduanya tanpa hikmah.

Silaturahmi Jamaah Macapat Syafaat malam itu dihadiri oleh 67 (enam puluh tujuh) orang dengan berbagai latar belakang pekerjaan dan daerah yang berbeda-beda. Malam itu, Jamaah Macapat Syafaat bersepakat untuk mengadakan kembali Silaturahmi Jamaah Macapat Syafaat setiap sebulan sekali untuk mendalami tema-tema yang dibahas dalam Majelis Masyarakat Maiyah Macapat Syafaat. Adapun undangan acara tersebut akan disebarkan melalui akun Facebook Mocopat Syafaat. (fa)

 

 

Evaluasi dan Evasempiti

in Sastra by

Evaluasi adalah kalau kebetulan ada sesuatu menimpa diri kita, baik atau buruk, suka atau tidak suka, pertama kali yang harus dikroscek ya diri sendiri. Ada apa kiranya dan mengapa kok sampai bertemu dengan peristiwa yang menimpa tersebut. Kalau kebetulan terpeleset oleh kulit pisang di tengah jalan, pertama bukan menyalahkan, “siapa sih orang tolol yang buang kulit pisang sembarangan” melainkan “kenapa ya, aku kok sampai terpeleset?” Kalau sudah begitu, akan asyik kita memasuki kedalaman diri, menelisik dan mempelajari, apa saja yang sudah kuperbuat tadi kok sampai terpeleset seperti ini. Tadi aku mungkin kurang awas, ngelamun, tidak fokus, atau tadi sempat ngerjain orang, sekarang kena balasannya. Atau apalah.

Pun sebenarnya segala peristiwa yang datang ke kita itu, jan-jane semuanya netral. Kalau angka matematikanya ya nol (0). Seterusnya diri kitalah yang memiliki kewenangan penuh untuk memberinya nilai positif (+1) atau nilai negatif (-1). Dan itu semerdeka-merdeka diri kita dalam menilainya. Dan itu berlaku pada semua peristiwa yang datang ke kita.

Pada kasus terpeleset tadi, rata-rata orang, biasanya, jadi ya tidak semuanya, menganggap terpeleset adalah hal buruk. Padahal ya belum tentu. Padahal ya tergantung kita. Bisa jadi baik ketika kita sanggup meneruskannya pada hubungan yang plus satu atau jadi buruk ketika mengaitkannya dengan yang minus satu. Itu soal pemaknaan. Tetapi tetap, realitasnya diri kita terpeleset. Kasunyatannya kita terjatuh oleh kulit pisang.

Kembali soal evaluasi. Ketika bertemu peristiwa, jangan sampai berlalu begitu saja tanpa menarik garis peristiwanya ke diri, jangan sampai peristiwa lewat tanpa men-stabilo amanat pesannya ke dalam diri. Lebih lanjut bisa digunakan titik-titik pemaknaan sebagai contoh seperti ini. Dalam kasus terpeleset kulit pisang tadi dapat ditarik letak titik musibahnya di mana, titik peringatannya di mana, titik nikmatnya di mana, bahkan titik adzabnya di mana dst. Titik itu bisa sangat beragam, tergantung seberapa rajin diri kita mau menggalinya. Sehingga baru kasus terpeleset saja, dapat kita temukan banyak makna, banyak input, bagi diri kita.

Titik musibahnya adalah sesuatu yang tidak mengenakkan sedang menimpa diri kita. Titik peringatannya bisa jadi karena terburu-buru maka terpeleset, besok-besok lebih hati-hati. Titik nikmatnya karena dengan terpeleset diri jadi tersadar, untung masih hidup, sebab ada orang yang terpeleset, mati. Titik adzabnya bisa karena pada waktu sebelum-sebelumnya kita punya salah, terus dihukum dengan terpeleset, untuk membersihkan diri. Silakan diteruskan dengan titik-titik yang lain, semau-maunya, sebanyak-banyaknya.

Dengan berevaluasi, sejatinya kita sedang belajar kepada diri sendiri. Belajar mengenal diri. Belajar dari kesalahan, belajar dari kebaikan, belajar dari dinamika diri kita. Efeknya diri kita menjadi luas. Sebab diri adalah semesta yang sangat luas untuk dijelajahi. Diri adalah semesta yang selalu siap sedia untuk membantu diri kita di dalam mengenali yang Sejati. Pintu masuknya ya peristiwa-peristiwa yang hadir menyapa diri kita.

Evaluasi pun tidak hanya soal menemukan kesalahan apa saja yang sudah dilakukan baik dengan sengaja atau tanpa sengaja. Tidak hanya soal apakah kesalahan yang sudah dilakukan merupakan kesalahan kecil ataupun kesalahan yang besar. Selain itu, dengan evaluasi, kita juga berusaha menemukan kebaikan apa saja yang sudah dikerjakan, bukan untuk dibangga-banggakan melainkan untuk dipertahankan, diperkuat lagi, ditingkatkan lagi di kemudian hari.

Keluasan berpikir dan keluasan hati niscaya akan terbentuk dengan sendirinya ketika terbiasa berevaluasi. Sementara kalau yang masih berlangsung dalam diri kita adalah menyalahkan peristiwa yang datang, menyalahkan orang lain, menunjuk-nunjuk yang diluar diri sebagai biang keladi segala sesuatu yang menimpa diri kita maka bukan evaluasi yang membikin luas diri yang sedang berlangsung melainkan evasempiti. Kesempitan demi kesempitan yang menghampiri, baik dari cara berpikir yang jadi dangkal maupun dari hati yang jadi gampang tersakiti.

Kalau sudah sempit. Adanya peristiwa menyenangkan hanya mengakibatkan lupa diri, mbungahi. Adanya peritiwa yang menyusahkan, buru-buru mencari sasaran kambing hitam, minimal menyalahkan keadaan. Kalau sudah sempit, gak usah ditanyalah. Jadi gampang marah, mudah diadu-domba, merasa paling benar sendiri, rentan galau dan penyakit sejenis lainnya. Jangankan menampung orang lain, karena saking sempitnya menampung dirinya sendiri saja kewalahan. Kalah dengan keinginannya, kalah dengan egonya, kalah dengan dirinya sendiri.

Dengan evaluasi yang dicari adalah seberapa efektif dan efisien diri kita di dalam mengambil pelajaran dari seluruh hal yang sudah dialami. Seberapa mampu kita dapat belajar dari pengalaman. Seberapa peningkatan spiritual kita dengan mengandalkan peristiwa demi peristiwa yang hadir dalam perjalanan hidup kita. Sejauhmana diri kita mau menyerap pesan peristiwa yang kebetulan mampir dan bertamu di muka kita. Dengan terus berevaluasi maka akan mengajarkan diri kita bahwa segala sesuatu yang menimpa diri kita, tidak lain penyebabnya ya diri kita sendiri. Sehingga kalau mau omong soal perbaikan ya dimulai dari diri sendiri.

Go to Top