Silaturahmi Jamaah Maiyah Yogya

in Sastra by

Pada Ahad, 7 Februari 2016, Rembug Macapat Syafaat (RMS) menggelar Silaturahmi Jamaah Maiyah Yogya di Rumah Maiyah Jl. Wates Km 2,5 Gg. Barokah 287 Kadipiro, Bantul, Yogyakarta. Acara tersebut merupakan ajang bertemu dan berkumpulnya Jamaah Maiyah Yogya. Memang, Jamaah Maiyah Yogya sudah saling bertemu dan berkumpul di Majelis Masyarakat Macapat Syafaat yang rutin digelar setiap tanggal 17 di TKIT Alhamdulillah Tamantirto, Kasihan, Bantul.

“Sekedar informasi saja bahwa akhir-akhir ini muncul simpul Maiyah di berbagai daerah. Saat ini tercatat ada 22 simpul Maiyah. Di berbagai daerah tersebut, Jamaah Maiyah sudah saling bertemu dan berkumpul. Sementara itu, Jamaah Maiyah Yogyakarta hanya bertemu pada acara Macapat Syafaat saja. Dan setelah acara selesai, jamaah pun pulang ke rumah masing-masing. Untuk itu, acara ini digelar agar jamaah bisa saling sambung rasa, bisa saling mengenal dan bersilaturahmi satu sama lain,” tutur Maulinni’am membuka acara.

Urgensi Berjamaah

Malam itu, Mas Harianto, Ketua Isim Maiyah Nusantara, juga turut hadir membersamai Jamaah Macapat Syafaat. “Silaturahmi Jamaah Macapat Syafaat menurut saya adalah salah satu kegiatan yang diadakan oleh Rembug Macapat Syafaat (RMS). Bukan sebuah organisasi baru. Sebaliknya, kegiatan ini menurut saya justru bisa menjadi forum pemadatan atau pendalaman dari Macapat Syafaat yang rutin digelar di Kasihan,” ujarnya.

Lebih lanjut ia juga melempar sebuah tema untuk didiskusikan bersama. “Menurut saya pada pertemuan awal ini, sebaiknya kita memahami apa hakikatnya jamaah? Kenapa ada sholat berjamaah dan munfarid? Apakah ketika kita berkumpul dan masing-masing sholat apakah sudah bisa disebut sholat berjamah? Ternyata belum bisa dikatakan berjamaah. Sebab, kalau kita pahami ciri utama sholat berjamaah itu ketika ada imamnya. Meskipun hanya terdiri dari dua orang saja,” tutur Mas Harianto mengawali diskusi malam itu.

Merespon tema tersebut, Mas Dhani mencoba melihatnya dari perspektif lain. “Pertama kali saya mengikuti Maiyah, Cak Nun pernah bilang: Maiyah itu bukan karya saya. Bahkan orang yang tidak kenal kata Maiyah, tidak pernah berkumpul seperti ini atau tidak kenal beliau, tapi perilakunya Maiyah, maka ia sudah bermaiyah. Maka,Maiyah adalah produknya Allah,” tuturnya.

Oleh karena Maiyah itu ciptaan Allah, ia menambahkan. Maka kita harus berakhlak seperti akhlaknya Allah SWT. Sebab, jika dirunut dari akar katanya, kata akhlak sangat berkaitan kata Kholik dan Mahluk. Memang belum pasti garisnya apa yang disebut berakhlak sebagaimana sang Kholik. Tapi menurut saya ciri yang pertama adalah Haqqun (benar). Sebab Allah bikin jagad ini dengan cara haqqun (benar). Kedua, la’ibun (main-main). Artinya, dalam berakhlak kita semestinya tidak bermain-main. Sebab, Allah SWT dalam menciptakan alam semesta ini tidak dengan main-main. Ketiga, bathil (tanpa hikmah). Maksudnya, dalam menjalani kehidupan ini semestinya kita mencari hikmah di balik kejadian sehari-hari. Sebab, Allah SWT menciptakan langit dan bumi dan apa yang diantara keduanya tanpa hikmah.

Silaturahmi Jamaah Macapat Syafaat malam itu dihadiri oleh 67 (enam puluh tujuh) orang dengan berbagai latar belakang pekerjaan dan daerah yang berbeda-beda. Malam itu, Jamaah Macapat Syafaat bersepakat untuk mengadakan kembali Silaturahmi Jamaah Macapat Syafaat setiap sebulan sekali untuk mendalami tema-tema yang dibahas dalam Majelis Masyarakat Maiyah Macapat Syafaat. Adapun undangan acara tersebut akan disebarkan melalui akun Facebook Mocopat Syafaat. (fa)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*